Oleh :

Elifas Tomix Maspaitella (Eltom)

Pastori Ketua Sinode GPM, Jln Kapitang Telukabessy-Ambon

 

SABUROmedia — “Su angka mar ale dong seng biking toh, maka beta yang biking” (=sudah diangkat/dipercayakan untuk suatu tugas tetapi anda tidak melakukan apa yang seharusnya, maka saya yang akan melakukannya langsung). Ini semacam “rasa manyasal” (=penyesalan) dari seseorang pemimpin yang “su angka orang par tulung karja, mar dong tar karja apapa satu yang bae lai” (=sudah mempercayakan orang untuk membantunya bekerja, tetapi mereka tidak melakukan satu hal pun yang baik).

“Rasa manyasal nih akang timbol tagal orang banya susah mar dong sanang sa” (=penyesalan ini muncul karena banyak orang susah tetapi mereka yang dipercayakan itu tetap senang/santai saja). “Padahal dong dapa angka par barubah luka yang su ada dari dolo-dolo” (=padahal mereka diangkat untuk mengobati luka yang sudah terjadi sejak dahulu), “mar dong tar karja apapa satu yang bae lai” (=tetapi mereka tidak melakukan suatu apa pun yang baik). “Jadi, sudah jua, nanti beta yang biking/turung tangang langsung” (=jadi sudahlah, nanti saya yang melakukannya/turun tangan secara langsung).

Cara “beta biking” (=saya yang melakukan) itu antara lain:

Satu: “ganti dong sa la angka orang baru” (=menggantikan mereka dengan mengangkat orang yang baru), “tagal parcuma sa angka orang yang tar pung hati par orang banya” (=tidak ada gunanya mengangkat orang yang tidak punya hati/peduli kepada orang banyak). “Kalu cuma biking par diri sandiri, loko toro jua” (=jika hanya bekerja untuk diri sendiri, sebaiknya mundur).

Dua: “kumpul samua” (=mengumpulkan semua orang), “tagal mangkali dong su tacere satu deng laeng tagal tar ada yang kumpul dong babae” (=karena mungkin mereka sudah terpisah satu dengan lainnya karena tidak ada yang merangkul mereka dengan baik).

Tiga: “barubah luka-luka lama yang sapa tau mangkali su boba lai” (=mengobati luka lama yang mungkin sudah sangat parah), “jang sampe ada yang hati su tawar/badugal lai” (=jangan sampai ada yang sudah tawar atau terluka hatinya). “Ini musti barubah deng panggel la polo_ (=ini harus diobati dengan jalan memanggil dan merangkul/memeluk).

Ampa: “unju jalang baru par bajalang sama-sama” (=menunjuk jalan baru dan berjalan bersama), supaya “laeng parcaya laeng, laeng sayang laeng, laeng kas kuat laeng, par hala hahalang sama-sama” (=supaya saling percaya, menyayangi, menguatkan, untuk memikul tanggungjawab secara bersama-sama).

“Jang lupa, par biking bae tuh, ada orang jua yang tar suka” (=jangan lupa, untuk melakukan hal yang baik ada pula orang yang tidak suka), “mar biking sa, sapa suruh dolo dong tar biking akang” (=tetapi tetaplah berbuat baik, siapa suruh dahulu mereka tidak melakukannya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *