SABUROmedia, Ambon — Pendekatan partisipatif menjadi landasan utama program ini. Berbagai pihak, mulai dari komunitas, bank sampah, kelompok perempuan, kelompok pemuda, sekolah, organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah akan dilibatkan secara aktif sejak tahap identifikasi masalah, perencanaan, hingga pelaksanaan solusi.
Kota Ambon kembali mendapat kepercayaan sebagai lokasi pelaksanaan program kolaborasi internasional antara Indonesia dan Australia.
Kolaborasi internasional ini dalam upaya memperkuat pengelolaan sampah plastik serta mendorong transisi energi berkeadilan berbasis masyarakat.
Program yang akan berjalan hingga tahun 2027 itu, mendapat dukungan dari KONEKSI melalui kemitraan Kemendiktisaintek, LPDP serta Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.
Kepala Dinas LHP Kota Ambon, Apries Gaspersz, Selasa (16/06/2026) menjelaskan, Pemkot Ambon menyambut baik pelaksanaan program tersebut karena sejalan dengan agenda pembangunan kota yang bersih, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.
Pendekatan partisipatif menjadi landasan utama program ini.
Berbagai pihak, mulai dari komunitas, bank sampah, kelompok perempuan, kelompok pemuda, sekolah, organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah akan dilibatkan secara aktif sejak tahap identifikasi masalah, perencanaan, hingga pelaksanaan solusi.
Salah satu inovasi yang akan dikembangkan adalah teknologi pirolisis skala lokal yang mampu mengolah sampah plastik menjadi energi dan produk bernilai guna. Teknologi tersebut dirancang agar sesuai dengan kapasitas teknis dan ketersediaan sumber daya di Ambon sehingga dapat diterapkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat maupun lembaga lokal.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Indonesia, Yustina Trihoni Nalesti Dewi menegaskan, program tersebut tidak datang membawa solusi instan maupun bantuan yang bersifat karitatif.
“ Program ini berangkat dari keyakinan, bahwa masyarakat Ambon telah memiliki pengetahuan, pengalaman, jaringan sosial, dan berbagai prakarsa yang selama ini menjadi kekuatan utama dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Kami hadir untuk belajar, bekerja sama, dan mengembangkan solusi bersama berdasarkan potensi yang telah dimiliki masyarakat sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat akan ditempatkan sebagai mitra utama dalam seluruh tahapan program, mulai dari pengenalan masalah hingga penyusunan dan pengembangan solusi. Berbagai unsur masyarakat, mulai dari komunitas, bank sampah, kelompok perempuan, kelompok pemuda, sekolah, pemerintah daerah hingga organisasi masyarakat sipil akan dilibatkan secara aktif.
Program yang bertajuk Memajukan Transisi Energi yang Berkeadilan dan Berkeadilan di Ambon melalui Inovasi Sampah Berbasis Komunitas dan Pendidikan Inklusif ini, digagas oleh Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) bersama Macquarie University Australia, Pemerintah Kota Ambon, Politeknik Negeri Ambon dan Institut Tifa Damai Maluku. (SM)