SABUROmedia, SBB — Momen Hari Raya Idhul Fitri yang merupakan momen memaafkan antar umat muslim   dan umat beragama  lainnya,  yang jangka waktunya terbatas yakni dua hari. Kemudian  dilanjutkan lagi dengan kegiatan serimonial keagamaan lainnya dengan level yang lebih tinggi yaitu Halal BI Halal.

 

Menurut Ustad Arifin Wally., S .Si, level Halal BI Halal levelnya diatas, karena setelah momen maaf – memaafkan dalam Idul Fitri,  dilanjutkan Halal menghalalkan, sehingga lewat kegiatan Halal BI Halal Kita mampu untuk menghalalkan satu sama lain.

 

” Lebaran itu, kan momen  memaafkan,   tetapi saat teman – teman kita baik kristen, Katholik, Hindu Budha itu tidak dapat terangkum semua, karena keterbatasan waktu, maka Halal Bi Halal itu menjadi momentum untuk keluarga, teman dan kenalan yang tidak ada perbedaan  agama,  suku dan  bangsa itu bisa berkumpul sehingga terjadilah proses memafakan meminta maaf itu bisa terlaksana ” tandas Wally.

 

Kegiatan Halal BI Halal yang digelar SMP Negeri 1 Seram Barat, Jalan Pendidikan, Dusun Tanopol, Kota Piru, pada Jumat, (26/5/2023).mengusung tema, Harmony dalam Perbedaaan hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala sekolah SMP Negeri 1 Seram Barat, Roy Lethulur., S.Pd, Pembawa Tausiah, Ustad, Arifin Wally S.Si, Staf Dewan Guru dan Para Siswa.

 

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Seram Barat, Roy Lethulur saat ditemui diruang kerjanya, oleh sejumlah awak media usai kegiatan Halal Bi Halal tersebut menyatakan, Halal BI Halal yang diselenggarakan di sekolahnya adalah program kerja OSIS  yakni perayaan hari – hari besar keagamaan.

 

Menurut Lethulur, acara Halal BI Halal yang digelar disekolanya itu, mengusung tema Harmony dalam Perbedaan , karena disekolah itu ada beberapa agama yang dominan yaitu Islam, Kristen Katholik dan Kristen Protestan  sehingga dipilih tema Harmoni didalam Perbedaan supaya perbedaan didalam lingkungan sekolah bulan jadi jurang pemisah tetapi sebuah kekuatan.

 

Kepala sekolah yang mulai menjabat sebagai Kepsek di SMP Negeri 1 Seram Barat sejak bulan Februari Tahun 2022 ini mengisahkan,sebelumnya  pada saat pembentukan ruang -ruang belajar itu, Siswa Muslim dikumpukan didalam satu kelas, maksudnya supaya mempermudah Guru Agama ketika mau mengajarkan mata pelajaran agama.

 

Tetapi kemudian, ada dampak – dampak negatif yang terjadi, dimana karena tidak terjadi pembauran maka terjadi saling mengejek antar siswa dan saling membuly karena pemisahan itu.

 

Setelah melihat dampak negatif itu, , Maka kemudian diambil kebijakan pembauran di kelas dimana pada setiap kelas ada siswa Muslim, Kristen Katholik dan Kristen Protestan.

Selain dampak tersebut , juga kebijakan Pembauran yang dilakukan ditiap kelas  dilakukan karena, ada Permintaan dari orang tua siswa yang beragama Muslim yang meminta supaya siswa jangan dipisah-pisahkan.

 

Menurut Kepsek yang mengantikan Pak Wuritimur itu, kebijakan pembauran tersebut bukan saja  terjadi pada siswa tetapi juga pada Guru yang mengajar,bahkan pembauran tersebut bukan hanya pada segi agama saja tetapi juga pada strata sosial.

 

” Kami melihat lebih luas lagi bahwa  perbedaan itu semestinya tidak harus dipersoalkan, karena perbedaan itu adalah hal yang alami, sehingga tidak boleh dijadikan bahan ejekan atau olok – olok. Tetapi harapan Kami adalah perbedaan itu harus dijadikan hal yang positif dan membawa nilai- nilai yang baik ” jabar Lethulur.

 

Sementara Ustad Arifin Wally menyatakan apresiasinya,  kepada kepala sekolah SMP Negeri 1 Seram Barat, bersama Dewan Guru dan Pengurus OSIS yang telah menyelenggarakan Halal BI Halal dengan tema Hormony dalam Perbedaan, dimana tema tersebut bersinergi dengan Kementrian Agama Kabupaten SBB yang sedang gencar – gencarnya mengkampanyekan Toleransi Antar Umat Beragama. (SM-NKSBBB)