Oleh :
Ismail Borut
SABUROmedia — Momentum Musyawarah Wilayah Ke VIII Pemuda Muhammadiyah Maluku diselengarakan 14-15 Juli 2025 di Ambon dengan tema ‘’Visi Pemuda Negarawan Untuk Maluku Berkemajuan’’ sebagai spirit meneguhkan diri pemuda negarawan yang berkemajuan. Pemuda negarawan adalah pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan, visi kebangsaan dan kemampuan berkontribusi dalam membangun bangsa. Pemuda sering dianggap sebagai agen perubahan dalam pembangunan, karena mereka memiliki semangat idealisme dan potensi yang besar dalam memajukan bangsa. Pemuda negarawan memiliki inovasi dan energi yang memajukan. Gagasan Maluku berkemajuan, tentunya tidak bisa dipisahkan dengan konsep Indonesia berkemajuan.
Sejarah Pemuda Muhammadiyah Maluku tidak dilupakan tokoh pergerakan dimasanya Raden Saparwi, Saleh Kastor, Mohammad Abu Kasim, Hamid bin Hamid serta tokoh pemuda negarawan lainnya yang turut berperan merahi impian memajukan dan mencerahkan Maluku. Para tokoh pemuda negarawan ini, kemudian melopori berdirinya Pemuda Muhammadiyah di Ambon tahun 1932 sebagai alat perjuangan dakwah yang mencerahkan dan memajukan.
Pergerakan kaum muda ini, yang kemudian menghilami lahirnya organisasi nasionalis politik lokal dan organisasi politik Islam di Ambon sebagai iktihar perjuangan dalam memajukan dan mencerahkan. Hamid bin Hamid, Mohammad Abu Kasim, Moh Amin Ely bersama U.E Pupella mencetuskan berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) tahun 1946 di Ambon sebagai partai politik lokal yang menjaga dan merawat kebangsaan kehutuan Indonesia di bumi Jazirah Al-Mulk. Hamid bin Hamid sebagai tokoh sentral pemuda Muhammadiyah saat itu menjadi sekertaris PIM bersama Mohammad Abu Kasim bendara PIM serta Mohammad Amin Ely anggota PIM di Ambon.
Pemuda negarawan ini juga terlibat dalam Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), yang kemudian mereka membangun sekolah-sekolah PERMI 1937 di Ambon dan pulau Seram yang berkontribusi mencerdaskan anak bangsa di Ambon Maluku saat itu. Oleh karena itu, para pemuda negarawan ini bukan saja terlibat dalam organisasi Islam Permi, tetapi di Majelis Islam Al’a Indonesia (MIAI) tahun 1938 dan Partai Muslimin Indonesia (Masyumi) yang di pimpin Hamid bin Hamid, sehingga mereka berijtihad sebagai pemuda kenegarawan dalam politik kebangsaan di Maluku menjadi Anggota DPRD Gotong Royong kota Ambon tahun 1955 dari Partai Masyumi, seperti KH Ali Fauzi, Hamid bin Hamid, Mohammad Amin Ely, Enjco Abdullah Borut Anggota DPRD Gotong Royong Maluku Tenggara, ia juga sebagai anggota Dewan Pemerintah Daerah Sementara bersama T. Chaniago dalam menjalankan tugas pemerintahan tahun 1953.
Ada juga Abdullah Soulissa pencetus berdirinya Kabupaten Maluku Tenggara tahun 1952 dan Bupati Maluku Tengah tahun 1955. Bahkan Hamid bin Hamid sebagai salah tokoh Pemuda Muhammadiyah pendirian Universitas Pattimura Ambon saat itu. Ada juga M Lestaluhu tokoh Hmpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon pada zamannya serta menjadi anggota Muhammadiyah Ambon 1958 kemudian hari menjadi Rektor di salah satu perguruan tinggi ternama di Ambon ini, yakni Unppati.
Para tokoh pemuda kenegarawan ini, buka saja sebagai tokoh agamawan, tetapi mereka adalah tokoh Islam nasionalis di Ambon bersama kompenen anak muda lainnya yang berperan dalam mencerahkan Maluku. Karena itu, mereka tidak hanya berpertasi secara individual, tetapi berkontribusi bagi masyarakat dan negara, serta memiliki visi besar untuk memajukan Maluku.
Ijtihad kebangsaan, Pemuda Muhammadiyah di Ambon suda memasuki 95 tahun sejak tahun 1932, dikatakan memasuki 1 Abad dalam pergerakannya di Maluku. Karena itu, pemuda Muhammadiyah menciri khaskan dirinya sebagai pemuda negarawan moderat, menjaga keutuhan kebangsaan, kedamaian dan toleransi umat beragama yang memajukan masyarakat Maluku. Jadikan Maluku sebagai rumah pusaka bersama, sebagai labotarium perdamaian umat beragama di Indonesia, memajukan dan mencerahkan negeri Jazirah Al-Mulk ini.
Ekspedisi kebangsaan, mengembirakan keberagaman bersama komunitas Maluku Vespa bersatu di Ambon tahun 2017 yang dipimpin Dhanil Azhar Simanjutak mantan ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dipusat gong perdamaian dunia Ambon, pemuda negarawan ini dengan pemerintah kota Ambon, mengkapanyekan Ambon sebagai labotarium perdamaian, toleransi umat beragama di Indonesia. Karena itu, Ekspedisi kebangsaan, mengembirakan keberagaman ini, Dhanil Azhar Simanjutak dengan Pemuda Muhammadiyah Maluku kunjugan lintas agama ke Sinode Gereja Prosestan Maluku, Katedral Katolik uskup diosis Amboina, Mesjid Alfatah Ambon dengan komunitas komunitas vespa Ambon.
Karena itu, Pemuda Muhammadiyah muncul di depan publik sebagai aktor komunikasi, pembawa pesan moral yang mencerahkan, cinta damai dan cintah kasih sesama. Pemuda negarawan Muhammadiyah terpatri nilai Islam yang mencerahkan, sehingga gerakan iman dan ilmu menjadi ciri khas Pemuda Muhammadiyah dalam gerakan kebangsaan, tidak hanya dengan semangat kebangsaan, tetapi dilandasi dengan iman dan ilmu yang mencerahkan dibumi Jazirah Al-Mulk ini. Ijtihad intelektual muda Muhammadiyah terukur gagasannya sepajang perjalanannya di Maluku 1932 dalam mewarnai narasi-narasi diruang publik dalam pemikiran pembaruan yang berkemajuan.
Kemajuan, dalam kebangsaan yang dilontarkan Muhammadiyah, mengintegrasikan nilai keislaman dan keindonesiaan yang terus mencerdaskan dan memajukan serta mengembangkan moral politik Islam yang berwawasan ditengah pertarungan ideologi
*** Penulis adalah Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Kota Ambon Periode 2018- 2022