Oleh :
Ismail Borut
SABUROmedia — Masjid Al-Mukaramah Banda Ely bukan sekadar tempat bersujud, melainkan sebuah mahakarya arsitektur Islam masyarakat Wandan yang diresmikan Bupati Maluku Tenggara Muhammad Taher Hanubun pada 7 November 2026 sebagai babak baru dalam memperkokoh indentitas kultural masyarakat Wandan sebagai komunitas diaspora yang senantiasa menjaga api peradaban Islam yang menyala dan relevan ditengah dinamika masyarakat Maluku.
Rumah ibadah megah senilai Rp11,05 miliar ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol keagungan peradaban Islam yang mengakar kuat sejak hijrahnya masyarakat Wandan di kepulauan Kei pada abad ke-17. Bangunan Masjid yang megah ini menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat Wandan merawat memori kolektif dalam melestarikan nilai-nilai luhur keislaman, Masjid Al-Mukaramah Banda Ely dalam melintasi zaman di Maluku.
Momen peresmian masjid Al-Mukaramah Banda Ely ini di hadiri tokoh agama dan tokoh masyarakat Maluku Tenggara serta Kota Tual, membawa pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar seremonial. Kehadiran mereka menegaskan kembali komitmen persatuan yang mengikat erat hidup orang basudara dikepulauan Kei. Pada akhirnya, Masjid Al-Mukaramah Banda Ely bukan hanya milik masyarakat Wandan, melainkan sebuah rumah bersama yang memancarkan energi perdamaian, spiritualitas, dan harmoni bagi seluruh masyarakat Maluku.
Mesjid Al-Mukaramah Banda Ely bukan sekedar tempat ibadah ritual, melainkan monument hidup bertahanya peradaban Islam Wandan. Uniknya peradaban Islam yang terletak pada potret masyarakat Wandan yang hidup dalam dualitas yang indah terhadap syariat Islam tanpa sedikit pun meninggalkan hukum adat. Karena itu, Mesjid Al-Mukaramah Banda Ely bertindak sebagai ruang dialetika dimana Islam dan kultur lokal bertemu secara harmonis.
Hal ini sejalan dengan pandangan Antropologi Barat Clifford Geertz bahwa agama dan kebudayaan tidak saling meniadakan, melainkan saling berdialog dan memperkaya. Di sisi lain, pemikiran Islam Abdurrahman Wahid pentingnya kontekstualisasi Islam menegaskan bahwa agama akan terasa hidup ketika ia mampu menyatu secara selaras dengan norma adat dan jati diri masyarakat setempat.
Karena itu, momentum peresmian Masjid Agung Al-Mukaramah Banda Ely menjadi jembatan emosional yang mempertemukan kembali nilai-nilai kultural masyarakat Wandan dengan Ohoi Danar melalui rajutan historis hubungan Pela. Hubungan persaudaraan sejati Pela ini ditegaskan Bupati Maluku Tenggara M. Taher Hanubun dalam sambutannya di ‘’Wama Tukamun Kaikoli’’perantaran Mesjid Al-Mukaramah Banda Ely, Bupati Maluku Tenggara yang berasal dari Ohoi Danar. Walikota Tual Akhmad Yani Renuat dalam sambutan menyatakan kedekatan emosional serta keterikatan sejarah yang mendalam antara masyarakat Wandan dengan masyarakat Dullah. Ikatan tersebut telah mengakar kuat sejak awal mula diaspora masyarakat Wandan menapakkan kaki dikepulauan Kei sebagai memori kolektif yang abadi lintas generasi.
Memijam bahasa sosiologi Barat Robert K. Merton, menyatakan sebuah lembaga sruktur sosial dalam hal ini masjid memiliki fungsi manifestasi religius dalam memenuhi teologis ritual umat Islam, tetapi Robert K. Merton menyatakan fungsi kultural dan geopolitik dimana masjid bertindak sebagai episentrum integrasi sosial yang menyatukan budaya dan historis. Berbijak pada teori tersebut, Peresmian Masjid Al-Mukaramah Banda Ely mempertemukan nilai kultural budaya yang diungkapkan dua sentral tokoh adat Danar dan Dullah ini di Wama Tukamun Kaikoli Masjid Al-Mukaramah Banda Ely bukan sekedar seremonial, melainkan sebuah momentum penguatan kohesi sosial sekaligus penegasan kembali nilai legitimasi adat dan budaya lintas masyarakat dikepulauan Kei.
Karena itu, pertunjukan tradisi Sawat dan tarian Ohoi Watlar hadir sebagai simbol peradaban sekaligus bahasa perdamaian yang melampaui sekat-sekat teologis. Momentum peresmian Masjid Al-Mukaramah Banda Ely menjadi ruang perjumpaan sakral, di mana masyarakat Ohoi Watlar yang beragama Kristen berdampingan erat dengan masyarakat Banda Ely yang beragama Islam. Melalui harmoni gerak tradisi tersebut, mereka menegaskan kembali hakikat persaudaraan, perdamaian, dan kerukunan lintas iman dalam satu ikatan kultural yang utuh sebagai masyarakat Maur Ohoiwut di Maluku Tenggara. Memijam bahasa pemikir Islam Fethullah Gulen seorang cendekiawan Muslim Turki, Islam agama cinta kasih, kasih sayang dan kedamaian. Cinta yang tumbuh di hati manusia dianggap sebagai modal utama untuk membangun kedamaian yang menjadi keharmonisan sosial lintas budaya dan agama.
Dalam bentang sejarah Islam, masjid tidak pernah didesain sebagai menara gading yang berdiri sunyi dan terisolasi dari realitas sosial. Ia bukan sekadar ruang transendental untuk menjauh dari bisingnya dunia, melainkan sebuah episentrum dinamis yang mempertemukan spiritualitas, intelektualitas, dan kemanusiaan. Sejak memori kolektif umat Islam mencatat bagaimana Nabi Muhammad SAW mendirikan Masjid Nabawi, institusi ini telah menjelma sebagai laboratorium peradaban.
Disanalah ilmu pengetahuan disemai, keadilan sosial ditegakkan, dan piagam-piagam perdamaian yang visioner dirumuskan Masjid harus merebut kembali perannya dari sekadar tempat ritus formal menjadi poros peradaban yang inklusif, pusat pendidikan universal yang mencerahkan, serta jangkar perdamaian yang kokoh bagi masyarakat. Menghidupkan kembali ruh ini adalah kunci untuk menjawab tantangan zaman dan merawat harmoni kemanusiaan.
*** Penulis adalah Akademisi UM Maluku dan Aktivis BKPRMI Maluku
