SABUROmedia, Ambon – DPD BKPRMI Pulau Ambon bersama Dompet Dhuafa, IKADI dan Educare sukses menggelar Safari Dakwah bertajuk ” Tabligh Akbar Perdaban Islan di Negeri Sakura ” di Masjid Darul Hasanah Desa Poka Kecamatan Teluk Ambon pada Kamis (24/09/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh dakwah, dimana satunya tokoh dakwah internasional yang selama ini berperan aktif dalam perkembangan Islam di Jepang.
Kedua narasumber tersebut adalah Ustaz Dr. Kyoichiro Sugimoto., PhD, seorang dai sekaligus pendidik Islam asal Jepang yang dikenal sebagai penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Jepang serta Ust. H. Imam Musonep., S.Ag., MH, pendakwah yag juga Ketua Wilayah Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Provinsi Maluku.
“ Kita kedatangan seorang tamu yang sangat spesial. Beliau adalah Dr. Kyoichiro Sugimoto, salah satu figur utama dakwah di Jepang. Beliau masuk Islam pada 1996 dan kini memimpin Chiba Islamic Cultural Center di Masjid Nishi Chiba. Mudah-mudahan saudara-saudara kita di Jepang terus diberi kekuatan oleh Allah untuk menyebarkan cahaya Islam di Negeri Sakura,” ujar La Januri, S.Sos, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku yang juga Ketua Bidang Pengelolaan ZISWAF & Tanggap Bencana DPW BKPRMI) Provinsi Maluku ini.
Ketua Umum DPD BKPRMI Pulau Ambon, La Arufin Manuru, mengatakan kegiatan ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat Maluku untuk mengenal lebih dekat perkembangan dakwah Islam di Jepang, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah lintas negara.
” Kehadiran Ustaz Dr. Kyoichiro Sugimoto dan Ustadz Dr. Ach Firman Wahyudi di Ambonmerupakan momentum berharga bagi masyarakat Maluku. Kita dapat mendengarkan langsung bagaimana geliat hidayah dan tantangan saudara-saudara Muslim kita bertahan serta berkembang di tengah masyarakat minoritas di Jepang. Ini bukan sekadar kajian biasa, melainkan sebuah panggilan kepedulian,” ujar Rufi
Selain menjadi ajang syiar Islam dan memperluas wawasan tentang perkembangan Islam di dunia, Safari Dakwah juga mengusung misi kemanusiaan. Seluruh infak dan wakaf yang dihimpun selama kegiatan akan disalurkan untuk pembangunan Masjid Al-Muttaqin Islamic Center di Matsudo, Chiba, Jepang.

Ustaz Dr. Kyoichiro Sugimoto mengawali kisahnya dengan mengenang masa kuliahnya pada 1996. Saat itu ia bersahabat dengan seorang mahasiswa Muslim asal Bangladesh yang kemudian mengundangnya berkunjung ke negaranya.
Ia mengaku terkejut. Bangladesh memang miskin secara materi, tetapi kaya akan kehangatan keluarga dan penghormatan kepada tamu.
“ Saya melihat orang-orang yang sangat baik, sangat ramah, dan ikatan keluarganya begitu kuat. Saya merasa, inilah kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia,” tuturnya.
Pengalaman itu justru membuatnya membandingkan kondisi sosial di Jepang. Ia menyinggung fenomena kodokushi atau lonely death—orang tua yang meninggal sendirian tanpa diketahui siapa pun selama berhari-hari.
Pertanyaan sederhana terus menghantuinya: Mengapa masyarakat Bangladesh yang miskin bisa begitu bahagia dan penuh kasih? Jawabannya ia temukan ketika mulai membaca Al-Qur’an terjemahan bahasa Jepang.
Selama hampir satu tahun Sugimoto membaca Al-Qur’an, mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Dari situlah ia menemukan dua konsep yang menurutnya mengubah seluruh pandangan hidupnya: tauhid dan akhirat.
“ Di Jepang orang berpikir hanya tentang dunia. Al-Qur’an mengajarkan bahwa dunia bukanlah akhir. Kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat. Itu benar-benar menjadi worldview baru bagi saya,” ujarnya.
Ia mengatakan Islam menawarkan konsep kebahagiaan yang utuh: sukses di dunia sekaligus di akhirat, dengan jalan yang sangat sederhana, yakni tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Setelah satu tahun belajar dan berdialog dengan sahabat-sahabat Muslimnya, Sugimoto mengucapkan syahadat pada 1997.
Turut hadir bersama Pengurus BKPRMI Maluku, BKPRMI Pulau Ambon, IKADI Maluku dan Jama’ah Masjid Darul Hasanah Poka (SM)
