Oleh:
Tammat R. Talaohu

SABUROmedia – Pada 7 November 2026 ini akan menjadi saat dimana bandul sejarah Partai Golkar Provinsi Maluku kembali mengayun melalui momentum Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Maluku Masa Bakti 2025-2030.

Ayunan ini akan menandai pergeseran visi, program dan kebijakan, kepemimpinan partai, struktur dan kepengurusan, arah, hingga orientasi dan target partai. Pergeseran semacam ini selalu menjadi hal yang lumrah, alamiah dan harus terjadi bagi setiap organisasi modern.

Itulah sebabnya, bagi saya, pelantikan pengurus Partai Golkar Provinsi Maluku kali ini tidak boleh terjebak dalam rutinitas organisasi semata, hanya sekedar seremoni serta mengukuhkan kepengurusan baru. Kader Partai Golkar tidak boleh sedangkal itu, tidak boleh terjebak dalam sindrom “asal jadi”. Sebaliknya, momentum ini harus menjadi saat dimana Partai Golkar Maluku harus meletakkan dasar perjuangannya, merevisi nilai dan menyesuaikan kembali misi dan strateginya mengingat perubahan zaman saat ini demikian cepat dan iklim persaingan politik yang begitu kompetitif. Perilaku pemilih telah bertransformasi seiring dengan makin pesatnya kemajuan teknologi informasi. Salah memaknai momentum ini akan berakibat fatal yang akhirnya hanya merugikan Partai Golkar sendiri.

Artikel pendek ini tidak bermaksud menilai kepengurusan baru Partai, tetapi lebih pada menawarkan gagasan agar forum strategis ini tidak kering nilai dan kehilangan subtansi serta ruh karya dan kekaryaan. Lebih dari itu, artikel ini hendak membantu mengingatkan siapapun yang dipercayakan sebagai pengurus Partai Golkar Maluku, untuk mengenali beberapa masalah yang kini melilit partai berlambang beringin ini, sesuatu yang membuatnya kalah pada Pemilu 2024 di Maluku.

Dalam teori evolusi yang dipopulerkan Charles Darwin yang terkenal itu, survivalitas tidak ditentukan seberapa kuat atau besar (fisik dan umur), tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Kekalahan Partai Golkar di Maluku pada Pemilu legislatif 2024 (dan beberapa pemilu sebelumnya) adalah sesuatu yang sulit diterima karena hal itu telah merusak tradisi partai kuning yang selalu menang dan merajai perpolitikan Maluku sejak pemilu pertama di jaman Orde Baru. Kekalahan tersebut, yang tidak diikuti oleh evaluasi yang sistematis atasnya, telah membuat partai ini terjebak dalam “siklus pertumbuhan yang menurun”, yakni fenomena dimana terjadi penurunan output perolehan suara meski masih menempatkan Partai Golkar sebagai salah satu yang terbesar. Dalam jangka pendek efek siklus pertumbuhan yang menurun ini tidak begitu terasa. Tetapi dalam jangka panjang efeknya akan makin nyata dan bahkan menghancurkan.
Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa kekalahan Partai Golkar Maluku dalam Pemilu 2024, yang diikuti oleh kian merosotnya popularitas partai, merupakan cermin dari sistem dan tata kelola partai yang abai terhadap Hukum Darwin, yakni adaptasi. Beberapa survei menemukan bahwa mayoritas pemilih Golkar adalah mereka yang masih memiliki ikatan emosi dan memori sejarah dengan Orde Baru. Segmen ini rata-rata berumur di atas 55 tahun. Mereka inilah yang kian hari kian berkurang jumlahnya. Sementara segmen terbesar, yakni segmen anak muda, yang rata-rata mendominasi hingga 70 persen daftar pemilih lalai diincar partai dan karenanya tidak dijadikan sebagai basis massa utama pendukung Golkar. Hukum adaptasi, merupakan poin pertama yang harus diperhatikan ketua terpilih.

Poin kedua, adalah pemahaman akan perubahan komposisi demografi. Saat ini adalah era yang disebut dengan masanya “generasi Z”, yakni generasi yang lahir sekitar tahun 1981-1996 yaitu generasi dengan kreatifitas tinggi. Kemampuan berimajinasi dan mengembangkan ide-ide kreatif yang dimiliki generasi tersebut umumnya lebih baik dari generasi sebelumnya. Keberadaan generasi ini harus disambut dengan langkah-langkah antisipatif agar dapat menjadi kekuatan bagi bangsa dan partai. Disebutkan bahwa kunci bagi “generasi Z” untuk menghadapi persaingan kompetitif saat ini adalah mentalitas life-long-learning atau belajar sepanjang hayat. Sebab pengetahuan begitu cepat berkembang sehingga pengetahuan yang hari ini dianggap canggih, dalam beberapa tahun mendatang bisa jadi sudah usang atau tidak relevan lagi. Ada benang merah antara pentingnya membangun sebuah partai yang besar dan dihormati dengan keberadaan generasi tangguh, cerdas dan memiliki integritas tinggi bagi kemajuan daerah dan bangsa.
Dalam konteks ini, dapat diartikan bahwa kemajuan Partai Golkar akan berkorelasi langsung dengan keberadaan dan peran vital “generasi Z”. Para perancang kebijakan Partai Golkar Maluku sebaiknya memberikan kesempatan yang luas kepada generasi ini di Partai Golkar Maluku untuk berperan aktif dalam mengakselerasi kemajuan partai di daerah seribu pulau ini. Tidak mengikutsertakan peran dan keberadaan “generasi Z” dalam kepengurusan partai hanya akan membuat partai lambat dalam merespon aspirasi arus bawah yang akhirnya akan ditinggalkan pemilih pemula yang hari-hari ini merupakan mayoritas dari pemilih di Maluku.

Poin ketiga, mengakhiri apa yang disebut Andriadi (2014), sebagai “kutukan matematika politik”. Kutukan ini terjadi karena sejak reformasi hingga kini, sejak Pileg 1999 hingga 2024, Golkar Maluku tidak pernah lagi mampu menempatkan kadernya sebagai arus utama politik di Maluku. Pada saat yang sama, dalam hal perolehan suara, dari pemilu ke pemilu suara Golkar terus tergerus yang mencapai puncak pada pemilu 2024 dimana Golkar yang selalu menempatkan kadernya sebagai pimpinan DPRD Maluku harus merelakan untuk berpindah pada kompetitornya karena kalah dalam pemilu. Fenomena ini juga terjadi di beberapa kabupaten/kota di Maluku dimana penurunan suara ini telah berakibat pada hilangnya posisi strategis Golkar dalam kancah perpolitikan lokal. Ini adalah pencapaian yang tidak patut dibanggakan dan harus segera diakhiri.

Poin keempat, adalah perihal kaderisasi yang belum optimal. Golkar adalah satu-satunya Parpol yang mengalami surplus organisasi kader. Jumlah organisasi kader Golkar melimpah dan fokus diberbagai visi gerakan. Namun ironisnya, Golkar dikenal sebagai Parpol dengan proses kaderisasi yang alot.
Di Golkar, kaderisasi terasa sangat seret. Ini karena budaya politik Golkar yang cenderung sentralistik. Mekanisme top down lebih kuat dibanding bottom up. Kekuatan figur mendominasi seluruh lini Parpol. Akibatnya terjadi pelapukan organisasi dalam tubuh partai. Organisasi kader yang sangat banyak, selalu layu sebelum berkembang. Tak ada kader yang dilahirkan secara simultan dari satu era politik ke era selanjutnya. Cenderung terjadi tumpang tindih kader beda usia di era yang sama. Itulah sebabnya, banyak pihak sepakat bahwa di Golkar “antrian terlalu panjang”, dan belum ada penghargaan pada kinerja kader yang berbasis merit system.

Poin kelima, Golkar seringkali dihadapkan pada problem individualitas. Padahal yang sangat dibutuhkan adalah kolektivitas. Akibatnya, kerap terjadi faksionalisme pada beberapa kesempatan yang disebabkan perbedaan kepentingan politik. Faksionalisme lahir dari individualitas. Faksionalisme yang memperkuat iklim demokratisasi, bukan hanya baik bagi Golkar tapi sangat dibutuhkan Parpol ini. Namun, faksionalisme yang selama ini sering terjadi di Golkar justru menggerogoti energi dan basis kekuatan Golkar. Ini bentuk faksionalisme yang berbahaya.
Saatnya Golkar mengarah menjadi miniatur demokrasi Indonesia, bukan miniatur faksionalisme politik Indonesia. Karena jika elit Golkar selalu disibukkan dengan rivalitas dan konflik internal, maka konstituen akan terabaikan. Ikatan emosionalitas politik Golkar dengan konstituen akan melemah. Itulah beberapa poin yang saya rangkum sebagai bagian dari upaya rekonstruksi gerakan Partai Golkar di Maluku sekaligus sebagai catatan awal bagi kepengurusan Partai Golkar Maluku masa bakti 2025-2030.

Kita berharap pelantikan pengurus Partai Golkar Provinsi Maluku kali ini akan mampu menjadikan Golkar Maluku kembali meraih kebesarannya. Apakah Anda setuju ?

*** Penulis adalah Wakil Ketua Korbid DPD Partai Golkar Maluku