Oleh :
DR. M. SABIL RACHMAN., M.Si

SABUROmedia — Pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) KOSGORO 1957, harus kita maknai bukan sekadar agenda konstitusional lima tahunan untuk meregenerasi kepemimpinan, tetapi sebagai momentum penting dalam rangka merefleksikan nilai-nilai ideologis organisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa dan bernegara. Hal ini penting agar Mubes ini tidak terjebak menjadi ritual politik dan formalitas belaka yang kehilangan ruh orientatifnya bagi keberlanjutan institusi.

Sikap tegas ini mesti tersampaikan karena masa depan KOSGORO 1957 bergantung pada komitmen dasar kita terhadap esensi agenda lima tahunan Mubes yang tidak punya pilihan konstitusional lain kecuali menjadikan forum Mubes untuk sangat terhormat membahas keberlanjutan nafas dan nyawa organisasi guna tidak dipermainkan atas nama emosi dan kepentingan belaka jangka pendek dan fragmatis dengan menghilangkan nilai- nilai substantitf masa depan sebagai bentuk penerapan nyata Tri Dharma yakni Pengabdian, Kerakyatan, dan Solidaritas dalam memberikan energi bagi organisasi. Pada titik inilah komitmen KOSGORO 1957 diuji untuk mampu menyelaraskan nilai-nilai dasar dan komitmen serta jati dirinya agar tetap relevan bagi perkembangan zaman yang berubah dengan sangat cepat.

Dengan merawat dan menjaga jati diri perjuangannya, organisasi ini tidak hanya siap menghadapi tantangan masa depan, tetapi juga diharapkan dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Melalui tulisan ini, Saya ingin mengulas tentang dinamika dan pokok-persoalan Mubes V dan beberapa langkah- langkah yang harus dilakukan agar organisasi ini tetap bisa kita jaga eksistensinya meski perubahan terjadi sangat cepat itu.

Pada Mubes V KOSGORO 1957 di Jakarta tanggal 5–7 Juni 2026, saya dan sebagian kader menilai terjadinya perbedaan dan polarisasi yang tajam dibanding mubes- mubes sebelumnya. Harapan atas lahirnya forum yang tidak saja menjadi musyawarah rutin untuk suksesi kepemimpinan tetapi juga mampu menawarkan gagasan dan visioner tidak dapat terwujud. Mereka ingin forum ini menjadi ruang dialog untuk saling bertukar ide demi kemajuan organisasi ke depan. Namun sayangnya, dinamika yang berkembang justru bergeser menjadi ajang perebutan kekuasaan belaka.

Natalis Situmorang selaku Ketua Panitia Pengarah (SC) yang semula diharapkan dapat merumuskan gagasan- gagasan baru bagi organisasi dan menjadi pemandu Mubes juga tidak menunjukkan kapasitas dan ini tercermin dari sikap Ketua SC yang selain tidak objektif karena terjebak dengan pilihan calon tertentu juga tidak mampu mengakomodasi pemikiran-pemikiran baru. Bahkan terakhir ketua SC ikut lakukan WO dan meninggalkan persidangan Mubes.

Alih- alih kita berharap dapat memandu dialog ideologis yang konstruktif dan hidupkan tradisi intelektual justru sikapnya menggiring jauh harapan- harapan ideologis tersebut. Mubes justru banyak menyita waktu membahas persoalan administrasi terkait status kepesertaan, hal yang semestinya sudah tuntas sebelum Mubes dimulai jika sejak awal aturan ditegakkan tanpa pretensi. Perdebatan yang cukup lama soal ini cendrung dinilai sebagai awal kebuntuan persidangan dan Mubes V cendrung kehilangan esensinya serta gagal merumuskan gagasan strategis organisasi, kita kemudian terjebak hal-hal tehnis belaka.

DEFISIT IDE DAN GAGASAN

Sejatinya perhelatan Mubes V KOSGORO 1957 merupakan momentum forum tertinggi untuk melakukan refleksi, mengevaluasi arah kebijakan, dan merumuskan kembali strategis program organisasi ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Artinya ,bahwa Mubes kali ini bukan sekadar agenda ritual lima tahunan pergantian kepemimpinan, melainkan sebuah ruang sakral di mana ide-ide besar diuji dan visi strategis organisasi dilahirkan kembali.

Sebuah refleksi jujur harus kita suarakan, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sebab, jika kita mencermati dinamika pra-Mubes yang berkembang saat itu, ada tanda yang menunjukkan kepada kita bahwa organisasi cenderung riuh karena kontestasi figur, tetapi sunyi dari perdebatan gagasan. Figur yang satu bicara gagasan sambil konsolidasi dukungan suara sementara yang lain sibuk lakukan langkah- langkah dan cendrung halalkan segala cara bahkan kampanye hitam termasuk antara lain penetapan Plt saat dan sebelum Mubes berlangsung yang tanpa diteken dan diketahui oleh Sekretaris Jenderal. Ini adalah cara yang destruktif bagi eksistensi KOSGORO 1957.

Ini adalah lampu kuning yang harus segera kita tinggalkan karena menunjukkan begitu buruknya tata kelola organisasi yang selama ini kita jaga bersama dan itu artinya KOSGORO 1957 sedang alami defisit karakter kepemimpinan berbasis Tri Dharma KOSGORO. Siapapun dapat menyaksikan bahwa sangat nyata ada pemaksaan kehendak dengan menerbitkan Plt PDK I Provinsi untuk kepentingan calon tertentu.

Persaingan memperebutkan pucuk pimpinan KOSGORO 1957, sudah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan Mubes V. Riuh rendah konsolidasi, lobi-lobi politik, hingga perdebatan di ruang publik sempat menumbuhkan harapan besar bagi banyak kader. Publik dan internal organisasi mengira bahwa ketegangan yang terjadi pada fase pra-Mubes tersebut merupakan tanda dari hidupnya dialektika pemikiran untuk membawa KOSGORO 1957 menjawab tantangan zaman ke depan. Namun, ketika forum resmi akhirnya digelar pada 5–7 Juni 2026 kemarin, ekspektasi tersebut langsung berbenturan dengan kenyataan pahit. Ketegangan yang memanas sejak awal ternyata bukan dipicu oleh pertarungan gagasan atau perdebatan ideologis yang sehat, melainkan akibat benturan kepentingan yang sangat pragmatis.

Hal ini menunjukkan sebuah fakta bahwa kontestasi kepemimpinan menjelang Mubes V KOSGORO 1957 mengalami kemunduran atau bahkan defisit dalam berdemokrasi di internal organisasi kita. Dinamika yang terjadi saat itu sebenarnya telah mencederai warisan nilai leluhur dari para pendiri (the founding father) kita, yang tertuang jelas dalam esensi Tri Dharma. Dimana nilai-nilai dasar seperti musyawarah mufakat, saling menghargai, dan menjaga kehormatan sesama kader, mendadak bias terkalahkan oleh kalkulasi kepentingan dan besarnya keinginan untuk memegang kendali kekuasaan belaka.

Dinamika ini berawal dari perdebatan soal waktu pelaksanaan Mubes, yang wajib menyesuaikan dengan masa bakti kepengurusan PPK KOSGORO 1957 yang berakhir pada 2 Juni 2026. Kelompok yang mendesak agar Mubes digelar tepat waktu memiliki alasan kuat: mereka ingin menjaga legalitas organisasi tetap aman dan tidak bermasalah di kemudian hari. Sebenarnya dinamika organisasi boleh saja memanas, namun ia harus tetap tunduk pada koridor moral dan kesepakatan kolektif.

Namun tragisnya, demi mengamankan jalannya suksesi, ada harga mahal yang harus dibayar, yaitu pudarnya rasa percaya dan runtuhnya komitmen terhadap kesepakatan bersama. Kondisi ini didukung oleh fakta adanya pembatalan surat pembekuan izin akses informasi layanan administrasi hukum PPK KOSGORO 1957 dari Kementerian Hukum RI, yang pada hakikatnya tindakan ini oleh beberapa pimpinan dianggap “melanggar” Pedoman Organisasi Tata Kerja PPK KOSGORO 1957 dan bahkan telah mengabaikan nilai-nilai perjuangan organisasi terutama Solidaritas Kader sebagai bagian dari Tri Dharma. Surat Kemenkumham tanggal 11 Maret 2026 ini adalah jawaban terhadap surat atas nama PPK KOSGORO 1957 tanggal 9 Februari 2026 yang diteken sendiri oleh Pak Dave Laksono sebagai Ketua Umum tanpa diteken oleh Sekretaris Jenderal. Sesuai PO maka seluruh surat keluar harus diteken oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.

Dinamika ini semakin memanas akibat adanya pertemuan khusus beberapa elit organisasi dalam bentuk ‘silaturahmi”. Sebenarnya bukan esensi silaturahminya yang disorot, melainkan momentumnya kurang tepat. Karena digelar terlalu dekat dengan jadwal Mubes, sehingga pertemuan ini telah memicu gejolak di kalangan kader KOSGORO 1957 terutama pengurus di daerah tingkat Provinsi, Kota dan Kabupaten.

Keringnya Ide dan Gagasan Tri Dharma Sebagai kader sejati tidak boleh menjadikan organisasi KOSGORO 1957 menjadi sebuah monumen kuno yang hanya bangga dengan cerita masa lalu. Kita harus bangga dengan Tri Dharma sebagai kompas hidup dan jangkar bagi organisasi. Namun ironis, pada saat Mubes, sebagian pemimpin organisasi justru kehilangan kemampuan membaca arah mata angin ? Artinya, ketika keinginan politik mengalahkan nalar kritis, maka yang lahir sesungguhnya kedangkalan gerakan sosial. Mubes kali ini sudah kehilangan ruhnya, jika kita terus membiarkan rahim organisasi ini kering dari perdebatan intelektual yang sehat. Di sinilah titik nadir itu bermula. Saat kita begitu lihai menghitung kalkulasi dukungan, namun teramat miskin dan kering dalam merumuskan gagasan Tri Dharma untuk masa depan organisasi.

Atmosfer pra-Mubes saat itu, tidak lagi mencerminkan ruang dialektika yang sehat, atau lahirnya perdebatan ideologis tentang bagaimana membesarkan KOSGORO 1957 ke depan. Justru dinamika yang terjadi pada akar rumput termasuk kegelisahan para kader di daerah

bersumber dari kalkulasi politik pragmatis jangka pendek. Berbagai intrik suksesi kekuasaan dan pertemuan yang salah momentum, telah mengaburkan substansi Mubes itu sendiri. Akibatnya, energi organisasi habis terkuras untuk meredam gejolak internal demi mengamankan kepentingan politik menjelang Mubes. Seolah-olah Mubes ini fokusnya hanya sekadar urusan siapa mendapat apa, maka Mubes sebagai panggung konsolidasi nasional, kita reduksi menjadi sekadar arena perebutan kekuasaan, sehingga substansi utama dari organisasi kita ini secara otomatis terpingirkan dan terabaikan.

Dampak negatif dari pemikiran pragmatisme ini adalah kemandulan gagasan. Tri Darma KOSGORO 1957 yang seharusnya dipertajam lewat draf-draf rekomendasi Mubes V, justru terabaikan dan terjebak menjadi sekadar ritual stempel legalitas kekuasaan tanpa melahirkan terobosan kebijakan strategis organisasi yang berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya para kader di akar rumput.

Sebuah organisasi besar akan mati perlahan bukan karena kekurangan kader,melainkan karena mandulnya ide dan gagasan. Ketika forum tertinggiMubes hanya sibuk mengurusi siapa duduk di kursi mana, di situlah kita sedang membunuh masa depan organisasi. Kita tidak boleh membiarkan KOSGORO 1957 terjebak dalam rutinitas politik pragmatis yang miskin terobosan.

Agar KOSGORO 1957 sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar tidak mandul gagasan, solusinya adalah kita harus berani mendobrak tradisi lama. Kita perlu membuka sumbatan komunikasi antara elite pusat dan kader di akar rumput. Kita optimalkan ruang debat ideologis yang sehat, dan ciptakan serta wujudkan program kerja yang benar- benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan rakyat untuk memenuhi kebutuhannya.

Kita menyadari bersama bahwa KOSGORO 1957 bisa bertahan hingga hari ini melewati berbagai gelombang zaman, karena ia berdiri di atas fondasi yang kokoh, bukan di atas kepentingan individu dan kelompok yang rapuh. Fondasi itu adalah pengabdian, kerakyatan, dan solidaritas. Seharusnya ketika kita berkumpul dalam organisasi terutama forum tertinggi Mubes, esensi itulah yang harus kita bawa ke dalam ruang sidang. Tri Dharma KOSGORO 1957 harus hadir sebagai nilai dasar dalam setiap Mubes, Ia menjadi penyaring bagi setiap ide, dan menjadi landasan bagi setiap kebijakan yang akan kita rumuskan demi masa depan dan kejayaan organisasi yang kita cintai.

KHITTOH PERJUANGAN KOSGORO 1957

Sejarah selalu melahirkan persimpangan jalan bagi setiap organisasi besar seperti KOSGORO 1957. Apakah ia akan tumbuh menjadi institusi yang visioner, atau menyusut sekadar menjadi mesin politik yang pragmatis? Jawaban dari pertanyaan itu tidak ditemukan dalam lembar- lembar laporan administratif, melainkan pada keberanian para kadernya untuk menengok kembali khitah perjuangan.

Sejak awal KOSGORO 1957 tidak pernah dirancang hanya untuk menjadi penonton pasif di pinggiran panggung kekuasaan, apalagi sekadar wadah berkumpul tanpa arah. Organisasi ini mengakar pada doktrin Tri Dharma, yang menjadi jangkar ideologis bagi jutaan kadernya di

seluruh pelosok negeri yang memiliki modal menjadi aktor dan pelaku politik. Hari ini, pasca Mubes V, kita dihadapan pada posisi di persimpangan zaman yang kian rumit, Kehidupan sosial, ekonomi dan politik Indonesia telah bergeser jauh dan berubah drastis.

Kita menyaksikan bagaimana realitas politik kontemporer yang padat modal, pragmatis dan transaksional, terus mendesak masuk ke dalam ruang- ruang pengambilan keputusan organisasi.Tarikan kepentingan jangka pendek ini sering kali begitu kuat, menguji batas kesabaran ideologis, dan memaksa kita kalkulatif untung-rugi politik secara praktis. Ini bukan DNA KOSGORO 1957 dan karena itu maka harus dijauhi. KOSGORO 1957 harus kembali ke khittoh dan semangat perjuangan dengan tetap berpedoman pada Tri Dharma dan Pedoman Perjuangan KOSGORO. Karena itu membiarkan pragmatisme mendikte arah organisasi kita,pasca-Mubes V adalah cara tercepat untuk mematikan KOSGORO 1957 dari dalam. Ketika pemimpin hanya sibuk mengurus diri dengan kepentingannya dan membiarkan seluruh level struktur organisasi tertidur dengan janji dan harapan pada semangat pengabdian sebagai jimat ampuh untuk menanamkan ekpektasi pada KOSGORO 1957 maka ini adalah langkah dan pil pahit.

Ini adalah pengkhianatan nyata terhadap khitah perjuangan yang tumbuh sejak tahun 1957 yang tercermin sebagai bentuk militansi para kader yang setia merawat organisasi di akar rumput lalu KOSGORO 1957 seperti hari ini. Oleh karena itulah maka Menakar arah orientasi kepemimpinan KOSGORO 1957 hari ini berarti menolak ikut arus pragmatisme politik yang membodohi. Karena itu maka kita membutuhkan nakhoda yang tidak sekadar pintar pidato di atas podium atau sibuk memelihara sisa faksi pembelahan forum Mubes tetapi harus mampu menunjukkan komitmen kuat mengabdi penuh untuk organisasi.

Saat ini KOSGORO 1957 membutuhkan kepemimpinan yang ideologis namun taktis, yang berani menyudahi perbedaan, merapatkan kembali barisan yang renggang, dan membawa organisasi ini kembali pada kodratnya: sebagai penentu arah sejarah baru bangsa yang tegak berdiri bersama rakyat.

Pasca Mubes V, kepemimpinanKOSGORO 1957 sedang di uji untuk menavigasi organisasi di antara tradisi pragmatisme politik dan tuntutan kembali ke khitah perjuangan. Kita berharap kepada nakhoda baru, agar ideologi organisasi tidak boleh mandek menjadi slogan tekstual di dinding sekretariat. Tetapi Pemimpin baru harus mampu menerjemahkan ulang Tri Dharma menjadi manifesto hidup yang dapat membumi.

Dalam arti lain bahwa Pemimpin Baru tidak boleh berorientasi hanya pada urusan bagi-bagi kekuasaan posisional atau konsolidasi elite semata. Namun ekpektasinya harus lebih jauh dari titik itu yakni bagaimana kepemimpinan hari ini dituntut secara kritis untuk membaca ulang kompas organisasi. Apakah kita akan membiarkan KOSGORO 1957 larut dalam pragmatisme yang mendangkalkan fungsi kaderisasi dan orientasi serta komitmen kerakyatan atau sebaliknya, kita harus berani mengambil sikap untuk membumikan kembali Tri Dharma sampai ke akar rumput. Disinilah hakekat dari Pemimpin yang kembali kepada Khitah Perjuangan KOSGORO 1957.

ARAH PERJUANGAN KOSGORO 1957

Menakar arah perjuangan berarti merumuskan kembali posisi strategis dan langkah- langkah baru untuk meningkatkan daya tawar organisasi dalam konstelasi politik nasional. Pasca-Mubes V, kita berharap segala perbedaan pilihan dan dinamika yang sempat terjadi diletakkan sebagai proses kedewasaan berdemokrasi yang ditunjukkan dengan kesediaan menerima hasil pilihan politik dalam Mubes.

Kini saatnya menyatukan kembali langkah perjuangan dalam KOSGORO 1957. Kita harus memastikan bahwa setiap pokok pikiran organisasi memiliki pengaruh nyata dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Keseluruhan pikiran sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengelola organisasi. Hal ini sangat penting karena harus dipahami bahwa pikiran- pikiran tersebut adalah catatan sejarah yang sangat penting bagi literasi organisasi sebesar KOSGORO 57. Sejarah mencatat bahwa sebagai salah satu pilar utama yang membidani lahirnya Partai Golkar, KOSGORO 1957 bukan sekadar wadah berkumpul. Lebih dari itu, organisasi ini adalah mesin pemikir dan penggerak sekaligus yang sejak awal konsisten mengusung spirit dan daya juangTri Dharma: Pengabdian, Kerakyatan, dan Solidaritas.

Saat ini organisasi kita di hadapan tantangan dan dinamika perubahan yang kian kompleks, spirit itu tidak boleh mandek menjadi slogan semata. Sudah saatnya kita menakar kembali arah perjuangan organisasi, memastikan bahwa geraknya tetap lurus membela kepentingan rakyat banyak.

Momentum pasca-Mubes V ini menjadi titik balik yang krusial. Hari ini, kita berdiri ditengah landskap politik dan sosial yang sudah jauh berubah jika dibandingkan dengan era awal pendirian organisasi, bahkan 5 (lima) tahun yang lalu. Maka, arah perjuangan KOSGORO 1957 tidak boleh lagi terjebak pada romantis untuk menengok sejarah masa lalu melainkan harus dapat memahat sendiri batu bata sejarahnya.

Saat ini, kita dituntut secara kritis untuk melihat kembali peta organisasi kemana sebenarnya jangkar pengabdian akan kita labuhkan? Tantangannya nyata ada badai disrupsi digital, pergeseran demografi generasi muda dan ketidakpastian situasi ekonomi politik serta tuntutan masyarakat yang sangat besar terhadap Ormas saat ini. Semuanya bukan lagi sekadar wacana di atas kertas namun lebih jauh dari itu kita harus segera menjawabnya dengan aksi nyata agar organisasi ini tidak kehilangan kompas dan tetap relevan di tengah perubahan zaman/ adaptif. Hari ini, narasi perjuangan KOSGORO 1957 benar-benar sedang diuji. Pilihannya ada ditangan sendiri, terutama para kader dan PDK peserta Mubes,apakah akan terus larut dalam sisa- sisa dinamika Mubes kemarin, atau sebaliknya, segera menyudahi perbedaan dan kembali bersatu serta merapatkan barisan sebagai pemenang bersama lewat mekanisme yang demokratis terlepas ada 3 pemilik suara sah (ada 3 PDK I Provinsi) yakni Gorontalo, Kaltara dan Papua Selatan serta 2 Gerakan yakni Gerakan Persatuan Perempuan KOSGORO 1957 dan Himpunan Pengusaha KOSGORO 1957 yang keluar forum Mubes meski sudah mengikuti vooting dalam pengambilan keputusan sebelumnya namun karena kalah atau minoritas lalu mengambil putusan Walk Out.

Sikap WO ini patut disesali karena selain dilakukan dan bahkan diinisiasi oleh senior dan tokoh KOSGORO 1957 juga kemudiam diikuti oleh Ketua Umum demisioner dan Ketua SC Mubes. WO ini bisa diduga dilakukan secara emosional dan cendrung bermaksud memaksakan kehendak yang kemudian ditolak oleh mayoritas peserta Mubes. Namun provokasi WO ini tidak mendapatkan respon dari mayoritas peserta Mubes bahkan kemudian menduga bahwa ada skenario membuat Mubes sampai deadlock tanpa hasil atau gagal.

Sikap dan langkah WO meski tidak membawa pengaruh terhadap proses pengambilan keputusan dalam Mubes namun ini jelas menunjukkan bahwa ada syndrom prilaku kader yang harus dicermati dengan bijak. Langkah ini penting karena kita harus memastikan bahwa KOSGORO 1957 harus solid pasca Mubes untuk tidak meninggalkan problem sehingga dapat mengganggu proses konsolidasi organisasi untuk ikut berperan sebagai penentu arah sejarah baru bangsa. Ketua Umum terpilih harus mengambil sikap yang tegas tetapi tetap bijak dalam menyikapi prilaku seperti itu.

KOMITMEN KEPEMIMPINAN BARU KOSGORO 1957

Setiap pasca kontestasi atau suksesi kepemimpinan selalu meninggalkan dinamika. Namun, sebagai kader dari organisasi besar seperti KOSGORO 1957 harus tahu kapan kita bertarung ide dan gagasan serta kapan kita harus berjalan bersama dalam satu barisan. Perhelatan Mubes V telah usai dan banyak melahirkan keputusan serta tugas kita hari ini adalah menghembuskan ruh kearifan ke dalam visi dan misi strategis Ketua Umum dalam Dasa Program tersebut. Dasa Program ini harus terelaborasi dan diintrgrasikan dengan rekomendasi Mubes.

Kita hadir saat ini bukan untuk membesarkan kelompok atau figur tertentu, melainkan berjalan bersama untuk menjaga agar bendera organisasi yang kita banggakan ini tetap berkibar tinggi di wilayah NKRI. Kesadaran kolektif inilah yang mendasari pentingnya merumuskan komitmen kader KOSGORO 1957 pasca- Mubes V, sebagai jangkar yang menjaga kita agar tetap bergerak serentak di bawah Tri Dharma KOSGORO.

Komitmen Kader pada Tri Dharma sering kali kita bangga menggunakan atribut organisasi, nama pun mungkin mentereng di struktur pengurus, Namun jujur, semua itu tidak lebih dari sekadar formalitas administratif, jika jiwa dan dada kita ini kosong dari nilai perjuangan. Artinya bahwa sebagai kader KOSGORO 1957, maka kehormatan tertinggi tidak terletak pada jabatan yang kita pangku dan emban melainkan pada seberapa setia kita berjalan di atas rel ideologi organisasi.

Tri Dharma bukan pajangan teks kuno di dinding sekretariat atau slogan yang diteriakkan saat acara organisasi, melainkan sebuah ikrar hidup yang harus berdenyut dalam setiap langkah dari keputusan dan kebijakan kita. Dalam lanskap kepemimpinan baru ini, mari kita teguhkan kembali komitmen kader kepada Tri Dharma hari ini adalah keharusan sejarah agar organisasi kita tidak kehilangan arah dan spirit perjuangannya.

Kita tidak kekurangan kader yang pandai berteori, kitapun tidak kekurangan figur yang lihai merebut posisi. Namun, organisasi ini akan mengalami “keropos” dari dalam, jika rahim kaderisasinya gagal melahirkan manusia-manusia yang berwatak Tri Dharma. Artinya, bahwa nilai pengabdian tidak boleh sebatas status, nilai kerakyatan tidak boleh sekadar komoditas dan nilai solidaritas tidak boleh hanya berlaku saat ada tuntutan kepentingan.

Dalam bingkai refleksi inilah, maka kita harus mampu melakukan kontemplasi dan menegaskan nilai- nilai Tri Dharma menjadi standar tertinggi dalam pembentukan karakter kader organisasi KOSGORO 1957. Kita butuh sebuah gerakan pembumian nilai yang taktis dan strategis serta sistematis memastikan seluruh doktrin organisasi ini benar- benar mengkristal dan bergerak menyatu utuh dalam jiwa, raga, serta tarikan napas perjuangan kader.

Pasca Mubes V, komitmen kita sedang diuji. Saatnya menarik Tri Dharma dari wilayah teori dan tegas bumikan ke dunia nyata pada tempat dimana rakyat berada. Kita butuh gerakan nyata yang terstruktur, taktis, dan tanpa kompromi. Kita ingin, siapa pun yang menjadi kader KOSGORO 57 maka watak Pengabdian, Kerakyatan dan Solidaritas itu sudah menyatu dalam darah, mengakar dalam jiwa dan terbukti lewat tindakan. Inilah sesungguhnya hakikat komitmen kekaderan kita.

Kepemimpinan Sari Yuliati dengan legitimasi terpilih dalam Mubes KOSGORO 1957 bukan soal rebutan kursi atau sekedar cari panggung politik. Tetapi di sini adalah soal tanggung jawab moral yang berpatokan pada Tri Dharma KOSGORO. Hari ini, kita tidak butuh pemimpin yang cuma jago teori di ruang nyaman tapi lupa membaca realitas masyarakat sebagai wahana pengabdian yang sesungguhnya bagi kader.

Kita butuh pemimpin yang berani turun ke bawah, mau merasakan langsung kesusahan rakyat dan berani berpikir out of the box. Pengabdian harus jadi dasar, Kerakyatan jadi7 jalan, dan Solidaritas jadi pengikat perjuangan kita. Kalau tiga nilai ini hilang dari jiwa seorang pemimpin, maka runtuh harga diri kita sebagai kader KOSGORO 1957

Narasi ini menjadi pengantar untuk memahami arti kepemimpinan sejati di KOSGORO 1957. Menjadi pemimpin bukan sekadar memenangkan perolehan suara di forum Mubes, melainkan tentang keteguhan menjaga ideologi organisasi dari hantaman pragmatisme dan dinamika global. Menakhodai organisasi di era transisi ini menuntut kombinasi utuh ketegasan dalam bersikap, sekaligus kelembutan dalam merangkul potensi kader dari berbagai unsur kepentingan.

Melalui mandat mayoritas Mubes V, Sari Yuliati resmi menakhodai PPK KOSGORO 1957 Periode 2026 –2031; sebuah penegasan bahwa kepemimpinan di era transisi global ini bukan soal angka melainkan keteguhan ideologis dan kapasitas serta posisi strategis beliau yang kini juga tegak berdiri di DPR RI serta Bendahara Umum DPP Partai Golkar.

Kepemimpinan Sari Yuliati di pucuk organisasi KOSGORO 1957 menorehkan sejarah baru sebagai kader perempuan pertama yang menduduki posisi tertinggi sepanjang sejarah ormas pendiri Partai Golkar ini lahir. Rekam jejak strategis SY, baik di internal partai maupun pada pimpinan DPR RI, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ia adalah salah satu kader terbaik yang dilahirkan oleh rahim proses kaderisasi KOSGORO 1957.

Sari Yuliati adalah pemimpin yang tidak lahir dari ruang hampa; ia ditempa oleh komitmen konstitusional di parlemen (mulai dari Anggota DPR dan saat ini sebagai Wakil Ketua DPR RI), diuji oleh disiplin manajerial organisasi (mulai dari kader biasa sampai menjadi Bendahara Umum PP KOSGORO 1957), dan dihidupkan oleh pengabdian nyata di tengah masyarakat (terpilih kembali dan mendapatkan kepercayaan masyarakat).

Melalui mandat dan dukungan mayoritas peserta Mubes V maka kini telah bertransformasi menjadi amanah publik menjadi tanggung jawab kita sebagai kader sejati KOSGORO Posisi kita saat ini bukan lagi sekadar memilih dan mendukungnya, melainkan mengawal serta menyukseskan setiap kebijakan strategis yang berpijak pada kepentingan rakyat tempat dimana gotong royong dan kemandirian diperkuat sebagai fondasi ekonomi-sosial dan politik untuk menjawab dinamika kebangsaan yang makin kompleks.

Terpilihnya Sari Yuliati sebagai Ketua Umum PP KOSGORO 1957 maka seluruh insan KOSGORO 1957 tanpa melihat sikap politik sebelumnya harus menunjukkan kebesaran jiwa dan pikiran yang terpelihara dengan baik bahwa setelah terpilih maka Ketua Umum harus menjadi milik semuanya, semua kader dan anggota KOSGORO 1957. Menjadi Ketua Umum disadari bukanlah hadiah tetapi lewat “pertarungan” yang tidak ringan, penuh beban dan tanggungjawab. Namun hal itu tidak kemudian membuat pihak lain,pihak yang ” dikalahkan” untuk tidak disapa dan bahkan diikutkan dalam memformulasi gagasan dan agenda untuk menjawab kebutuhan anggota sepanjang memiliki semangat yang sama sebagai problem solver bukan sumber masalah dalam organisasi. Dengan penegasan bahwa kepentingan bersama sangat jauh lebih penting dari kepentingan kelompok apalagi individu.

Sikap dengan orientasi kebersamaan ini perlu diambil agar kepengurusan dan kepemimpinan organisasi dapat berjalan baik melalui pelibatan seluruh unsur kepentingan dalam lingkungan KOSGORO 1957. Pengalaman ikut lebih dari dua dekade mengabdi di organisasi ini, termasuk sebelas tahun mengawal gerak organisasi sebagai Sekretaris Jenderal dengan 2 Ketua Umum yakni Bapak Agung Laksono ( 2015- 2021 dan Pak Dave Laksono ( 2021- 2026) memberi saya ruang untuk membaca arah dan orientasi ideal serta kapasitas kader yang dibutuhkan bahwa persatuan dan solidaritas itu sangat penting dibawah arahan Ketua Umum yang lebih bijak tetapi tegas. Sahabat SY melihat bahwa bu Sari Yuliati dapat mengemban peran itu dengan baik. Dan oleh karena itulah maka kita sepakat bergerak dan berjalan mendukung SY menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO 1957.

Menariknya, keyakinan Sahabat Sari Yuliati ternyata bergetar kohesif sama dengan denyut nadi para kader baik di daerah maupun dipusat. Mereka merindukan nakhoda yang tidak sekadar terbiasa dengan pencitraan dan retorika, tetapi benar- benar dinilai mampu menghidupkan Tri Dharma agar KOSGORO 1957 kembali merebut kejayaan di episentrum politik nasional.

Sebuah pertanyaan mendasar dan sangat menarik kerap muncul yakni Mengapa harus Sari Yuliati yang memimpin KOSGORO 1957? Sebagai kader yang telah lama tumbuh, berproses, dan melihat bahkan menjadi bagian dari pasang surut organisasi ini, maka saya memiliki jawaban sangat sederhana bahwa KOSGORO 1957 perlu perubahan kepemimpinan lewat forum Mubes tahun 2026 ini.

Dukungan terhadap perubahan dan pilihan kepada SY sama sekali tidak lahir dari kalkulasi politik personal atau kepentingan pragmatis yang sempit namun jauh melewati aspek kepentingan luas bagi organisasi. Langkah ini murni didorong oleh sebuah kesadaran ideologis bahwa Organisasi sedang membutuhkan figur pemimpin yang benar- benar lahir dan dibesarkan serta ditempa langsung dari rahim perjuangan KOSGORO 1957 serta memiliki posisi politik yang strategis.

Saya melihat bahwa teman- teman yang bergabung dengan Sahabat Sari Yuliati memiliki pandangan yang sama dan hal itu yang mengikat bahwa KOSGORO 1957 hari ini memerlukan nakhoda baru yang tidak sekadar memimpin, tetapi memahami secara mendalam ke mana arah kompas perjuangan dan cita-cita mulia para the founding fathers kita. Disinilah Tri Dharma KOSGORO harus diletakkan kembali; bukan lagi sebatas semboyan, melainkan sebagai jangkar gerakan dan roh perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang menjadi harapan kita semua.

Argumentasi politik ini kian menemukan pijakan kuat jika melihat konstelasi posisi yang ditempati oleh SY. Portofolio kepemimpinannya saat ini mencerminkan pertautan yang erat antara otoritas formal dalam kekuatan parlemen dan pengaruh struktural internal karena terpilih secara aklamasi. Di ranah legislatif, beliau memegang peran sebagai Wakil Ketua DPR RI, sementara di internal partai, beliau dipercaya sebagai Bendahara Umum DPP Partai Golkar. Rekam jejak ganda ini bukan sekadar akumulasi jabatan, melainkan sebuah simpul sinergi kekuasaan yang taktis untuk memperkuat posisi KOSGORO 1957.

Argumentasi lainnya bersandar pada aspek legitimasi sejarah (historical breaking). Kehadiran SY sebagai kader perempuan pertama yang menakhodai KOSGORO 1957 bukan sekedar catatan administratif melainkan sebuah pembeda (uniqueness) sekaligus daya tarik moral yang kuat ditengah lanskap politik yang selama ini didominasi kultur maskulin.

Momentum ini menjadi simbol nyata dari inklusivitas kaderisasi organisasi yang tidak bias gender bahwa siapapun dapat memimpin KOSGORO 1957 dengan kriteria ideal yang kita yakini dimiliki oleh SY . Bobot kepemimpinan ini semakin utuh ketika disandingkan dengan kematangan manajerial yang beliau miliki. Rekam jejaknya sebagai Bendahara Umum Partai Golkar menjadi bukti empiris atas kapasitasnya dalam menjaga stabilitas internal, menjembatani faksionalisme dan perbedaan pandangan serta mengelola manajemen jaringan secara presisi sebagai modal penting yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda organisasi KOSGORO 1957.

Berangkat dari konstatasi tersebut, posisi yang diemban oleh Sari Yuliati hari ini menempatkannya sebagai salah satu kader terbaik KOSGORO 1957 yang memegang tiga posisi kunci penting sekaligus. Beliau tidak hanya memiliki akses langsung dalam arah kebijakan legislasi di parlemen tetapi juga memegang kontrol penuh atas urat nadi jaringan organisasi, sekaligus mengakar secara sah pada basis massa organik sebagai Ormas pendiri Golkar.

Di titik sinergi inilah, posisi tawar (positioning) organisasi kita tidak lagi bisa dipandang sebelah mata oleh pihak lain. KOSGORO 1957 kini telah berdiri dengan posisi yang jauh lebih kuat, solid dan diperhitungkan baik dalam dinamika perpolitikan internal Partai Golkar maupun dalam lanskap politik nasional.

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Kesimpulan mendasar dari tulisan ini adalah sebuah ketegasan sikap, bahwa sebagai kader sejati KOSGORO 1957 yang memahami seluruh proses Mubes yang penuh rekayasa dan banyak melanggar aturan maka komitmen kita mrnjadi sangat penting untuk menghilangkan ego dan berhenti melakukan manuver yang dapat merusak perjalanan organisasi pasca Mubes kecuali telah kehilangan semangat dan itikad baik untuk membangun arah organisasi ini.

Tema Merawat Tri Dharma, Menakar Arah Perjuangan bukanlah jargon melainkan sebuah komitmen untuk disatu sisi menafsirkan tujuan organisasi juga melaksanakan agenda-agendanya sebagai perwujudan harapan anggota dan kader KOSGORO 1957 pada sisi yang lain. Merawat Tri Dharma KOSGORO Pengabdian, Kerakyatan Solidaritas adalah akar tunggang (utama) yang menjaga warisan ideologis kita agar tetap membumi dan tidak kehilangan roh kerakyatannya. Namun, pasca-Mubes V, maka arah perjuangan KOSGORO 1957 harus melompat lebih jauh lagi,jauh melebihi ekpektasi kader dan publik pada umumnya.

Hal ini artinya KOSGORO 1957 tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton melainkan harus menjadi aktor penting dalam konstruksi politik kebangsaan dan kepartaian. Sebagai kader yang lahir dari rahim kaderisasi internal yakni Orientama KOSGORO 1957 dan diperkuat dengan proses kaderisasi Golkar dengan kapasitas yang ada maka harapan yang dititipkan kepada SY tersebut akan bisa diwujudkan bahkan lebih luas kontribusinya untuk Partai disatu sisi dan bangsa pada sisi yang lain.

Dengan struktur yang solid dan jaringan yang kuat serta talenta kepemimpinan yang bersifat inklusif dan egaliter serta bijak maka KOSGORO 1957 dibawah kepemimpinan Sari Yuliati diharapkan mampu memerankan diri menjadi jangkar utama dalam menjaga stabilitas internal KOSGORO 1957 dan relasinya dengan Golkar serta kekuatan- kekuatan kebangsaan lainnya untuk ikut menjadi bagian menentukan arah dan komitmen organisasi dalam merumuskan kebijakan untuk rakyat.

Kepemimpinan Sari Yuliati di KOSGORO 1957 tentu saja bukanlah sebuah karpet merah, melainkan ujian sejarah. Beliau mewarisi sebuah organisasi ditengah situasi yang sangat dinamis dengan tantangan di hadapan mata yang tidaklah ringan: mulai dari urgensi merapatkan kembali barisan pasca-Mubes V, mengatasi fragmentasi internal, hingga tuntutan nyata untuk merevitalisasi mesin organisasi agar tidak gagap menghadapi derasnya arus politik digital dan generasi baru yang kaya persepsi serta tafsir tentang masa depan.

KOSGORO 1957 hari ini dibawah kepemimpinan beliau dituntut bukan sekadar bertahan, melainkan bergerak jauh bahkan melakukan lompatan visioner terhadap beberapa agenda-agenda strategis organisasi dalam Visi Misi yang tertuang dalam Dasa Program 2026- 2031. Pada titik inilah letak ujian sesungguhnya bagi Ketua Umum Sari Yuliati, bagaimana beliau dapat mengonversi modal sosial dan politik serta manajerial yang dimilikinya menjadi jangkar dan titik tumpuh selain pelaksanaan program juga harus memiliki semangat penyeimbang menjaga soliditas dan meredam benturan faksi- faksi yang ada serta merekatkan ikhtiar persatuan yang dapat memastikan bahwa gerak dan arus besar KOSGORO 1957 tetap lurus pada rel,komitmen dan idealisme serta khittoh KOSGORO dalam melaksanakan Visi Misi perjuangan tersebut.

Kehadiran SY adalah jawaban terhadap harapan di tengah impian dan beban serta tanggungjawab organisasi dalam mencari tokoh, kader dan figur ideal untuk sebuah penawar bagi hampir habisnya harapan menemukan pemimpin yang ideal bagi KOSGORO 1957 masa bakti 2026- 2031. Hadirnya sosok Sari Yuliati dalam kepemimpinan KOSGORO 1957 masa bakti 2021- 2026 dan saat yang sama sebagai Bendahara Umum DPP Golkar 2024- 2029 serta posisi politik yang melekat padanya baik sebagai Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR RI maupun sebagai Wakil Ketua DPR RI menguatkan keyakinan bahwa KOSGORO 1957 masih memiliki kader untuk dapat menavigasi kepemimpinan organisasi dimasa depan.

Oleh karena itu, pada pundak SY, kita menitipkan harapan baru untuk memantapkan semangat dan komitmen serta kolaborasi dengan memanfaatkan seluruh potensi kader yang ada untuk menata kepemimpinan KOSGORO 1957 era 2026- 2031. Beliau memiliki ikhtiar untuk itu, berada ditengah perbedaan tetapi tidak membeda- bedakan, memimpin untuk semua, membangun semangat dan kebersamaan ideal diatas landasan Pedoman Perjuangan dan Tri Darma KOSGORO sebagai doktrin.

Ini bukti akan hadirnya kesadaran bahwa beliau hadir bukanlah untuk mencari panggung pribadi, melainkan untuk melayani dan membela kepentingan bagi semua, bagi anggota organisasi dan bagi rakyat. Komitmen tulus ini sangat terasa di akhir pidato visi-misinya, saat beliau dengan tegas mengutip kalimat Elizabeth Warren: ‘Saya hadir untuk Anda, bukan untuk diri saya sendiri.’ Kalimat ini menjadi janji nyata bahwa arah kepemimpinannya adalah tentang pengabdian semata sebagai hal yang selalu menjadi tekanan kepada Sahabat Sari Yuliati, bukan tentang kekuasaan belaka tetapi kekuasaan untuk kepentingan bersama KOSGORO 1957 dan rakyat.

Selamat bekerja kader terbaik, Sari Yuliati. Kuat keyakinan di bawah kepemimpinannya KOSGORO 1957 semakin maju dan unggul dengan komitmen kuat melaksanakan serta mengimplementasikan Dasa Program KOSGORO 1957 masa khidmat 2026- 2031.

*** Penuli adalah Kader KOSGORO 1957/ Ketua Sahabat Sari Yuliati