Oleh :

Elifas Tomix Maspaitella (Eltom)
Pastori Ketua MJ Rumahkay, Amakele Lorimalahitu

 

SABUROmedia — ” Kalu ada lia apapa yang tar batul, bilang sa” (=jika anda melihat ada sesuatu yang tidak benar/ tidak baik, katakanlah). “Apalai kalu lia orang hidop salah-salah, bilang sa” (=apalagi jika melihat ada orang yang hidupnya tidak teratur, katakanlah).

“Bilang sa” dapat dipahami sebagai semacam “kas’ inga” (=mengingatkan) atau “tagor” (=menegur) yang tujuannya “kas’ bale” (=membalikkan/membimbing untuk kembali) atau “jaga” (=menjaga) supaya “hidop lurus-lurus sa” (=hidup lurus) “iko akang pung jalang” (=mengikuti jalannya).

Suasana kebathinan “bilang sa” dalam arti “kas’ inga” lebih condong dilakukan oleh “yang hubungan baku jao” (=orang yang hubungannya agak jauh), jadi “seng talalu kanal bae” (=tidak terlampau saling mengenal) atau “seng biasa” (=kurang biasa). Jadi “mau bilang jua taku-taku jang sampe dong kas’ bale kata ka seng tarima” (=jadi mau mengatakan (hal sebenarnya) tetapi takut jangan-jangan mereka tidak terima), “mar musti bilang sa, kas’ inga, tagal kalu seng dia yang calaka la skang orang bilang katong kas tinggal” (=tetapi harus dikatakan, diingatkan, karena jika tidak dan orang itu mengalami musibah orang akang beranggapan kita membiarkannya terjadi). Jadi suasana kebathinannya ialah “katong sayang tagal itu katong kas’ inga par se pung bae” (=kami sayang karena itu kami mengingatkan untuk kebaikanmu).

Sedangkan suasana kebathinan dalam hal “tagor” adalah antara “orang-orang dekat” (=antara orang yang memiliki hubungan dekat), jadi dalam “tagor” itu bisa saja:

Satu, “tagorang” (=teguran keras), karena “tar boleh biking hal yang tar batul” (=tidak boleh melakukan hal yang tidak benar). Kadang “tagorang” disertai dengan “hokmat”(=suara yang tegas/wibawa/perintah langsung) dan “musti turut” (=harus dituruti). Bila itu dilakukan “orangtotua par anana” (=orang tua terhadap anak) artinya “anana nih kalakuang su par talalu lai” (=kelakuan anak itu sudah sangat berlebihan), jadi “musti dapa tagorang” (=harus ditegur dengan keras), “lebe lai loko cawani sa” (=jika berlebihan, dapat saja dirotani). “Mar pukul sebagai ana bukang musuh” (=tetapi pukullah sebagai anak, bukan musuh). “Pukul la buju” (=pukul dan bujuk/hiburkan). “Musti tagor tempo, jang kas tinggal la kalakuang mawali, ero su stengah mati” (=harus ditegur lebih awal karena jika tidak perilakunya sudah sulit dibentuk dan sulit untuk dikembalikan).

Dua, “parenta” (=memerintahkan). Ini artinya “bilang sa” itu bukan sekedar suatu nasehat “mar prentah” (=perintah). Jadi “jang coba-coba malawang ka biking kapala batu biji ruku” (=jangan mencoba untuk melawan atau keras kepala tidak mau menurutinya), “itu seng pake lama lai, se dapa deng kayu pilang” (=tidak ditunda lagi, anda bisa dipukuli). “Bilang sa” dalam arti ini terjadi pada anak/orang yang “macang kabal dapa kas’ bicara” (=sudah kebal dengan nasehat) atau tagor sang suru” (=tegur berulang kali tetapi tidak menurutinya). Jadi perlu semacam kuasa untuk membentuknya. Jadi biasa “kas’ los/mangado dia par papa/bapa raja/tuang pandita/imam/tuang guru/nyora guru/bapa tua” (=serahkan dia kepada papa/raja/pendeta/imam/bapak dan ibu guru/om). Memang pada intinya, “dong kas’ bicara” (=mereka menasehati) “tagal dong kas’ bicara dia dengar” (=karena jika mereka yang menasehati, dia akan mendengarnya). Ini yang dimaksud dengan perlunya semacam kuasa untuk “bilang” (=mengatakan hal yang baik kepada orang yang keras kepala).

“Samua tuh par ale pung bae” (=semua itu demi kebaikan anda).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *