Oleh :
Zahrudin Daud Latuconsina., S.Sos., MPA
SABUROmedia — Takdirnya, kita yang saat ini diberi nikmat yang tak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata, bisa beribadah, bersimpuh, dan berdoa di tempat yang mustajabah ini.
Kenikmatan kita saat ini, menjadi bagian dari nikmat-nikmat Allah lainnya yang tidak bisa kita hitung satu persatu. Allah berfirman, yang Artinya: “ Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 18).
Yang jangankan kita manusia biasa. Allah SWT dan para Malaikat-Nya pun bershalawat kepada beliau.
ِ
Hadirin dhuyufurrahman yang dimuliakan Allah SWT..,
Tiada kata yang paling layak kita ungkapkan saat ini untuk mensyukuri nikmat tak terhingga yang telah dikaruniakan Allah kepada kita semua, selain kalimat Alhamdulillah.., wal hamdulillah.., tsummal hamdulillahi rabbil alamin.
Segala puji bagi Allah yang telah menakdirkan dan memilih kita dari miliaran manusia di muka bumi ini untuk bisa hadir di padang Arafah, untuk melaksanakan misi ibadah suci, ibadah haji. Banyak orang yang memimpikan ingin seperti kita saat ini. Banyak umat Islam yang tengah berjuang untuk menunggu dipanggil bisa menjalankan rukun Islam yang ke lima ini.
Namun Shalawat ini juga merupakan ungkapan terima kasih kepada beliau yang telah membawa risalah suci agama Islam. Dengan jasa agung beliau, kita bisa menikmati manisnya Islam dan kita termasuk orang-orang yang sangat beruntung memilih agama Islam sebagai petunjuk dalam mengarungi kehidupan ini.
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 85 :
َو َم ْن يَّ ْبتَغِ َغ ْي َر ا ْ ِل ْس ََل ِم ِد ْينًا َفلَ ْن يُّ ْقبَ َل ِم ْن “هُ َو ُه َو فِى ا ْ ٰل ِخ َرةِ ِم َن ا ْل ٰخ ِس ِر ْي َن
Artinya: “ Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali- kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.
” Hadirin dhuyu^ furrahma^ n yang dimuliakan Allah SWT..,
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 96 dan 97 :
” Muslim yang paripurna, Muslim yang sempurna, Muslim yang mabrur yang akan mendapatkan balasan surga dari Allah SWT.
Rasulullah bersabda, yang Artinya: “ Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”
َّمقَا ُم اِ ْب ٰر ِه ْي َم ە“ َو َم ْن دَ َخلَ ه َكا َن ٰا ِمنًا ۗ َو ِ ٰلِلِ َعلَى النَّا ِس ِح ُّج فِ ْي ِه ٰا ٰي ت َبيِِّ ٰن ت
Artinya: ” Haji Mabrur tidak ada imbalan lain baginya kecuali surga”. (HR Imam Ahmad)
Dalam melaksanakan ibadah haji kita mengawali dengan mengenakan pakaian ihram berwarna sama yakni putih yang melambangkan kesucian.
Hadirin dhuyu^ furrahma^ n yang dimuliakan Allah SWT..,
Rangkaian dua ayat inilah yang menjadi dasar disyariatkannya ibadah haji untuk umat Islam.
Ayat ini memiliki makna historis untuk mengingatkan kita bahwa di Tanah Suci yang diberkahi inilah pertama kali dibangun Baitullah. Dari tanah suci yang saat ini kita bisa merasakan auranya secara langsung ini pulalah Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk menjadi Rahmatan lil Alamin (rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam).
Dan hanya di Tanah Suci ini pulalah kewajiban haji bisa dilaksanakan untuk menjadikan kita mengenal dari mana kita berasal, setinggi apa pun jabatan kita, sebanyak apa pun harta kita, apa pun warna kulit kita, semuanya mengenakan pakaian ihram putih melambangkan kembalinya manusia kepada Allah, pemilik alam semesta.
Semua identitas, semua jabatan, dan kekayaan ditanggalkan seraya menyadari bahwa kita semua adalah sama di hadapan Allah swt. Menyadari bahwa tidak ada yang perlu disombongkan selama hidup di dunia. Semua akan kembali kepada-Nya dengan kain putih yang membungkus kita. Hanya amal ibadah yang akan dibawa menghadap yang Kuasa, Allah swt. Selanjutnya kita melaksanakan wukuf di padang Arafah sebagai puncak dari ibadah haji.
Rasulullah bersabda:
َح ُّج َع َ َرفةُ فَ َم ْن أَ ْد َر َك لَ ْ َيلةَ َع َ َرفةَ قَ ْب َل ُطلُو ِع ا ْلفَ ْج ِر ِم ْن لَ ْيلَ ِة َج ْمع„ فَقَ ْد تَ َّم َح ُّجهُ ا ْل
Artinya: ” Haji itu Arafah. Siapa saja yang mendapati malam Arafah sebelum terbit fajar malam Muzdalifah (malam Idul Adha), maka sempurnalah hajinya, ” (HR Ahmad)
Wukuf, yang memiliki makna berhenti, merupakan lambang bahwa pada satu titik kehidupan, kita harus berhenti untuk melakukan muhasabah, perenungan, evaluasi, mendekatkan diri dan melambungkan jiwa serta nilai-nilai spiritual kita kepada Allah SWT.
Wukuf menjadi momentum bagi kita untuk menyadarkan diri bahwa kita adalah makhluk yang sangat lemah di hadapan Allah SWT.
Kita akan mempertanggungjawabkan segala yang telah lakukan selama di dunia ini, nanti di yaumul mahsyar. Sebuah masa di mana manusia dari Nabi Adam sampai dengan kiamat nanti dikumpulkan dan akan dihisab amal perbuatannya.
Wukuf di Arafah, di mana seluruh dan cita-cita. Semangat thawaf dan sa’i harus mampu kita wujudkan dalam setiap lini kehidupan kita sehari- hari. Semangat untuk terus menjadi hamba yang baik dalam menjalankan misi utama di dunia yakni menjadi khalifah dan menyembah Allah SWT.
Selain itu, berkumpulnya jutaan jamaah dari berbagai negara dalam satu tempat ini memberi hikmah yang mendalam bagi kita. Perbedaan – perbedaan yang ada, mulai dari ras, bangsa, tradisi, dan bahasa serta perbedaan lainnya bukanlah untuk dipertentangkan. Namun semua ini bisa menyatu dalam rangka saling memahami satu sama lain.
Allah SWT berfirman:
ُس ِانَّا َخلَ ْق ٰن ُك ْم ِِّم ْن ذَ َك „ر َّواُ ْن ٰثى َو َجعَ ْل ٰن ُك ْم ُشعُ ْوبًا َّوقَبَ ۤا ِٕى َل ِلتَعَا َرفُ ْوا “ۗ ٰيٰٓاَيُّ َها النَّا
اَ ْليَ ْو َم نَ ْختِ ُم َع ٰلٰٓى اَ ْف َوا ِه ِه ْم َوتُ َك ِلِّ ُمنَآٰ اَ ْي ِد ْي ِه ْم َوتَ ْش َهدُ اَ ْر ُجلُ ُه ْم بِ َما َكانُ ْوا يَ ْك ِسبُ ْو َن
Artinya: “ Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Hadirin dhuyu^ furrahma^ n yang dimuliakan Allah SWT..,
Selain melakukan kontemplasi (perenungan diri), dalam ibadah haji kita juga diajarkan untuk senantiasa optimis dalam menjalani kehidupan ini. Hal ini tercermin dari proses thawaf dan sa’i yang terus bergerak menuju titik tujuan sebagaimana hidup untuk menggapai harapan.
Artinya: “ Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS Al-Hujurat: 13).
Selain lebih arif dalam menyikapi perbedaan, dalam ayat ini Allah SWT juga mengingatkan kepada kita untuk senantiasa menjadi orang yang bertakwa. Allah SWT menegaskan bahwa ketakwaan merupakan hal yang sangat penting karena merupakan standar yang ditetapkan oleh Allah SWT, apakah seseorang masuk ke dalam golongan orang-orang yang mulia atau tidak.
Dengan ketakwaan, kehidupan kita akan benar – benar terarah dan sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Islam. Karena takwa sendiri adalah sebuah sikap mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Orang yang bertakwa merupakan orang yang paling mulia di sisi Allah SWT. Dalam haji, takwa juga merupakan bekal yang paling baik yang harus dibawa.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197 :
Artinya: “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
Hadirin dhuyu^ furrahma^ n yang dimuliakan Allah SWT..,
Untuk mewujudkan hikmah dari rangkaian ibadah haji yang sudah dijelaskan ini, mari kita berdoa, memohon kepada Allah SWT di tempat dan waktu yang mustajabah ini, semoga kita menjadi hamba yang dicintai dan disayangi Allah SWT.
Semoga kita ُdiberikan kekuatan dan kesehatan serta kelancaran dalam menjalankan prosesi ibadah haji ini sampai dengan selesai. Semoga kita diberikan kekuatan untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji setelah kita menyelesaikan seluruh rangkaiannya.
*** Penulis adalah Karo Kesra Setda Provinsi Maluku