SABUROmedia, Ambon – Konteks politik di suatu Negara sangat berpengaruh terhadap perubahan mekanisme pendaftaran pemilih di suatu negara utamanya situasi pasca pemilu sebelum-sebelumnya apakah terjadi persoalan atau tidak terhadap daftar pemilih seperti tuntutan dari pemilih dan partai politik peserta pemilu mengenai daftar pemilih.
Sebagai contoh seperti yang dijelaskan oleh Carlos di Mexico terjadi tuduhan kecurangan terhadap daftar pemilih yang tidak akurat oleh kubu oposisi.
Situasi lain yang mendorong adanya perubahan mekanisme pendaftaran pemilih dari periodic ke continuous list adalah perubahan kerangka regulasi pemilu di suatu Negara.
Sekalipun terjadi trend yang cukup tinggi mengenai perubahan mekanisme pendaftaran pemililih di banyak Negara seperti yang ditunjukan oleh Steve, namun tetap saja masih terdapat beberapa catatan persoalan umum seperti masih terjadinya peristiwa kependudukan seperti kelahiran, perpindahan tempat tinggal, dan kematian yang masih belum tercatat dengan baik.
Berdasarkan presentasi dari para pembicara juga kita bisa melihat beberapa cara untuk memperbaiki daftar pemilih yang akurat dan berkelanjutan diantaranya sebagai berikut:
- Pentingnya kerangka hukum yang memadai untuk mendukung kerja-kerja penyelenggara pemilu dalam melakukan pendaftaran pemilih.
- Dukungan sumber daya finansial dan sumber daya manusia yang memadai.
Seperti yang dijelaskan oleh Pak Luie di Philippine bagaimana petugas penyelenggara pemilu yang permanen di level daerah dan di level pusat yang memiliki tugas utama untuk mengurusi daftar pemilih menjadi salah satu kunci utama.
- Teknologi informasi memiliki peran sentral juga dalam mendorong efisiensi dan memudahkan kerja-kerja penyelenggara pemilu dalam melakukan pendaftaran pemilih yang akurat.
Utamanya untuk meminimalisir kegandaan daftar pemilih yang dapat dilihat langsung dengan menggunakan teknologi informasi. Sebagai contoh seperti yang dijelaskan oleh Pak Luie bagaimana terjadi perubahan siginfikan di Philippine dengan menghasilkan Modernization and Excellence (Modex) dalam penggunaan teknologi untuk menjamin akurasi daftar pemilih. Namun tantangannya adalah adanya konsekuensi biaya ketika menggunakan teknologi informasi.
- Sekalipun setiap negara memiliki mekanisme pendaftaran pemilih yang berbeda apakah menggunakan stelsel aktif dimana pemilih secara aktif mendaftarkan diri sebagai pemilih, ataupun menggunakan stelsel pasif dimana penyelenggara pemilu yang secara aktif mendaftar. Namun, peran aktif penyelenggara penting untuk melakukan sosialisasi dan voter education untuk memastikan setiap pemilih kembali mengecek apakah dirinya sudah terdaftar atau belum.
- Koordinasi antar lembaga khususnya yang mengurusi data kependudukan sangatlah penting untuk menjamin akurasi daftar pemilih.
Sebagai contoh seperti yang terjadi di Swedia terjadi data sharing antara lembaga pajak dengan penyelenggara pemilu dalam proses pemutakhiran daftar pemilih.
- Dalam rangka menjamin akurasi daftar pemilih salah satu tahapan selain melakukan pemutakhiran daftar pemilih secara berkala seperti yang dilakukan di Philippine dimana empat kali dalam setahun dilakukan pembaharuan.
Hal lain yang dilakukan untuk menjamin akurasi adalah dilakukan audit daftar pemilih secara berkala yang kemudian menginformasikan kepada pemilih dan peserta pemilu. Sehingga dampaknya adalah terjadi kepercayaan publik terhadap daftar pemilih.
Pada akhirnya, pendaftaran pemilih yang akurat tidak hanya berdampak terhadap pemilu yang berkualitas, kredibel, demokratis dan berintegritas, tetapi dari diskusi ini kita bisa melihat bahwa daftar pemilih yang akurat bisa bermanfaat untuk urusan administrasi kependudukan lainnya. Seperti yang disinggung oleh Carlos bagaimana daftar pemilih yang akurat melalui kartu pemilih yang kemudian dijadikan rujukan sebagai identitas nasional.
Terima kasih kepada Pak Ahmad Doli Kurnia Tanjung, Ketua Komisi 2 DPR RI, satu hal yg penting disampaikan Pak Doli adalah soal cluster masalah, dan soal pemutakhiran daftar pemlih berkelanjutan adalah salah satu clustering dari banyak clustering yang lain. Dan tentunya perlu di urai dari hulu (data kependudukan) sampai ke hilir (terkait dengan daftar pemilih).
Selanjutnya terima kasih kepada Plt Ketua KPU dan para komisioner, para narasumber : I want to thank the honorable Carlos Navaro, Luie Tito, Steve and Viryan for their excellent presentation and providing an overview of the continuous register of the voter list. This becomes a comparison for implementation in Indonesia. Terima kasih kepada Mas HNG moderator yang handal, kepada IFES atas sinergi dan kerjasamanya yg luar biasa serta teman-teman, bapak ibu peserta yang telah hadir dalam webinar internasional ini. Mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan. Sampai jumpa di webinar selanjutnya.
Salam hormat, :
Dr. Ferry Kurnia Rizkiyansyah
Direktur Eksekutif NETGRIT