SABUROmedia, SBB — Ada enam program prioritas   yang dijalankan untuk pengembangan Dinas Kelautan dan Perikanan SBB dan pemberdayaan serta  meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan para Nelayan.

 

Keenam Program tersebut yakni: Pembenahan dan  pemanfaatan aset Dinas Kelautan dan Perikanan yang telah dibangun oleh Pemda SBB, Prioritas pencapaian target  Pendapatan Asli Daerah ( PAD), Pembinaan terhadap kelompok Nelayan dan Pembudidaya termasuk Pembudidaya rumput laut, Memfasilitasi Nelayan untuk mendapatkan Kartu Kusuka, Melakukan komunikasi dengan Anggota DPRD supaya Pokirnya dialihkan ke sektor Perikanan dan  Melakukan pemantauan harga ikan di pasaran Kabupaten SBB.

 

Menurut Kadis Kelautan dan Perikanan SBB, Moksen Pellu., S.Pi  yang ditemui dikantornya, Dinas Kelautan dan Perikanan SBB,Kompleks Air Salobar, Kota Piru, Kamis, (4/5/2023), salah satu pembenahan dan pemanfaatan aset- aset DKP SBB adalah, pemanfaatan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Dusun Waiyoho, Desa Kawa, Kecamatan Seram Barat.

 

Pasalnya, ditempat tersebut ada  juga pabrik es dan coldstorage, dimana sudah belasan tahun tempat tersebut tidak dimanfaatkan, untuk itu DKP SBB menyerahkan pengelolaannya kepada pihak ketiga.

 

Untuk prioritas pencapaian target PAD, Pellu mengungkapkan,  untuk tahun – tahun sebelumnya tidak ada target sama sekali, tetapi di Tahun 2023, pihaknya mulai menargetkan dari sektor perikanan terutama dari jasa pelelangan ikan  yakni PAD sebesar Rp.100 juta, dimana dari target tersebut dari bulan Januari hingga saat ini telah mencapai target 30%.

 

Terkait program Pembinaan terhadap kelompok Nelayan tangkap dan Kelompok  Pembudidaya,  saat ini yang lagi tren adalah pembudidayaan  rumput laut yang tersebar di beberapa lokasi di Kabupaten SBB, yakni: Dusun  Wael, Pulau Osi, Air pessy, Taman Jaya, Masika Jaya, Alang Asaude, Nurue dan beberapa titik di Kecamatan Kepulauan Manipa.

 

Dalam melakukan pembudidayaan rumput laut itu, ada Para Nelayan  terkadang melakukan kerja sama dengan pihak ketiga, dimana para Nelayan difasilitasi sarana dan prasarana untuk melakukan proses budidaya setelah itu setelah dipanen, para Nelayan akan menjual hasil panennya kepada pihak ketiga tersebut.

 

Kadis Kelautan dan Perikanan SBB ini menjabarkan, untuk Program memfasilitasi para Nelayan untuk mendapatkan kartu Kusuka, yang merupakan Kartu Identitas Nelayan saat ini sebanyak 10 ribu Nelayan di SBB telah memperoleh kartu tersebut, jumlah terbanyak jika dibandingkan dengan 11 Kabupaten/ Kota di Maluku.

 

Pellu menambahkan, untuk komunikasi dengan Anggota DPRD agar Pokok – Pokok Pikirannya dialihkan untuk sektor perikanan, adalah dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan taraf hidup Nelayan,

 

” Jadi bantuan- bantuan seperti Coolboks dan mesin itu, Beta upayakan supaya Nelayan dapat menerimanya, ” cetus Pellu.

 

Disingung apakah pemantauan harga ikan di Kabupaten SBB adalah cara untuk mengatasi inflasi, Pellu menjelaskan disamping atasi inflasi juga pihaknya perlu mengetahui stok ikan yang beredar di Masyarakat.

 

Untuk itu, ada 3 titik pemantauan yakni di Pasar Luhu( Kecamatan Huamual), Pasar ikan Piru ( Kecamatan Seram Barat ) dan Pasar Gemba ( Kecamatan Kairatu).

 

Pellu menjabarkan, selama pantauan pihaknya dari bulan Januari hingga saat ini, kenaikan harga ikan hanya terjadi pada saat Bulan Puasa dan memasuki Lebaran, dimana harga yang terpantau naik di kisaran harga 20- 25 ribu perkilo, tetapi disaat ini karena supplai ikan dari para nelayan mulai membaik sehingga harga mulai normal kembali. (SM-NKSBB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *