Oleh :
Dr. M.J. Latuconsina., S.IP., MA

” Meskipun aku diam tenang bagai ikan, tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan.” Kata-kata ini merupakan bait puisi dari Jalaluddin Rumi (1207 – 1273). Ia seorang penyair sufi, dan teolog berkebangsaan Persia. Diksi tentang diam dalam bait puisi penyair kelahirkan Balkh tersebut relevan dengan narasi, yang merekam perjalan diam-diam, seorang presiden menemui rakyatnya.

SABUROmedia — Terlepas dari itu, dahulu meskipun sudah ada media massa seperti : surat kabar, televisi, dan radio, tapi tidak digunakan oleh para pejabat dengan jabatan tinggi di pemerintahan, untuk mempublis aktivitas mereka yang terkait dengan tugas-tugas mereka, untuk menjawab aspirasi publik saat mereka melakukan kunjungan menemui warga masyarakat.

Fakta demikian terekam dalam buku karya Mahpudi, dengan judul : “Incognito Pak Harto Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya,” yang diterbitkan Yayasan Harapan Kita, tahun 2013 lalu. Karya lawas jurnalis dua zaman ini merekam perjalanan rahasia Pak Harto Presiden kita, pada berbagai daerah penghasil pangan di daerah-daerah dekat maupun pelosok di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur di permulaan tahun 1970.

Perjalanan Pak Harto memang sengaja di rahasiakan. Ini berbeda dengan presiden-presiden setelahnya, tatkala media sosial (medsos) merambah tanah air, perjalanan mereka tidak bisa dirahasiakan lagi. Bahkan ada presiden setelahnya justu banyak menggunakan medsos, dimana tidak sekedar merekam perjalanan mereka dalam bentuk blusukan, tapi juga membranding mereka dihadapan publik sebagai bentuk dari pencitraan.

Buku ini mengisahkan perjalanan rahasia (incognito) Pak Harto pada tahun 1970-an. Perjalanan ini dilakukan tanpa pemberitahuan kepada pejabat daerah setempat, dan tanpa protokoler resmi agar beliau bisa melihat kondisi riil masyarakat tanpa filter birokrasi. Fokus utamanya dari perjalanan ini untuk mengecek langsung keberhasilan program pembangunan (seperti swasembada pangan), melihat realitas kemiskinan mikro, memeriksa proyek infrastruktur, serta mendengarkan langsung keluhan rakyat.

Pak Harto tidak saja mengecek berbagai masalah yang relevan dengan pangan di daeh-daerah yang ia kunjungi tersebut. Namun Pak Harto juga mengunjungi pesantren, para kiyai berserta para santri, memberikan ceramah kepada para santri, dan memprakarsai pembangunan sejumlah gedung pesantren. Begitu juga Ia mengungjungi warga masyarakat memberikan ceramah dan menyelenggarakan nonton bareng layar tancap.

Konten buku ini tidak saja diperkuat dengan narasi-narasi faktual dari para penulis, dan para narasumber di daerah-daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang pernah di kunjungi Pak Harto. Tapi konten buku ini juga di perkuat dengan dokumentasi lapangan tatkala Pak Harto melakukan kunjungan tersebut, berupa ratusan foto bersejarah yang bersumber dari koleksi pada Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Tidak kalah menarik dari konten buku ini yakni, menggambarkan rombongan kecil Pak Harto bergerak hanya menggunakan sedikit kendaraan (seperti Toyota Land Cruiser). Selama berhari-hari di jalanan, mereka tidak makan di restoran, melainkan membawa bekal sederhana dari Jakarta seperti sambal teri dan kering tempe buatan Ibu Tien, serta kerap menginap di rumah kepala desa atau rumah warga setempat.

Itulah legacy Pak Harto Presiden kedua kita, yang memang dikenal sederhana tidak suka memamerkan sesuatu yang berlebihan kepada warga masyarakat, tatakala ia melakukan perjalanan ke daerah-daerah. Padahal sebagai presiden ia memiliki kuasa, untuk menginstruksikan kepada para pejabat di daerah yang dikunjunginya guna menyambutnya dengan fasilitas yang mewah dan meriah.

Tapi itu tidak dilakukan Pak Harto, dimana ia lebih memilih perjalanan dengan diam-diam dan penuh kesederhanaan. Tentang kesederhaan Pak Harto tersebut, mengingatkan kita pada qoutes Napoleon Bonaparte (1769 – 1821, seorang jenderal dan negarawan Perancis bahwa, “kesederhanaan adalah dasar segala moral dan kebajikan utama manusia. Tanpa kesederhanaan, manusia tidak ada bedanya dengan binatang.” Dan itu sudah dilakukan Pak Harto, dimana tidak hanya dengan ucapan, tapi dengan tindakan yang rill.

*** Penulis adalah Staf Dosen Fisipol, Universitas Pattimura