Oleh :

Ismail Borut

 

SABUROmedia — Bulan Agustus bagi negara, bangsa, dan rakyat Indonesia adalah bulan bersejarah. Bulan yang mempunyai arti dan makna khusus sehingga senantiasa ada dalam kenangan dan sulit dilupakan. Karena pada tanggal 17 Agustus 1945, di Jakarta kemerdekaan negara kita, Republik Indonesia, diproklamasikan keseluruh penjuruh dunia oleh Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama bangsa dan rakyat Indonesia. Sekarang ini, kita sedang berada di bulan Agustus 2021. Dengan demikian, kita dalam suasana memperingati hari ulang tahun ke 76 Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dicapai melalui perjuangan panjang dan banyak pengorbanan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Setiap perjuangan pasti memita pengorbanan. Pengorbanan jiwa, raga, pikiran, waktu, dan harta benda menjadi bukti nyata. Disamping perjuangan itu dapat dicapai karena mendapat berkat dan rahmat Allah, sebagaimana disebutkan dalam alinea ketiga pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ‘’Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaan’’

Maluku merupakan salah satu provinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka. Maluku dikenal dengan kawasan seribu pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Secara historis kepulauan Maluku terdiri atas kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau Maluku. Oleh karena itu, daerah tersebut diberi nama Maluku yang berasal dari kata Al Mulk yang berarti tanah raja-raja. Daerah ini dinyatakan sebagai provinsi bersama tujuh daerah lainnya, yaitu Kalimatan, Sunda Kecil, Jawa Timur, Jawah Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera. Provinsi ini dibentuk hanya dua hari setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, secara resmi pembentukan Maluku sebagai provinsi daerah tingkat I Republik Indonesia baru terjadi 12 tahun kemudian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1958.

Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan sebagai salah satu provinsi Republik Indonesia. Namun, pembentukan dan kedudukan Provinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta sebab segera setelah Jepang menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah yang kaya dengan rempah-rempahnya ini. Bahkan, hingga setelah keluarnya pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, kolonial Belanda mensponsori terbentuknya Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon.

Maluku memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah kemerdekaan Indonesia secara berdaulat. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini suda dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke XII pelaut-pelaut dataran Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah. Namun, mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain ke daerah Maluku.

Pada abad IX pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi Samudra Hindia.  Kemudian para pedagang ini menguasai pasar Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Konstatinopel. Abad XIV merupakan masa perdagangan rempah-rempah Timur Tengah. Pedagang-pedagang itu membawa agama Islam masuk ke kepulauan  Banda Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara tahun 1300 sampai 1400. Pada abad ke XII wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya meliputi kepulan Maluku. Pada awal abad ke XIV kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara. pada waktu itu para pedangang dari jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Perlawanan Rakyat Maluku terhadap portugis dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602, dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. Dibawa kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, kepala operasional VOC, perdagangan buah Pala di negeri Wandan  (Banda) Maluku dibawa kendali VOC selama 350 tahu

Maluku itu sendiri pertama kali di muncul saat terjadi persekutuan geo sosial antara kerajaan besar dikalah itu yaitu kerajaan Wandan di Banda, Kerajaan Jailolo, Ternate, Tidore, Bacan, Kerajaan Huamual, Kapaha, Iha di Saparua, dan Kerajaan Hatuhaha. Di Maluku peperangan masyarakat Banda (Banda Mord) pembunuhan terhadap 44 orang kaya tahun 1621, masyarakat Banda Asli Wandan berhijrah mencari tempat yang aman di pulau Seram, Ambon, Jawa, NTT, Makassar, dan dikepulauan Kei adalah perkampungan Banda Ely- Elat, atau masyarkat setempat disebut Wadan El.

Perang Huamual berkobar ditahun 1602-1651 (50 tahun Perang Huamual) telah membumi hanguskan 98 negeri dan tinggal satu-satunya negeri yaitu Negeri Luhu sebagaimana yang dituangkan dalam bahasa Huamual yang sekarang ini menjadi bahasa adat Luhu dan sering dipakai dalam upacara adat (ritual adat) disaat pelantikan raja atau Upulatu Luhu. Raja Iha dengan kerajaannya dan di sebelah tenggara Raja Honimoa (Siri Sori dengan Kerajaannya). Perang Kapahaha 1637-1646 ini dipimpin oleh seorang kapitan Telukabessi (Ahmad Leikawa).

Pusat pertahanan Telukabessi ialah benteng Kapahaha yang terletak diatas bukit Kapahaha yaitu sebuah bukit batu terjal , terletak diantara gunung Salahutu dan petuanan negeri Morella sebelah utara pulau Ambon. Kerajaan Iha terlibat dalam sebuah perlawanan melawan kolonial Belanda yang disebut perang Iha 1632-1652 yang mengakibatkan kerajaan ini kehilangan sebagian daerah dan rakyatnya sehingga kemudian mengalami kemunduran.

Sebagai anak bangsa Maluku dan bangsa Indonesia, harus banyak bersyukur kepada Allah Swt untuk mensyukuri nikmat kehidupan di zaman kemerdekaan yang jelas sangat jahu berbeda dengan kehidupan dialam penjajahan. Selain itu, kita juga harus mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka para syuhada yang berjuang di tanah Maluku, pendiri Republik Indonesia dan segenap pejuang dengan sikap istiqamah, sabar, bersungguh-sungguh, berani dan bertangung jawab serta tulus. Kita juga tentu dapat merasakan betapa besar perjuangan, penderitaan dan kasih sayang mereka meski dalam serba kesulitan demi mempertahankan Maluku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

*** Penulis adalah Direktur Funuo Madani Institut & Wakil Ketua DPW BKPRMI Maluku