Oleh :
M. Azis Tunny

SABUROmedia — Munas BPP HIPMI tidak pernah sekadar menjadi siklus pergantian kepemimpinan. Di dalamnya, selalu ada pertarungan gagasan, konsolidasi kekuatan, hingga pembacaan arah masa depan organisasi.

Munas adalah ruang paling terbuka untuk melihat bagaimana denyut nadi HIPMI bergerak. Siapa yang kuat secara struktur, siapa yang solid dengan kekuatan jejaring, siapa yang tumbuh dari kaderisasi, dan siapa yang mampu menjahit semuanya menjadi energi bersama.

Dalam dinamika kontestasi Munas XVIII tahun 2026, empat nama muncul sebagai representasi dari spektrum kekuatan HIPMI hari ini. Reynaldo Bryan, Ade Jona Prasetyo, Afifudin Suhaeli Kalla (Afie Kalla) dan Anthony Leong. Keempatnya hadir dengan latar, karakter, dan basis konsolidasi yang berbeda, namun sama-sama lahir dari proses panjang dalam ekosistem organisasi pengusaha muda ini.

Reynaldo Bryan, misalnya, membawa narasi kaderisasi yang tumbuh dari daerah menuju pusat. Saat ini ia menjabat sebagai Bendahara Umum BPP HIPMI, sebuah posisi strategis yang menempatkannya di pusat pengelolaan organisasi, terutama dari sisi tata kelola dan keuangan. Namun perjalanan Reynaldo tidak dimulai dari pusat. Sebelum dipercaya di tingkat nasional, ia terlebih dahulu mengemban amanah sebagai Bendahara Umum BPD HIPMI Papua Barat.

Latar inilah yang membuat Reynaldo dipandang sebagai representasi kader daerah yang tumbuh melalui proses organisasi yang utuh. Ia membawa pesan bahwa HIPMI tetap memberi ruang bagi kader-kader dari daerah untuk naik, berkembang, dan mengambil peran penting di tingkat nasional. Dalam konteks regenerasi organisasi, figur seperti Reynaldo menjadi simbol kesinambungan kaderisasi yang hidup.

Di sisi lain, Ade Jona Prasetyo berdiri dalam tradisi kuat HIPMI sebagai organisasi yang bertumpu pada jejaring dan kalkulasi politik internal. Pengalamannya sebagai mantan Ketua Umum BPD HIPMI Sumatera Utara membentuk fondasi yang kuat dalam membaca dinamika daerah, dan pola konsolidasi organisasi. Kini, posisinya sebagai anggota DPR RI Komisi XII dari Fraksi Partai Gerindra semakin memperluas spektrum pengalamannya dalam membaca konfigurasi kekuasaan secara presisi, baik di dalam maupun di luar organisasi.

Ade Jona merepresentasikan tipe kepemimpinan yang bertumpu pada struktur, pengalaman organisasi, dan kemampuan membangun peta dukungan secara sistematis. Dalam tradisi Munas HIPMI, figur dengan karakter seperti ini kerap menjadi pusat gravitasi konsolidasi, terutama ketika organisasi memasuki fase-fase akhir penentuan arah dukungan.

Sementara itu, Afie Kalla hadir membawa kombinasi antara pengalaman organisasi dan jejaring bisnis yang luas. Sebagai mantan Ketua Umum BPD HIPMI DKI Jakarta, ia pernah memimpin salah satu basis HIPMI paling dinamis dan strategis di Indonesia. Pengalamannya kini berlanjut di tingkat nasional sebagai Ketua Bidang ESDM, Lingkungan Hidup dan Kehutanan BPP HIPMI, yang memperkuat keterlibatannya dalam isu-isu strategis nasional, khususnya sektor energi dan sumber daya.

Afie merepresentasikan spektrum HIPMI yang dekat dengan jejaring pengusaha dan ekosistem bisnis nasional. Dalam dinamika Munas, kekuatan seperti ini memiliki pengaruh tersendiri karena mampu menjembatani kepentingan organisasi dengan jaringan ekonomi yang lebih luas. Nama besar Kalla turut memberi dimensi simbolik yang tidak bisa dilepaskan dari pembacaan peta kekuatan organisasi.

Adapun Anthony Leong tampil sebagai figur yang memadukan mesin organisasi yang aktif dengan semangat transformasi ekonomi modern. Sebagai Ketua Bidang Sinergitas Danantara, BUMN dan BUMD di BPP HIPMI, Anthony berada pada titik strategis yang mempertemukan HIPMI dengan ekosistem korporasi dan kemitraan nasional.

Kekuatan Anthony tidak hanya lahir dari posisi strukturalnya di pusat. Ia dikenal sebagai salah satu kandidat yang paling intens turun ke daerah, membangun komunikasi langsung dan konsolidasi dengan berbagai BPD di seluruh Indonesia. Aktivitasnya ini membuatnya memiliki jangkauan jaringan yang luas dan organik di tingkat akar organisasi.

Dari banyak pembacaan, Komisaris PT PLN Indonesia Power ini merepresentasikan kombinasi yang cukup lengkap yakni mesin organisasi yang bergerak aktif, kemampuan konsolidasi lintas daerah, sekaligus narasi transformasi ekonomi dan digitalisasi yang relevan dengan tantangan masa depan HIPMI.

Jika dibaca secara utuh, Munas kali ini sesungguhnya bukan sekadar pertarungan antar figur, melainkan pertemuan empat wajah utama HIPMI yakni regenerasi kader daerah, kekuatan struktur organisasi, jejaring bisnis nasional, dan konsolidasi organisasi modern.

Reynaldo Bryan merepresentasikan regenerasi dan kaderisasi daerah menuju pusat. Ade Jona Prasetyo mencerminkan kekuatan struktur dan pembacaan politik organisasi. Afie Kalla membawa pengaruh jejaring bisnis dan pengalaman organisasi elite yang solid. Sementara Anthony Leong hadir dengan energi konsolidasi aktif dan transformasi ekonomi modern.

Namun pada akhirnya, Munas HIPMI tidak pernah benar-benar hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Organisasi ini dibangun di atas tradisi bahwa setiap kontestasi pada akhirnya harus kembali bermuara pada konsolidasi.

Karena itu, empat nama yang bertanding hari ini sejatinya bukan sekadar kompetitor, melainkan representasi dari kader-kader terbaik HIPMI saat ini. Mereka datang dengan pendekatan berbeda, tetapi berada dalam tujuan yang sama yakni menjaga kesinambungan dan arah masa depan organisasi.

Di HIPMI, kompetisi selalu memiliki satu makna yang lebih besar daripada sekadar perebutan posisi. Bertanding untuk bersanding. Sebab, siapa pun yang terpilih nantinya, tetap akan membutuhkan yang lain untuk menjaga kekuatan besar bernama HIPMI tetap utuh, relevan, dan terus bergerak maju.

*** Penulis adalah Ketua BPD Hipmi Maluku Periode 2021 – 2024