Oleh :
Ahmad Ibrahim
SABUROmedia — INI adalah fhoto lama. Empat tahun lalu. Saya pernah berjumpa dengannya setelah sebelumnya — sekian tahun “menghilang”.
Anda para aktivis, politisi, dan pejabat di Maluku di era 1990-an pasti tahu siapa sosok di sebelah saya ini. Namanya: H. Faraid Sabban.
Catatan ini saya buat setelah membaca status dan melihat gambar Bang Faraid yang diupload putri kesayangan beliau Fidya Faraid Sabban di laman fb.
Saya pun tertarik dan ikut berselancar mengomentari sosok sang ayahnya itu. Meski kini tidak kelihatan perannya sebagai aktivis dan tokoh pergerakan peran Bang Faraid tetap “bergerak” dalam diam.
Rupanya menemui dan memasukkan pemikiran kepada sejumlah pemangku kepentingan untuk kemaslahatan daerah menjadi hal penting dari pribadi Bang Faraid.
Dalam unggahannya, Fidya memuji ayahnya sebagai pribadi yang senang berdiskusi dan suka membagi cerita, wawasan, dan pengalaman. “Once a leader, always a leader,” ujar Fidya.

Sebagai follower saya selalu mengikuti aktivitas politik Fidya yang kini terjun sebagai pengurus di DPP Partai Golkar. Tampaknya, tak jauh berbeda dengan jejak sang ayah mengalir darah seorang aktivis pergerakan dalam diri Fidya. Itu bisa dilihat — tidak saja sebagai aktivis di DPP Golkar –, tapi kemampuan dan kejernihan menarasikan pemikirannya bisa terbaca lewat unggahannya di medsos: cair dan mengalir.
Saya tadinya lupa kalau empat tahun lalu pernah bersama ayahnya mengambil gambar saat menghadiri tahlilan keluarga dekat Bang Faraid di kediaman almarhum Abah H. Abdul Aziz Sabban di Ambon, (25/07/2022).
Setelah membaca catatan Fidya saya pun teringat bernama Bang Faraid yang lahir dan besar dalam lingkungan NU yang juga mantan Ketua Gerakan Muda Nahdatul Ulama (GMNU) Maluku, itu.
Bang Faraid adalah sosok pencerita yang humble dan peduli pada kemanusiaan dan daerah. Dari ucapannya selalu keluar kata-kata bijaksana penuh kebaikan.
Saya lama pernah bersentuhan dengannya dalam sebuah Tim Satgas pada suatu masa di Gedung As’ari Al-Fatah, Ambon. Dulu, Bang Faraid senang berdiskusi. Dari beliau kita bisa mendapatkan informasi terkait perkembangan politik terkini baik daerah maupun nasional.
Ia memang punya kedekatan yang luas dengan sejumlah pemangku kepentingan baik di pusat maupun daerah. Dari Jenderal sampai politisi, birokrat, aktivis hingga tokoh pergerakan lintas organisasi.
Itulah yang membuat mereka yang kerab bersentuhan dengannya bisa memperoleh banyak cerita dan pengalaman. Dengannya pasti terbuka cakrawala pemikiran saat berdiskusi ketika berjumpa di warung kopi atau mesjid.
Boleh jadi ada sudut pandang yang berbeda, tapi dari percakapan dan diskusi lepas itulah di sana kita bisa menemukan dan menangkap banyak hal. Ada wawasan, pengalaman, dan pengetahuan yang bisa diserap pada setiap percakapan untuk memperkaya khazanah pemikiran.
Ibarat oase. Bang Faraid Sabban adalah pribadi yang dari sana mengalir ilmu dan pemikiran. Sosok yang kini langka kita temukan.
Meski lama saya tak berjumpa, tidak ada yang berubah. Ia terlihat sehat dan masih seperti dulu: humble dan murah senyum.
Sosok yang lahir dan berasal dari Wahai, Kabupaten Maluku Tengah, ini punya darah dan keturunan campuran Arab-Wahai. Moyang mereka Teuku Hasan tak lain adalah saudara dari Pahlawan Nasional Teuku Umar dari Pidie, Sigli, Aceh.
” Teuku Umar itu punya dua saudara: Teuku Hasan dan Teuku Idris,” ujarnya.
Pada masa Belanda moyang mereka Teuku Hasan pernah ditahan di Digul kemudian diasingkan oleh Belanda ke Wahai di Pulau Seram, Provinsi Maluku.
” Sedangkan Teuku Idris yang tak lain kakek almarhum Dr.Abdul Gafur diasingkan ke Pattani, di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara,” ujarnya.
Kalau dilihat dari nasab keturunan keluarga Bang Faraid Sabban ini tak lain berdarah habaib mengalir darah pejuang.
Wahai, menurut Bang Faraid, kala itu adalah pusat keresidenan. Pada masa Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore, Wahai menjadi ibukota, tempat pedagangan dan perekonomian. Tempat dimana bermukim banyak komunitas dengan aneka keturunan dan marga. Termasuk mereka rumpun keluarga dari Ternate dan Tidore.
” Ada marga Fabanyo, Dokulamo, Tobelo, Galela, Soakonora, Loloda, Sibualamo, dll. Mereka ini berada di pesisir Pulau Seram Utara hingga ke Kabupaten Seram Timur,” ujarnya.
Bang Faraid sendiri punya pertalian sejarah dengan marga Makatita.
” Makatita itu salah satu rumpun marga terbesar di Pulau Seram,” ujarnya.
Bang Faraid punya tiga anak yakni: Fidya Faraid Sabban, Fika Faraid Sabban, dan Fikra Faraid Sabban. Kalau Fidya terjun di dunia politik di DPP Partai Golkar, maka Fika adalah seorang dokter spesialis patologi di RS Hasan Sadikin Bandung. Adapun Fikra Faraid Sabban adalah pengacara di Jakarta.
*** Penulis adalah Jurnalis Senior di Kota Ambon, Maluku