SABUROmedia, Jakarta – Potretan penegakan HAM, dalam dinamika ketatanegaraan Indonesia di era pemerintahan Jokowi, mulai periode pertama, hingga sekarang hanya bersifat bayangan dan masih berada di taraf yang mengkhawatirkan. Dengan tumbuh suburnya kekerasan terhadap perempuan dan anak di bawa umur, eksploitasi terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat oleh investor asing dan pemerintah, fakir miskin dan anak-anak yang terlantar, tapi tidak di pelihara oleh Negara dan upaya pembungkaman terhadap kebebasan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat secara tertulis, maupun lisan oleh warga Negara, menunjukan Bangsa ini sedang darurat HAM.

Hal ini disampaikan Praktisi Hukum, Paman Nurlette dalam diskusi public bahas soal Milenial Bicara Penegakan HAM yang digelar Front Aktivis Tanah Air (Fakta) di Djejak Cafe Jl. Pejaten Raya No. 18 A pasar minggu Jakarta selatan, Kamis (30/01/2020).

Padahal, kata Paman janji politik Pak jokowi, salah satunya memperkuat penegakan HAM dan penyelesaian pelanggan HAM berat masa lalu sesuai dengan rel-rel hukum yang berlaku.Tapi fakta empiris membuktikan janji politik yang di nyanyikan saat kampanye, hanya menjadi hiasan buah bibir dan retorika belaka. Dengan indikator di atas, jelas pemerintah tidak komitmen secara konsisten politik, untuk memperkuat penegakan HAM di Indonesia”.

Dengan melihat realitas sosial penegakan hukum oleh pemerintah saat ini,  tentu jauh dari harapan rakyat Indonesia. Karena hingga saat ini janji-janji politik tersebut belum di tunaikan oleh Pak jokowi. Bahkan setiap tahun pelanggaran HAM di Indonesia semakin meningkat. Dengan demikian untuk menjawab problematika bangsa saat ini, peran dan kiprah nyata pemuda sebagai motor penggerak Reformasi dan pisau Analisa, sangat di harapkan lewat gerakkan Parlemen jalananan untuk menyuarakan persoalan penegakan HAM yang masih terkatung-katung, Potretan dinamika ketatanegaraan saat ini, kita tidak boleh berharap lebih dari wakil rakyat untuk memperjuangkan Kepentingan rakyat ke pemerintah. Karena kedua lembaga Negara ini lebih membahas Kepentingan lain selain Kepentingan rakyat khususnya masalah penegakan HAM.

“ pandangan saya sebagai akademisi, dengan potret saat ini memungkinkan kita lebih terbuka berdialog. Kita ingin merasakan lebih transparan ruang untuk menyampaikan pikiran kepada pemerintah dengan masyarakat. Di sisi lain, terobosan yang dibuat Front Aktivis atau Fakta bisa masuk ke relung kekuasaan. Meskipun masih banyak tumpuan pekerjaan rumah tentang HAM belum selesai dituntaskan. Misalnya, soal penegakan hukum, yang masih berjalan di tempat.di sisi lain, rakyat berani menggelorakan pikirannya ketika peradilan atau penegakan hukum dirasakan tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Ini sekan membenarkan thesis hukum tajam kebawah tumpul keatas, ” demikian juga disampaikan akademisi Dr Fahmi Fidurubun dalam diskusi itu .

Lanjutnya, karena keterbatasan ruang yang begitu sempit, juga menghalangi kebebasan kita untuk mengakses ke permukaan, oleh karena itu masyarakat mesti memilih jalan, salah satu jalannya adalah jalan politik, itu juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih aktif. dengan begitu keterbukaan akses itu tidak mengurangi kekritisan masyarakat terhadap peran negara saat kapanpun dan dia berada. Karena bisa muncul kerisauan bersama.

Fidurubun juga menyampaikan dada Fakta agar intens dan mengawal problem pelanggaran HAM yg terjadi saat ini yang bisa dilakukan Fakta adalah melakukan advokasi ke akar rumput, menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengontrol, karena masyarakat sangat berharap ada perubahan significant baik pada level kebijakan politik dan hukum sehingga, lebih memihak kepada masayarakat dan lebih adil.

“ Jadi, bukan sekedar wacana, tapi juga pikiran kritis mengalir, melahirkan produk hukum yang lebih sensitif terhadap berbagai isu yang terjadi saat ini, “ tutupnya.

Diskusi Publik dalam rangka refleksi HAM di Indonesia ini menghadirkan narasumber diantaranya  praktisi hokum, Paman Nurlette, Indonesia corner institute, Dody U Tomagola S.sos. Diskusi Publik diikuti sebanyak 50 peserta yang berasal dari kalangan Mahasiswa. (SM-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *