SABUROmedia, Bursel — Lebih dari setengah abad sudah Perusahaan Daerah (PD) Pancakarya menguras kekayaan alam yang terdapat di Pulau Buru, terkhususnya di Kabupaten Buru Selatan.

Bayangkan berapa banyak ekosistim alam di hutan Pulau Buru, serta berapa besar lahan yang telah dirusak Perusahaan ini, dalam menjalankan misi pengelolaan bisnis perdagangan kayu dan penebangan hutan (Loging) yang telah berlangsung sejak Tahun 1963-2023 sekarang.

60 puluh tahun sudah kegiatan eksploitasi hutan berlangsung di Negeri Bupolo ini, namun tahapan reboisasi atau penanaman kembali hutan dengan tanaman baru tidak kunjung dilakukan, akibatnya beberapa Desa sekitar wilayah loging harus menerima imbasnya dan nasib pilu kala datangnya musim penghujan, Waefusi, Oki Lama, Fatibang dan sekitarnya adalah Desa yang paling terdampak menerima banjir, lebih menyedihkan lagi, penduduknya harus diungsikan ke wilayah lain.

Selain itu, jalur angkut muat kayu hasil penebangan turut menjadi masalah baru bahkan momok yang menghantui penduduk di Desa Hote, Dusun Fatibang. yang mana aktifitas transportasi loging yang berdekatan dengan aliran Air Lata

Mengakibatkan aliran air menjadi kuning dan keruh, sementara kebutuhan warga sangat tergantung dengan air tersebut untuk menyambung hidup, yang kini tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Usaha dan upaya masyarakat dari desa tersebut telah dilakukan, dukungan aktifis lingkungan hidup juga telah di suarakan hingga ke telinga DPRD Dapil Waesama, tapi persoalan itu belum bisa didengar dan digubris, sehingga aspirasi rakyat yang harusnya menjadi ispirasi pemegang palu (Pemerintah) tidak sampai pada putusan kapan dan bagaimana masalah ini harus ditindak lanjuti ataupun diselesaikan, sementara rakyat masing hidup di bawah bayang-bayang penderitaan akibat ulah oknum tak bertangung jawab.

Aktifis lingkungan hidup sekaligus masyarakat Bursel, Fandi Solisa kepada Saburomedia Sabtu 19/08/2023 mengatakan, aktifitas PD Pancakarya di Kabupaten Buru Selatan, sangat menganggu masyarakat Buru Selatan karena, PD pancakarya tidak melakukan reboisasi kembali, dan melakukan penebangan hutan yang tidak sesuai dengan yang diamanatkan Undang-Undang.

“Proses penebangan hutan yang seharusnya jarak antara kali mati 50 meter dengan bibir sungai sekitar 100 meter sekian, dan jarak antara hutan warga 100 hingga 300 meter. Tetapi yang dilakukan oleh PD Pancakarya adalah proses penebangan hutan di pingir bibir sungai, dan juga di pinggir kali mati, sehingga kontradiksi dengan UU kehutanan.

Kemudian aktifitas jalan loging yang berada pada daerah aliran sungai Air Lata, sangat menganggu aktifitas masyarakat dalam proses pengambilan air, dikarenakan masyarakat Fatibang yang terletak di Desa Hote sangat membutuhkan sumber air, tetapi karena dampak dari pada proses lalu lalang kendaraan loging, sehingga aliran air tersebut mengalami kekaburan atau tidak jernih sehingga masyarakat sangat terganggu dengan proses aktifitas jalan loging.

Padahal pula diamatkan dalam UU bahwa dilarang keras proses jalan loging itu berada pada muara perairan sungai, tetapi realitas yang terjadi PD Pancakarya melakukan jalan loging di muara permukaan sungai di Desa Hote Dusun Fatibang terletak di air Lata,” ungkap Solisa.

Hal yang serupa juga disuarakan para Pecinta Alam Maluku dalam kegiatan Jambore PAM ke- XXV di Kabupaten Buru Selatan pada 18/08/2023, yang mana, satu dari tiga poin yang tertuang dalam Rapat Umum Pecinta Alam Maluku (Rupam) berbunyi, Kami Pecinta Alam Se-Maluku melalui Jambore ke 25, dengan ini mengutuk keras Perusahaan Daerah (PD) Pancakarya atas penebangan di Kabupaten Bursel.

Maka dengan ini kami Pecinta Alam Se-Maluku meminta Kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku agar mengidentifikasi dan megevaluasi PD Pancakarya atas permasalahan penebangan hutan yang tidak sesuai amdal dan andal sehingga merugikan masyarakat Bursel, akibat dari penebangan hutan dan terjadinya kebanjiran di Desa Waefusi, Oki Lama, Fatiban dan sekitarnya.

Solisa menuturkan, selama 60 tahun mengeksploitasi hutan Bursel,  komoditi jenis kayu yang diincar PD Pancakarya adalah jenis kayu miranti. (SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *