Tokoh Inspiratif : Hi Amirudin., SE

SABUROmedia, Ambon – Sosok Amirudin, yang biasa dikenal dengan Bapak Dallas, bagi sebagian khalayak sudah tidak asing mendengar namanya, khususnya publik Seram Bagian Barat (SBB). Sosoknya begitu familiar dikalangan para pengusaha terutama dengan komunitas pertokoan batu merah, baik usaha kecil maupun menengah. Beliau juga sebagai Ketua Paguyuban Pengusaha Pertokoan Batu Merah – Mardika (P3BM) Kota Ambon, yang menempatkan namanya sebagai seorang yang terbilang sukses di dunia dagang, betapa tidak berbagai varian bisnis grosiran hingga merambah kedunia kontraktor mengantarkan namanya tergolong Pengusaha sukses di Kota Ambon.

Pria kelahiran Dusun Melati, Desa Waisala, Kecamatan Huamual Belakang Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) ini, Putra Alm Ishabu dan Hj Maimuna ini merupakan salah satu tokoh muda yang terbilang sukses di perantauan, sejumlah usaha yang ditekuninya tak ayal Amirudin di sejajarkan dengan sejumlah tokoh yang berpengaruh di SBB saat ini.

Namun siapa sangka dibalik kesuksesannya ini, terselip kisah pilu dan menguras air mata kala proses perjuangannya menggapai sukses. Amirudin terlahir dari keluarga yang kurang, bahkan untuk sekedar makan di usianya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) harus banting tulang bekerja sebagai pengumpul batu, hanya itu yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang itupun jika ada yang bersedia membeli.

Sejak kecil Amirudin sudah diperhadapkan dengan kerasnya kehidupan, sejak ayahnya pergi menghadap sang Ilahi, usianya masih kanak- kanak saat itu, dia terpaksa menggantikan posisi sang Ayah menjadi tulang punggung keluarga. Amirudin berperan sebagai Ayah ikut membantu sang ibu menafkahi dua saudaranya yang masih kecil, Sumiana dan Adi Ishabu.

Sumber penghidupan di kampungnya saat itu hanya bercocok tanam dan berlayar, sebagian besar warga dikampungnya beraktifitas sebagai pelaut, menggunakan perahu boat termasuk ayahnya, untuk berlayar mereka harus rela berpisah dengan keluarga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sebab zaman itu orang berlayar menggunakan perahu layar yang hanya andalkan angin tanpa mesin.

” Kalau mau berlayar orang tua dulu harus menunggu bulan-bulan tertentu untuk berpergian, karena mereka mengandalakan angin, biasanya pada musim-musim timur, jadi kalau berlayar ke Jawa itu memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahun untuk kembali lagi ke kampung, ” tutur Amirudin.

Keinginan Amirudin untuk merantau keluar dari kampung sudah terbersit sejak kecil, bahkan untuk menyampikan keinginannya itu beberapa kali ditolak oleh sang Ibu, kondisinya yang masih kecil menjadi alasan ibu enggan untuk mengizinkan merantau, selain itu sang ibu menahannya karena siapa lagi yang harus melihat ibu dan adik-adiknya.

Atas permintaan sang ibu itu Amirudin lantas mengurungkan niatnya dan memilih berkebun dan bercocok tanam membantu sang ibu, sesekali memanfaatkan waktu usai dari berkebun pergi mengumpulkan batu.

” Dolo (dulu) beta pi molo batu, kumpul batu baru jual, itu pun kalau ada yang beli, kalau seng ombak pukul batu talamburang, jadi akang pung susah hidop dolo itu, ” kisahnya khas dialog Ambonnya.

Berfikir kondisi kehidupan seperti itu, niat Amirudin untuk merantau semakin bulat, kali ini ia benar-benar menaruh tekad keluar dari kampung dan memilih merantau, sampai pada satu kejadian dimana terjadi musibah yang menimpanya, saat itu ia hendak memanjat pohon cengkeh entah atas sebab apa dahan cengkeh patah dan menimpa kepalanya dan membuatnya terjatuh, momen itu dimanfaatkan oleh Amirudin untuk menyampaikan maksud terpendamnya itu kepada sang ibu.

” seiring berjalannya waktu  karena sudah sangat terlihat jelas oleh orang tua saya mengenai semangat saya yang ingin pergi merantau, akhirnya saya pun diizinkan, ” tuturnya.

Momen paling diingat yang membekas dan menjadi sejarah dalam hidupnya ketika pertama kali dia pergi merantau meninggalkan kampung halaman dan ibu tercintanya, ketika itu tahun 1993 persis diingat sang ibu hanya memberi seekor ayam jantan dan sehelai kain sarung sebagai bekal, dan uang senilai Rp 15 ribu yang sudah saya kumpulkan sendiri, dengan berat hati hanya dengan do’a orang tua untuk keselamatan, saya pergi merantau.

Tujuan dia saat itu ke Kota Ambon, untuk menemui Abangnya, La Suha Ishabu, yang terlebih dahulu merantau ke Ambon. engan semangatnya akhirnya diapun pergi untuk memperjuangkan harapannya yang ingin bertemu Abangnya. Bermodalkan informasi bahwa Abangnya sementara kuliah di Kampus Unpatti Poka Rumah Tiga. Diapun terus mencoba berjalan saja, tiada tempat untuk dituju karena ini juga pertama kali dia menginjakan kakinya di Ambon, namun tekad yang kuat untuk menemui Abangnya dengan semangatnya, dia terus berjalan mulai dari Pasar lama, Pelabuhan sampai di ujung jembatan gurita. Akhirnya dia menemukan Angkot jurusan Lateri, karena merasa sudah terlalu jauh dan ujung pemberhentian Angkot, tepatnya sampai di ujung lateri, diapun turun. Dari situ dia hanya berjalan kaki lagi, ditengah perjalanan itu tiba-tiba hujan turun dan berteduh disebuah rumah, disitulah beliau bertemu dengan seorang bapak bernama La Leyo, Keluarga Bungurasih. Akhirnya beliau kemudian menjadi Bapak piaranya, dimana beliau meminta tinggal bersama beliau, kebetulan aktifitas beliau berkebun sama seperti dikampungnya, yang sudah menjadi aktfitas keseharian, “ jadi siang kita berkebun malam kita ikut redi jaring ikan bersama “, terang beliau. Kegiatan Redi ini sendiri bersama Bapak Imam Lateri saat itu, H Muhammad, sekitar Tahun 1995, dengan kebaikannya dia juga mengajarkan mengaji kepada beliau.

Sudah berbulan-bulan Amirudin kecil tinggal di Lateri, dia mulai beranikan diri untuk pergi mencari Abangnya. “ Waktu itu tujuan saya ke Rumah Tiga, coba jalan-jalan ke kampus untuk mencari Abang saya, karena waktu itu Abang saya juga sudah dengar kabar dari kampung bahwa saya sudah sampai ke Ambon “, terangnya. Maka sudah lama mereka, saling mencari, namun karena Takdir Tuhan jugalah, kita saudara sekandung akhirnya dipertemukan juga, di area kampus Unpatti Desa Rumah Tiga. Sukacita penuh Air mata mengiringi pertemuan ini, dimana dahulu begitu susahnya, belum ada alat komunikasi seperti sekarang ini.

Setelah bertemu, kepada Abangnya dia sampaikan bahwa “ dia tidak bawa kiriman apa – apa dari kampung, karena kasihan dengan kondisi ibu, juga belum ada uang jadi beta datang hanya membawa selembar kain sarung dan hanya ada ayam satu ekor, beserta baju dibadan ini “ terangnya.  Setelah melepas kerinduan saudara sekandung ini, kemudian Abangnya membawanya ke tempat kos – kosannya di Desa Rumah Tiga. Melihat kondisi Abangnya juga memprihatinkan saat itu, dimana dia juga harus mencari biaya untuk menyelesaikan kuliahnya saat itu. Setelah melakukan diskusi, Abangnya kemudian mencoba menghubungi beberapa rekannya, untuk mencarikan pekerjaan untuk Adiknya ini. Melalui temannya yang bernama La Jeki waktu itu, dia akhirnya dia bisa bekerja di salah satu Toko di Pasar Amboina, dengan perjanjian awal hanya bisa tinggal dan makan saja dahulu. Namun dalam perjalanannya, mungkin dalam penilaiannya bosnya La Jeki, dia kerja bagus, akhirnya dia juga diberi uang gaji, cukup untuk jajan saat itu.

Seiring berjalannya waktu, dia kemudian ditarik kerja oleh Alm Hi Muhammad Syukur, Toko Parabela Utama. Dalam kesempatan inilah beliau mengenal sosok yang cukup berjasa dalam mengubah hidupnya. Disamping bekerja, dia diijinkan untuk melanjutkan pendidikan ke SMAN 7 Ambon saat itu. Dimana beliau sebelumnya meminta ijin, menyampaikan tujuannya ingin Sekolah ke Ambon. Akhirnya dia bisa melanjutkan sekolah, juga ikut membantu di Toko, sepulangnya dari sekolah. Melalui semangatnya yang besar, dia juga menjadi siswa berprestasi saat itu, dimana kemudian dia berhasil mendapatkan Beasiswa Supersemar dan Beasiswa Bina Prestasi. “ Beta cukup terbantu saat itu, dengan 2 Beasiswa beta dapatkan Rp. 300.000,-/ bln, sementara gaji beta Rp. 45.000,-/ bln, akhirnya per bulan beta bisa kirim Rp. 150.000,- ke Ibu dikampung, yang sudah tua, janda dan sudah tidak mampu bekerja lagi “, kata Bapak Amirudin.

Alhamdulillah, disaat Toko sudah tutup sampai malam, dia juga diijinkan untuk berjualan obral di Pasar Mardika sebagai tambahan.

Disaat beberapa hari lagi mau ujian akhir SMA, dia tidak bisa ikut ujian, karena terjadi kerusuhan 1999 saat itu. Akhirnya, setelah 1 Tahun kemudian, Pemerintah mengambil kebijakan, memberikan ujian Paket C di Tahun 2000 di SMAN 14 Ambon.

Tak terbesit sedikitpun dihati Amirudin berkeinginan menjadi pengusaha, bahkan kesuksesannya kini menjadi seorang pengusaha mengalahkan cita-cita besarnya yang ingin menjadi dokter saat itu. Impiannya menjadi dokter sebenarnya sudah hampir digapai saat itu, dimana 5 Orang keterwakilan Maluku dinyatakan lulus sewaktu mengikuti Ujian Tes Masuk Fak Kedokteran UGM Yogyakarta, yang dilaksanakan di Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Karang Panjang saat itu. Namun ekonomi keluarga tidak berpihak kepadanya, kondisi kemiskinan akut, dimana hanya butuh Rp. 5.000.000,- saat itu untuk biaya tidak ada. Akhirnya dia hanya melanjutkan di Fak Ekonomi Unpatti, sambil bekerja saat itu.

Selama kerusuhan Ambon terjadi, dia mendapatkan kepercayaan mengelola Toko Parabela Utama secara penuh, dimana Alm Hi M. Syukur, Pemilik Toko berada di Jakarta dan Bau – Bau saja saat itu. Mendapatkan kepercayaan ini, dia manfaatkan secara baik, dia hanya berpikir agar bagaimana amanah yang dibebankan ke dia bisa berjalan dengan baik. Pada tahun 2001, karena sama – sama bekerja ditempat yang sama, dia memutuskan untuk menikah, dengan Hj Adriana, gadis dari Buton Sulawesi Tenggara. Tak berapa lama setelah itu, ada informasi bahwa ada unit Ruko yang akan dikontrakan. Kemudian beliau menyampaikan maksudnya ke Bosnya, Alm Hi M, Syukur kalau dia sudah ingin mandiri, nanti dia bantu – bantu juga di Toko Alm M Syukur tersebut.

Bermodalkan 45 Juta hasil yang telah dikumpulkan selama ini, dari menabung bertahun – tahun, dibelanjakan saat itu, dapatlah 5 karung pakaian. Berputar dari tahun 2004 – 2007, kemudian Rukonya tidak bisa lagi dikontrakan, tapi mesti dibayar lunas. Akhirnya, kita dibantu fasilitas kredit oleh Bank Maluku saat itu, harganya Rp. 185.000.000,-. Selama kurang lebih 1 tahun kemudian beliau bisa melunasinya di tahun 2008 secara cicil. Setelah itu, Bank Maluku menawarkan kembali untuk mengambil 1 unit lagi, kebetulan posisinya tersambung dengan Toko sekarang ini akhirnya 1 dilunasi dan 1 lagi masih lanjut kredit. 

Tahun 2004 beliau menjajaki usaha kontraktor, mulai dari pekerjaaan di Buru Selatan. Kemudian lanjut belajar ke Seram Bagian Barat. Dibawah bendera CV Rahmat AA. Beliau sukses juga di akhir periode pertama Bupati Bob Puttileihalat. Beliau juga pernah rugi karena tertipu, proyek Pabrik rumput laut senilai Rp. 450.000.000,- di Wael yang sudah dia bangun, tapi tidak dibayar, karena kondisi perpolitikan didaerah, dimana  dipindahkan Pabrik rumput laut ke Taman Jaya. Wua terakhir tidak jalan juga saya dengar, karena rumut laut itu di Wael dan Kotania seharusnya, “ katanya.

Prinsip Amirudin bahwa hidup ini bukan modal yang dikejar, tapi kemauan. Selama ada kemauan pasti bisa. Kemauan dan kerja keras, insya allah diridhai. Selama ini yang dilakukannya, secara mandiri, tanpa bantuan orang lain, berjalan di kaki sendiri. Selama berjuang tidak boleh merasa kecil. Tidak ada orang pendatang, semua adalah orang Maluku, yang membangun sama – sama daerah ini.

Filosofi hidup yang selalu dipegang oleh Amirudin yang juga menjadi petuah leluhur adalah Bolimo “ Karo Sumanamo Lipu, Bolimo Lipu Sumanomo Agama, biar kita sengsara, badan ini hancur yang penting nama baik kampung terangkat, biar nama baik rusak, jangan agama yang rusak “. Awalnya katong dari kampung, keluarga petani dan nelayan, Bapak itu orang perantau dengan perahu, belayar ke Irian cari kayu, bawa ke Makassar, terkadang Surabaya. karena kalau musim timur berangkat, nanti musim barat baru balik, periode 6 bulan mereka berlayar. Dahulu tidak ada perahu mesin, tapi perahu layar. Motivasi beta dari itu,, kenapa orang tua katong berlayar mengharapkan angin bisa hidup, kenapa katong dijaman yang sudah ada mesin kita masih tidur – tidur.  Dari pengalaman orang tua itu, ternyata hidup ini harus kerja keras, jangan kita tidur – tidur, karena tidak ada orang yang bisa membalik kita keadaan. Tapi kalau kita kerja keras, pasti selalu ada jalan.

Ternyata kemiskinan ini bukan karena terjadi begitu saja, tapi karena kita malas. Kesusahan tetap kita bersyukur. Sukses didunia usaha, Amirudin mencoba menjajal di dunia politik dengan motivasi melimpahnya sumber daya alam di SBB tapi masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan, dia inginkan masyarakat di SBB hidup sejahtera dengan potensi yang ada. Banyaknya sumber daya alam tapi tidak terkelola dengan baik. Setelah musim cengkeh, uang mereka habis. Karena kurangnya perhatian Pemerintah, termasuk infrastruktur jalan. Belum lagi, masyarakat kurang memahmi manajemen pengelolaan uang juga kurang baik.

Atas motivasi itu berbagai momentum politik dijalaninya mulai di tahun 2009 maju Caleg DPR RI lewat partai PIS, perolehan suara 45.000 saat itu. Tahun 2014 maju Caleg DPRD Provinsi Maluku lewat Partai PKB. Pilkada Kabupaten SBB, maju sebagai Wakil Bupati SBB bersama Raymon Puttileihalat Tahun 2017.  

Amirudin bersama istri Hj Adriana, dikaruniai enam anak, Putra pertama bernama Rahmat Amirudin kini mengenyam studi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhamadiyah Malang (FE UMM) yang kedua SMAN 11 Ambon, yang ketiga Putri di SMP Gontor, Yang ke 4 SD Cendekia Ambon, dan yang terakhir masih bayi . (SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *