SABUROmedia, Kalimantan Barat — Sebuah babak baru dimulai untuk organisasi kepemudaan masjid terbesar di Kalimantan Barat. H. Irsan., S.Ag., MH terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Kalimantan Barat, lewat Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VIII BKPRMI Kalbar di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (26/09/2026).

Melalui Tema Utama: “Menyongsong Setengah Abad BKPRMI: Transformasi Gerakan Pemuda Remaja Masjid Menuju Indonesia Emas 2045”, tidak ada voting, tidak ada perdebatan calon — forum sepakat bulat menyerahkan tongkat kepemimpinan kepadanya untuk Periode 2026 – 2031.

Aklamasi semacam ini biasanya menandakan satu hal: rekam jejak yang sudah teruji dan kepercayaan penuh dari akar rumput organisasi.

Apa itu BKPRMI, dan Kenapa Organisasi Ini Penting?

BKPRMI bukan organisasi kemarin sore. Ia dikenal luas lewat program andalannya — Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak (TPQ) — yang selama puluhan tahun menjadi salah satu jalur utama pendidikan mengaji nonformal di Indonesia, dari tingkat kelurahan hingga unit masjid dan musala terkecil sekalipun.

Di level nasional, BKPRMI kini berada di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Nanang Mubarok. Organisasi ini sempat menjadi sorotan publik pada 2024 setelah delegasinya menemui Presiden saat itu, Joko Widodo, di Istana Kepresidenan — termasuk menyampaikan ketertarikan terhadap kebijakan izin tambang bagi ormas keagamaan, menyusul kebijakan serupa yang lebih dulu diberikan kepada PBNU dan Muhammadiyah. Tokoh-tokoh nasional seperti Prabowo Subianto, Erick Thohir, dan Bahlil Lahadalia pun disebut telah menjadi pembina BKPRMI sejak 2014, dengan bantuan berupa ratusan unit kendaraan operasional untuk pengurus wilayah dan daerah di seluruh Indonesia.

Organisasi ini juga sempat “viral” karena diskusi warganet soal nama “remaja” yang dianggap tidak sesuai dengan usia sebagian pengurusnya. Wakil Ketua BKPRMI Pusat, Sedek Bahta, saat itu menjelaskan bahwa nama lengkap organisasi memang mencakup unsur “pemuda” dan “remaja” sekaligus, dan setiap pengurus pusat umumnya telah berproses panjang dari struktur paling bawah — mulai dari tingkat masjid dan musala di kelurahan. Ia menegaskan bahwa yang lebih penting dilihat adalah kontribusi nyata organisasi, termasuk lewat lembaga pendidikan Taman Al-Qur’an yang telah mendidik generasi muda mengaji selama bertahun-tahun.

Kalbar: Melanjutkan yang Berjalan, Menghidupkan yang Tertunda.

Di tingkat provinsi, agenda H. Irsan terdengar realistis dan membumi. Ia tidak menjanjikan revolusi, melainkan kesinambungan: melanjutkan program yang sudah berjalan seperti Festival Anak Saleh Indonesia (FASI), sambil menghidupkan kembali TPQ dan TPA yang selama ini belum optimal.

“Program-program yang sudah berjalan selama ini tentunya akan kita lanjutkan. Yang belum berjalan secara maksimal akan kita aktifkan kembali, termasuk TPQ dan TPA,” ujarnya.

Ia juga menyoroti nasib guru mengaji — sosok yang sering luput dari perhatian meski menjadi tulang punggung pendidikan keagamaan di akar rumput — dan berharap pemerintah kabupaten/kota serta Pemprov Kalbar turut memberikan dukungan bagi keberlangsungan mereka.

Masjid vs Layar Gawai: Tantangan Generasi Digital.

Salah satu keprihatinan terbesar H. Irsan adalah jarak yang makin lebar antara generasi muda dan masjid akibat derasnya arus digitalisasi. Baginya, pembinaan berkelanjutan menjadi kunci agar pemuda dan remaja muslim tidak semakin tercerabut dari kegiatan keagamaan di lingkungan mereka.

Untuk itu, kepengurusan BKPRMI Kalbar ke depan akan dirancang lintas generasi — melibatkan pemuda, remaja, sesepuh, dan tokoh agama sekaligus. Filosofinya sederhana: energi anak muda dipadukan dengan jam terbang para sesepuh yang telah lama bergelut di dunia pembinaan keagamaan.

Bukan Cuma Soal Ibadah: Dorongan ke Arah Kemandirian Ekonomi akan terus dilakukan.

Menariknya, visi H. Irsan tidak berhenti di ranah spiritual. Ia mendorong pemberdayaan ekonomi bagi pemuda dan remaja masjid, khususnya lewat sektor pangan dan pertanian, dengan memanfaatkan program kerja sama yang sudah tersedia dari kementerian dan instansi terkait.

“Kita sebenarnya tinggal menjemput bola… Perekonomian umat juga menjadi harapan kita semua. Pemuda dan remaja masjid harus bisa menjadi contoh bahwa mereka mampu bersaing dan mandiri,” katanya.

DPD sebagai Ujung Tombak

Di penutup, H. Irsan yang melanjutkan kepemimpinan sebelumnya Dr. Firdaus Zain., S.Pd., M.Si menegaskan pentingnya sinergi antara DPW BKPRMI Kalbar dengan DPD di tingkat kabupaten/kota, yang ia sebut sebagai ujung tombak organisasi dalam menjangkau masyarakat secara langsung.

Dengan mandat aklamasi di tangan, kini publik menanti bagaimana visi ini diterjemahkan ke program nyata — mulai dari ruang-ruang TPA di pelosok Kalbar hingga sinergi lintas kementerian untuk pemberdayaan ekonomi umat. (SM)