SABUROmedia, Jakarta – Menjelang digelarnya Musyawarah Besar V KOSGORO 1957 pada 5–7 Juni 2026 mendatang di Jakarta, suhu politik di internal organisasi masyarakat (KINO) kelompok induk organisasi Partai Golkar, KOSGORO 1957 mulai menghangat.

Ketua DPP Partai Golkar Bidang Ketenagakerjaan dan Profesi, La Ode Safiul Akbar mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Pimpinan Pusat PPK Kosgoro 1957 Periode 2026–2031.

Dalam deklarasinya yang digelar di Kawasan Ancol Jakarta Utara Minggu (24/05/2026), La Ode berkomitmen untuk mengakarkan kembali KOSGORO 1957 sebagai Organisasi Karya sesuai tujuan sejarah dan nilai yang diwarisinya.

Pria berdarah Muna, Sulawesi Tenggara, itu memulai perjalanan hidupnya dari bawah. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kampung halaman, ia merantau ke Pulau Jawa dan menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kosgoro didirikan oleh Mas Isman, mantan Komandan Tentara Pelajar Jawa Timur/TRIP sekaligus ayah dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Hayono Isman.

Organisasi ini memiliki semboyan Tri Dharma yakni Pengabdian, Kerakyatan dan Solidaritas, serta menaungi sejumlah badan dan organisasi seperti Gema Kosgoro, GM Kosgoro, Bamuhas, Wanita Kosgoro hingga LBPH Kosgoro

Sebagai informasi, Kosgoro 1957 berdiri pada 10 November 1957 dan merupakan salah satu Kelompok Induk Organisasi (KINO) bersama SOKSI dan MKGR yang melahirkan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 20 Oktober 1964.

Para senior Kosgoro 1957 yang kharismatik turut hadir memberikan restu dan dorongan moral. Tak ketinggalan, para sesepuh Partai Golkar juga menyatakan sikap serupa, menilai Laode sebagai figur yang tepat untuk membawa Kosgoro 1957 lebih modern, solid, dan berpengaruh. Dari sisi organisasi, banyak pengurus Partai Golkar di tingkat pusat hingga daerah yang secara diam-diam tetapi tegas memberikan dukungan penuh.

La Ode Safiul Akbar berencana merumuskan tantangan kompetisi global, disrupsi teknologi, ketimpangan ekonomi, krisis kaderisasi, dan perubahan sosial yang sangat cepat sebagai tantangan tatakelola sumber daya baik manusia dan alamnya.

Hal ini sangat relevan untuk dikelola KOSGORO 1957, yang tujuan dasarnya adalah mengelola bangsa yang baru merdeka agar mampu mengentaskan tantangan republik yang saat itu masih belia,” terang La Ode.

Ia juga mengajak kepada seluruh kader, agar KOSGORO 1957 tidak boleh hanya bisa ditemukan dalam ingatan sejarah, tapi organisasi yang hadir dalam kehidupan.

Yang menarik, dukungan dari para Ketua PDK (Pimpinan Daerah Kosgoro) Provinsi se-Indonesia juga disebut sangat masif. Namun, karena situasi yang makin memanas, jumlah pastinya dirahasiakan. Hanya sebagian kecil nama yang dipublikasikan secara terbatas. Hal ini dilakukan menyusul adanya tekanan dan ancaman dari kubu calon Ketua Umum lainnya, Sari Yulianti, kepada seluruh Ketua PDK Provinsi. Menurut kesaksian beberapa ketua PDK, mereka ditekan secara intensif agar tidak memberikan dukungan kepada Laode Safiul Akbar.

Selain restu resmi dari Ketua Umum Partai Golkar yang menjadi angin segar bagi deklarasi ini, sejumlah nama tokoh muda dan berpengaruh juga ikut menyatakan dukungan terbuka. Di antaranya adalah Fadh A Rafiq, Arief Rosyid, Said Aldi Al Idrus, serta masih banyak lagi tokoh dan aktivis organisasi yang datang secara sukarela.

“ Ketum Bahlil sudah merestui saya maju jadi Ketum Kosgoro,” kata La Ode dalam keterangan persnya.

Restu yang dimaksud merujuk kepada Bahlil Lahadalia selaku Ketua Umum Partai Golkar.

La Ode juga menekankan pentingnya kaderisasi di tubuh organisasi untuk menyiapkan generasi pemimpin baru di lingkungan Golkar.

Ia menyebut kader Kosgoro ke depan harus memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan kompetensi profesional agar mampu menjawab tantangan politik maupun ekonomi.

Visi La Ode
La Ode Safiul Akbar menegaskan visinya untuk membawa KOSGORO 1957 kembali hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat, bukan sekadar menawarkan janji politik.

Menurutnya, visi tersebut akan diterjemahkan melalui tiga agenda utama organisasi.

Pertama, menghadirkan kembali nilai masa lalu sebagai fondasi organisasi.

Kedua, menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masa kini. Ia menekankan Kosgoro 1957 harus aktif mendorong ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM, penguatan koperasi modern, peningkatan literasi digital ekonomi, serta pembangunan ekosistem usaha yang berpihak kepada masyarakat kecil.

Ketiga, menyiapkan masa depan melalui kaderisasi unggul. La Ode mengatakan kepemimpinan organisasi tidak cukup hanya mengelola kebutuhan hari ini, tetapi juga harus melahirkan pemimpin masa depan.

Dalam orasinya, La Ode juga menegaskan bahwa kekuatan Partai Golkar di masa depan sangat bergantung pada kokohnya akar organisasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Ia menyebut Kosgoro 1957 sebagai salah satu akar penting yang harus kembali mengambil peran historisnya sebagai penggerak kaderisasi, penguat gagasan, dan motor pemberdayaan ekonomi rakyat di lingkungan Golkar.

La Ode Safiul Akbar diketahui menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya sebelum merantau ke Pulau Jawa dan menimba pendidikan.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Ateneo de Manila University, Filipina.

Jejak organisasinya juga terbilang panjang di lingkungan organisasi kepemudaan afiliasi Golkar dan Kosgoro. Ia pernah aktif di Barisan Muda Kosgoro (BMK 1957), KNPI hingga AMPI.

Dalam BMK 1957, La Ode pernah menjadi salah satu Ketua saat organisasi tersebut dipimpin Airlangga Hartarto.

Sementara di KNPI ia menjabat Ketua OKK DPP KNPI dan di AMPI dipercaya sebagai Ketua Kaderisasi DPP AMPI.

Pengalaman organisasi tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun jejaring kader lintas generasi di tubuh Kosgoro 1957.

Tak hanya aktif di organisasi politik dan kepemudaan, La Ode juga memiliki rekam jejak di sektor dunia usaha.

Saat ini ia tercatat sebagai Ketua DPP Partai Golkar Bidang Ketenagakerjaan dan Profesi serta menjabat Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi).

Posisi tersebut dinilai memperkuat kapasitasnya dalam mengelola organisasi besar dengan jaringan anggota tersebar di berbagai daerah.

Dalam sejumlah kesempatan, La Ode disebut membawa visi transformasi Kosgoro 1957 menuju organisasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital dan penguatan kader muda.

Ia ingin menjadikan Kosgoro sebagai penghubung antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat akar rumput.

Salah satu gagasan yang kerap disampaikan ialah mendorong digitalisasi koperasi dan membangun ekosistem bisnis kader muda melalui inkubator usaha berbasis organisasi.

Dalam dokumen tersebut, La Ode juga menegaskan bahwa kader Kosgoro harus hadir sebagai “problem solver” masyarakat, bukan sekadar mesin politik saat momentum Pemilu.

Selain La Ode, perhatian kader juga mengarah pada petahana Dr Dave Akbarshah Fikarno Laksono., ME yang saat ini menjabat Wakil Ketua Komisi I DPR RI, yang masih memiliki pengaruh kuat di internal organisasi.

Nama Bendahara Umum DPP Partai Giolkar, Sari Yuliati, yang saat ini juga menjabat Wakil Ketua DPR RI pun ikut disebut-sebut sebagai figur potensial dalam konfigurasi kepemimpinan baru Kosgoro 1957. (SM)