SABUROmedia, Buru — Pengusaha muda berdarah Batak, Armin Ali Moktar Harahap menyatakan akan maju sebagai Wakil Bupati Buru pada Pilkada serentak di Bulan November 2024 nanti.

 

Hal ini disampaikannya melalui rilis ke SM, dimana beliau berharap bisa mendampingi Ketua DPW PPP Provinsi Maluku Abdul Azis Hentihu nantinya. Sebagai bentuk keseriusannya, dia juga telah mendaftarkan diri di DPC PPP Kabupaten Buru, pada Sabtu sore (25/05/2024) bersama beberapa tokoh adat dari Sor Pa, Petuanan Kaiely.

 

Selain warga adat dari Soar Pa, Armin juga ditemani beberapa tokoh Bupolo dari etnis Bugis, Jawa, Sula dan Buton.

 

” Saya datang untuk mempersatukan masyarakat  Bupolo,” Umbar Armin.

 

“ Saya sangat berterima kasih karena telah diberi ruang untuk mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Bupati Buru agar dapat berpasangan dengan Abdul Aziz Hentihu, “ Ucapnya di hadapan Pengurus DPC PPP Kab Buru.

 

Sekali lagi dengan nada meletup – letup dia tegaskan, Aziz dan dirinya (AHH – AAMH / Politisi – Pengusaha) nantinya akan menang mudah di Pilkada Buru, tegasnya.

 

” Kita menang satu putaran,” ujarnya berulang kali dan di amini Masyarakat yang memadati Sekretariat DPC PPP.

 

Armin yang berdarah Batak ini sudah lama menetap di Buru dan beristri Putri Bupolo. Sejak sekian tahun lampau, ia sudah bergaul akrab dengan Masyarakat adat Buru di Soar Pito dan Soar Pa  Dataran Rendah dan Dataran Tinggi, Petuanan Kaiely.

 

Bahkan, Armin juga telah diangkat menjadi Putera kedua dari empat bersaudara di mata rumah Nurlatu di Kampung Ukalahin, Kecamatan Waeapo pada waktu itu.

 

Rahim Nurlatu, sang ponakan  bercerita, kalau Armin telah lama berbaur dengan warga di Ukalahin yang saat itu  perkampungannya tergolong terbelakang. Karena tidak ada jalan dan penerangan listrik.

 

Rumah warga juga berlantai tanah, berdinding kulit kayu dan beratap daun sagu. Makanan sehari – hari Masyarakat di saat itu hanya pisang rebus, karena mereka sulit mendapatkan beras.

 

Cerita Rahim, semasa kakeknya Manaporong Nurlatu  masih hidup, Armin telah diangkat menjadi anaknya.

 

” Kakek waktu itu sudah katakan kalau bapak Armin di sini bukan lagi orang Batak, tapi adalah anak dari kakek saya, ” cerita Rahim.

 

” Jadi beliau telah diangkat sebagai anak kedua dalam keluarga dan anak kakek kini ada empat termasuk bapak Armin sebagai anak kedua dalam keluarga Nurlatu,” lanjut Rahim.

 

Rahim mengaku bangga, karena Armin datang mendaftar di DPC PPP bukan hanya membawa Marga Nurlatu , tapi Armin juga ikut mencerminkan warga Bupolo dari etnis Bugis, etnis Jawa, etnis Sula dan Buton.

 

” Katong bawa beliau dengan adat, karena beliau juga dari mata rumah Nurlatu. Beliau ini di Buru sudah bukan lagi orang Batak, tapi orang Nurlatu,” ujar Rahim.

 

Armin dalam kesempatan itu menambahkan, kalau dirinya hidup berbaur dengan masyarakat adat, baik Nurlatu, Besan, Wael dll di Petuanan Kaiely.

” Saya hidup tenang berbaur dengan saudara-saudara di sana sebagai bagian dari mereka Kalau ada yang tidak senang saya pakai lestari di kepala, silahkan datang di keluarga saya keluarga Nurlatu,” saran Armin.

 

Karena itu, kali ini dia datang mendaftar dengan membawa identitas anak Nurlatu dari mata rumah orang tua angkatnya, Manaporong Nurlatu.

 

” Saya membawa identitas Buru, karena saya hidup dari orang Buru,” katanya mantap.

 

Lantas kenapa Armin di masa mudanya sebelum menjadi Pengusaha, sangat betah hidup bersama masyarakat di Dataran Tinggi Waeapo ? Ternyata dia punya cerita, bahwa waktu itu sengaja ke sana untuk menelusuri jejak cerita wanita Jawa yang dipekerjakan sebagai pekerja sex pemuas nafsu tentara Jepang (jugunianfu) yang dibawa dari Pulau Jawa ke Pulau Buru.

 

Setelah mendapatkan bukti cerita jugunianfu ini, Armin bersumpah, ia telah datang ke Buru dan nantinya akan mati pula di Pulau Buru.

 

” Saya dapat bukunya dan saya bersumpah, saya datang di sini dan saya juga akan mati di sini (Buru,red),” mantapkan hati Arman.

 

Saat pergi mendaftar sore tadi dari Kota Namlea, Armin tidak keluar dari rumah pribadi  miliknya, melainkan berangkat ditemani tokoh adat dari rumah, almarhum Kol Inf (Purn) Arsad Bugis di Jikukecil, Komplek Kodim 1506/ Namlea. Arman juga adik angkat dari Arsad Bugis.

 

Kakak angkatnya itu saat pensiun telah pulang ke Namlea, Kabupaten Buru guna ingin mengabdikan sisa hidupnya di tanah negeri kelahirannya. Ia mulai merintis sebagai politisi lalu bergabung di salah satu partai politik.

 

Hanya Allah berkehendak lain, dan kakaknya duluan meninggal dunia karena sakit.

 

” Orang bertanya, rumah saya ada dan kenapa saya keluar dari rumah mendiang almarhum pak Arsad ? Saya dngan almarhum akrab sekali.Bila ada sesuatu masalah ke istrinya dan setelah itu ke saya dari pada saudara-saudaranya yang lain,” kenang Armin.

 

Armin lalu bercerita, kalau kakak angkatnya itu ingin mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Buru. Keluarga dan kerabat sudah sosialisasi, tapi yang terjadi almarhum telah duluan dipanggil kembali ke pangkuan Illahi Rabbi.

 

Dengan melandasi semangat dan cita-cita almarhum Arsad Bugis, maka Armin bersumpah bila  keluar mendaftar, maka harus dari rumah kakak angkatnya itu, karena kini ia lagi merintis meneruskan cita-cita almarhum.

 

Armin  yakin, walau almarhum telah berada di alam baka, langkah yang dilaluinya kini di alam nyata terlihat oleh kakaknya di surga.

 

” Kalau uang saya bisa lupakan. Tapi kalau budi baik, maka saya tidak bisa lupakan,” lantang Armin seraya mengenang kembali kebaikan dan kenangan manis bersama almarhum dan keluarganya. (SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *