SABUROmedia, SBB : – Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) didesak menggantikan Sekretaris Daerah (Sekda) Mansur Tuharea, karena dinilai sudah tidak produktif dan sudah kadaluarsa.

Desakan ini berasal dari tokoh muda Kabupaten SBB, Abuhari Boeng. kepada saburomedia.com, Minggu/02/05/2021, menurutnya Sekda Kabupaten SBB tersebut sudah menjabat melebihi batas masa jabatan dan sudah tidak produktif.

“Mengamati proses penyelenggaraan birokrasi Pemerintah Daerah Kabupaten SBB, sudah saatnya Bupati segera mengganti Sekda SBB, karena sudah kadaluarsa atau sudah melebihi batas masa jabatan. Lagi pula, dia (Sekda) sudah tidak produktif. Pasti tidak akan mengimbangi gerakan Bupati.”jelas Boeng

Sekda Kabupaten SBB terhitung menjabat sejak tahun 2008 pada masa pemerintahan Bupati J. Puttileihalat. Saat ini sudah terhitung 14 tahun, Mansur Tuharea menjabat sebagai Sekda Kabupaten SBB.

Menurut Abuhari, kalau jabatan Sekda terus  dipertahankan, maka hal tersebut bisa jadi temuan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten SBB, karena sudah menyalahi Undang-Undang.

“Kalau Bupati tidak segera mengganti Sekda, maka bisa menjadi temuan bagi Pemda SBB. Itu kan sudah menyalahi undang-undang. Jadi, beta (saya) mendesak Bupati Kabupaten SBB, agar segera mengganti Sekda SBB secepatnya.”jelas Abuhari.

Dikatakannya Abuhari, selain jabatan Sekda Tuharea juga bertindak sebagai Ketua Tim Keuangan Daerah dimana pembangunan berjalan lambat bila dipegang oleh orang yang sudah tidak lagi produktif.

“Dia (Sekda) kan selain menjabat sebagai Sekda juga bertindak sebagai Ketua Tim Keuangan Daerah. Ini bahaya. Pembangunan bisa berjalan lambat bila orangnya sudah tidak produktif dan kadaluarsa.”tegas Abuhari.

Sementara itu, menurut Alumni Universitas Darussalam Ambon ini, perputaran uang di masyarakat menjadi tersendat akibat kelambanan Tuharea mengelolah keuangan daerah.

“Bayangkan, sudah masuk bulan Mei, bulan kelima tahun ini, APBD belum selesai dilakukan Recofushing. Sudah pertengahan bulan Puasa hingga mau lebaran, tapi perputaran uang di masyarakat jadi lambat. Ada apa ini? Kenapa anggaran ditahan-tahan? Kasihan masyarakat. Ini suara hati kami, agar bisa didengar oleh Bupati Kabupaten SBB, Bapak M. Yasin Payapo. Ini tidak boleh dibiarkan Pak. Ini suara hati kami, rakyat SBB.”tutupnya.(*SM-Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *