Oleh :
Iwan Rumalean
SABUROmedia — Setiap 12 Rabiul Awal, umat Islam memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW. Panggung dihias, shalawat dilantunkan, dan ceramah tentang sirah disampaikan. Namun, pertanyaan setelah acara selesai, apa yang tersisa ?. Maulid seharusnya tidak berhenti pada seremoni.
Maulid adalah kurikulum, pendekatan, metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga untuk mendidik manusia.
Allah berfirman: ” Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul, yang mengajarkan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah” QS. Al-Jumu’ah:02”.
Krisis empati, dan banjir informasi siswa kita temui dengan gampang di era media sosial sekarang ini. Karena itu, kita butuh metode pendidikan Nabi. Pendidikan berbasis Maulid menjadikan akhlak, ilmu, dan kasih sayang Nabi sebagai dasar dalam mendidik di rumah, dan di masyarakat. Tiga Pilar Pendidikan Sirah Nabi adalah Teladan, Akhlak, dan Ilmu.
Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia ”
Ini pesan yang jelas: pendidikan dimulai dari adab. Lihat bagaimana Nabi memperlakukan anak-anak. Beliau memendekkan shalat karena mendengar tangisan bayi. Beliau membiarkan Hasan dan Husain naik di punggungnya saat sujud. Beliau tidak pernah marah pada pembantu selama 10 tahun.
Tugas guru mahamulia, dihargai di masyarakat, Namun demikian, tantangannya juga mahadahsyat, karena bukan sekadar transfer materi pelajaran. Guru itu teladan, murid meniru cara guru berbicara, cara guru marah, cara guru meminta maaf. Pendidikan berbasis Maulid menuntut guru menjadi “Al-Amin” terlebih dahulu. Sebelum menuntut murid untuk disiplin, tanyakan dulu: apakah saya sebagai guru sudah memberi contoh disiplin ?.
Semangat menuntut ilmu untuk semua.
Wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT adalah “Iqra”, yang menyiratkan perintah membaca. Nabi SAW sangat menghargai ilmu. Pada saat Perang Badar, beliau membebaskan tawanan dengan syarat: ajarkan 10 anak muslim untuk belajar membaca dan menulis. Padahal saat itu kaum muslimin tertindas. Artinya, pendidikan adalah prioritas bahkan di tengah krisis sekalipun. Nabi SAW tidak membeda-bedakan murid. Ada sahabat dari kalangan budak seperti Zaid bin Haritsah, ada dari pedagang, ada dari petani. Semua mendapat akses ilmu yang sama, memadai, adil, dan bijaksana.
Pendidikan berbasis Maulid NABI SAW tanpa diskriminasi
Anak pintar, anak lambat, anak kaya, anak miskin, semua berhak dibimbing dengan sabar. Kasih sayang dan rahmat untuk semua: “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”QS. Al-Anbiya: 107”. Nabi itu figur yang tegas, tapi tidak kasar, Beliau menegur dengan lembut. Saat seorang pemuda minta izin untuk berzina, Nabi tidak memaki-maki atau bersuara kasar. Beliau hanya bertanya balik dengan logika dan kasih sayang sampai pemuda itu sadar sendiri. Pendidikan hari ini sering terjebak pada hukuman dan ranking. Padahal yang dibutuhkan anak adalah rasa aman. Anak yang merasa disayangi akan berani bertanya, berani sukses, berani gagal, dan berani jujur.
Implementasi di Tiga Pilar Pendidikan
1. Di sekolah.
Sekolah adalah tempat paling strategis untuk melakukan hal-hal konkret seperti, 5 Menit Sirah: Sebelum pelajaran dimulai, guru bercerita 1 kisah singkat tentang kisah Nabi SAW. Bukan ceramah. Tetapi ajak diskusi: “Kalau kamu jadi pedagang di pasar seperti Nabi, bagaimana caranya jujur saat rugi?”, contoh tema diskusi atau obrolan-obrolan ringan. Atau diskusi “Jumat Maulid dan Aksi: Setiap Jumat, 15 menit shalawat bersama, lalu turun aksi: bersih-bersih masjid, bagi-bagi makanan, kunjungi panti. Intinya, ajarkan anak bahwa cinta kepada Nabi diukur dari perbuatan. Penilaian Karakter: Selain nilai matematika, ada rapor adab. Jujur, tanggung jawab, tolong-menolong.
2. Di keluarga, orang tua adalah guru pertama. Rumah harus jadi “madrasah Maulid”. Dongeng Sirah Sebelum Tidur: Ganti dongeng putri dan pangeran dengan kisah keberanian Nabi saat hijrah, kesabaran Nabi saat kehilangan. Kalau orang tua mudah marah di jalan, sulit berharap anak penyabar. Nabi adalah suami yang membantu pekerjaan rumah. Itu pelajaran kesetaraan.
3. Di masyarakat, Maulid jangan hanya milik panitia masjid. Komunitas bisa membuat:Bazar Buku Sirah dan Parenting Islam; Kompetisi Kaligrafi, Pidato, dan Komik Sirah agar anak kreatif menyalurkan cinta ke Nabi; Bakti Sosial: karena Nabi paling dermawan saat bulan Ramadan dan Rabiul Awal; Tantangan terbesar kita adalah formalitas. Banyak lembaga hanya mengadakan Maulid untuk seremonial, lalu kembali ke pola lama. Anak hafal tanggal lahir Nabi, tapi tidak tahu bagaimana Nabi menyelesaikan konflik multidimensional.
Jalan keluarnya ada 3, yaitu pelatihan guru: guru perlu dibekali dengan cara storytelling sirah yang menarik, bukan monoton. Gunakan media: komik, animasi, podcast sirah. Anak Gen Z tidak bisa didekati dengan metode 20 tahun lalu. Konsisten: Jadikan nilai Maulid sebagai budaya sekolah, bukan agenda tahunan.
Pendidikan berbasis Maulid tidak menciptakan sekolah baru. Ia adalah cara pandang baru. Tujuannya mencetak generasi Rabbaniyah: cerdas otaknya, kuat imannya, lembut hatinya, dan bermanfaat bagi sekitar. Bayangkan jika setiap lulusan sekolah bukan hanya pintar matematika, tetapi juga seperti Nabi: jujur dalam berdagang, adil dalam memimpin, penyayang kepada yang lemah. Bukankah itu yang kita butuhkan untuk memperbaiki bangsa ini ?.
Maulid akan bermakna ketika kita berhenti hanya memperingati, dan mulai meneladani. Karena sebaik-baik peringatan adalah ketika perilaku kita menyerupai yang kita peringati. Wallahu a’lam bishawab. Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/ 2026 M.
*** Penulis adalah Dosen FKIP Universitas Pattimura Ambon