Oleh :
Dr. MJ. Latuconsina., S.IP., MA

“Ada lebih banyak pemabuk tua daripada dokter tua, ” (François Rabelais).
***

SABUROmedia — Pada negara-negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika dan Pasifik, terdapat sedikit mahasiswa kedokteran, yang tidak hanya fokus menekuni kuliah pada bidang kedokteran saja, namun mereka aktif di kancah perpolitikan, dalam upaya memerdekakan bangsanya dari imperialisme Eropa dan Asia yang ratusan tahun menjajah di tanah air mereka. Salah satu figur di maksud yakni, Sadek Hadjeres ia adalah seorang dokter yang berasal dari Aljazair. Tatakala ia masih mahasiswa kedokteran di Universitas Algiers, ia aktif dalam politik pergerakan dalam upaya memerdekakan bangsanya dari kolonialisme Prancis. Hingga kemudian ia pun bergabung dengan Partai Komunis Aljazair (Parti Communiste Algérien.

Hadjeres sebenarnya tipikal mahasiswa kedokteran, yang setara dengan Sun Yat Sen salah seorang pejuang kemerdekaan Republik Tiongkok, dimana tidak hanya pandai dalam mendiagnosis penyakit pada tubuh manusia saja, namun mahir dalam mendiagnosis jalan politik untuk memerdekakan bangsanya. Ia lahir pada tahun1928 di Larbaâ Nath Irathen, Aljazair. Hadjeres menempuh pendidikan sekolah dasar di Berrouaghia dan Larba, dan sekolah menengah di Médéa, Blida dan Ben Aknoun. Selama masa ini ia menjadi pemimpin tingkat menengah dari Aljazair Muslim Scouts (Scouts Musulmans Algériens) di Mitidja dari tahun 1943-1946, dan kemudian menjadi seorang militan dari Partai Rakyat Aljazair (PPA) pada tahun 1944. Dari tahun 1946-1953 ia menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Algiers.

Pada tahun 1948 ia menjadi pemimpin bagian universitas dari Partai Rakyat Aljazair, sebuah partai nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat di negeri Arab Maghrib itu dari Prancis . Pada tahun 1949 dia adalah salah satu penulis bersama dari dokumen platform partai ‘L’Algerie libre vivra’ (Aljazair bebas akan hidup). Pasca krisis Berber pada tahun 1949 yang terjadi dalam tubuh partai PPA, Hadjerès pergi karena terlibat dalam krisis tersebut. Kemudian ia menjadi anggota selama beberapa tahun sejak masa mudanya di Association des étudiants musulmans de l’Afrique du Nord (AEMAN), Lantas pada tahun 1950 ia menjadi presiden AEMAN, yang merupakan organisasi politik pertama yang dibentuk di Afrika Utara.

Pada tahun 1951 Hadjerès bergabung dengan Partai Komunis Aljazair (Parti Communiste Algérien). Ia menjadi anggota Dewan Partai (Conseil Consultatif) pada tahun 1952. Pada tahun 1953 dan 1954 ia menjadi direktur majalah ‘Progrès’ (Kemajuan) dan menjadi Penasihat Umum Partai untuk wilayah El Harrach dan Mitidja Timur. Tahun itu, Perang Aljazair dimulai pada 1 November. Pada tahun 1955 ia menjadi anggota biro politik Partai Komunis Aljazair dan pada bulan Desember dukungannya untuk perjuangan kemerdekaan dilakukan dengan jalan klandestin.

Ia aktif menjadi wakil direktur nasional dari organisasi bersenjata ‘Combattants of the Liberation’, yang merupakan sayap bersenjata Partai Komunis Aljazair dan bekerja sama dengan kekuatan gerilya nasionalis yang jauh lebih besar yakni Front Pembebasan Nasional (FLN), yang merupakan salah satu organisasi sipil dan militer yang menjadi ujung tombak kemerdekaan Aljazair. Dengan rekan komunisnya Bachir Hadj Ali ia bernegosiasi pada bulan April, Juni, dan Juli 1956 dengan perwakilan FLN antara lain : Benyoucef Ben Khedda dan Abane Ramdane mengenai integrasi pasukan Komunis ke dalam pasukan FLN. Setelah kemerdekaan pada Juli 1962, ia menjadi anggota Sekretariat Partai Komunis Aljazair. Pada Oktober 1962, presiden baru Ahmed Ben Bella melarang Partai Komunis yang bergerak di bawah tanah.

Hadjeres kemudian menjadi koordinator Partai Komunis. Selama Piagam Sosialis Aljazair tahun 1964 ia berusaha untuk memajukan ide-ide partai. Dari tahun 1963-1965 ia adalah seorang praktisi medis dan peneliti ilmu kedokteran. Setelah kudeta Boumediène yang menggulingkan Ben Bella dari kekuasaan di tahun 1965, dia terus beroperasi secara sembunyi-sembunyi selama 24 tahun berikutnya. Dia adalah anggota Organisasi Perlawanan Rakyat (ORP) selama beberapa waktu di awal, dan anggota pendiri pada tahun 1966 dari partai Parti de l’Avant Garde Socialiste (PAGS). Organisasi Perlawanan Rakyat telah dibentuk oleh Mohamed Harbi dan Hocine Zahouane, dua pemimpin sayap kiri FLN untuk menentang kudeta Boumedienne.

Hadjeres bergabung dengan ORP sementara para pemimpin komunis lainnya seperti Henri Alleg dan Larbi Bouhali pergi ke pengasingan. Pada awal 70-an, Boumediène melakukan beberapa proyek kiri seperti Revolusi Agraria, nasionalisasi tanah dan pabrik, dan proyek sosialis lainnya. Presiden Boumediène juga membuat Aljazair lebih dekat ke blok Timur Uni Soviet dan semua langkah ini secara tidak langsung menyenangkan partai PAGS Hadjeres yang menemukan medan politik yang menguntungkan untuk memajukan ide-idenya, sambil tetap menjadi oposisi yang diawasi ketat oleh pemerintah dan dikecualikan dari semua pejabat. Pada tahun 1976 selama debat tentang Piagam Nasional, Hadjeres memimpin PAGS bawah tanah secara singkat keluar dari klandestin dengan mengungkapkan pandangannya secara lantang melalui organisasi mahasiswa seperti UNJA .

Fase ini adalah puncak aktivitas politik dan pengaruh partai komunis pada urusan kenegaraan di Aljazair menurut banyak komentator politik. Namun, dengan kedatangan presiden baru Benjedid Chadli pada tahun 1979, dan pengenalan kebijakan sayap kanan yang progresif, liberalisasi yang lambat dan pengenalan pasal 120 yang memungkinkan hanya satu partai (FLN) untuk beroperasi secara legal, Sadek Hadjeres dan partai PAGS-nya dimulai untuk semakin bentrok dengan pemerintah dan FLN. FLN pada gilirannya mencari dukungan baru dalam arus Islam politik Aljazair. Fakta bahwa FLN mendukung para pejuang kemerdekaan di Afghanistan melawan Uni Soviet hanya memperburuk hubungan dengan Hadjeres dan partainya PAGS.

PAGS menjadi semakin klandestin dan pada 1986 memilih ekspatriasi sendiri karena perselisihan internal. Hadjeres kemudian akan membantu ke Eropa Timur Kongres dan kongres Partai Komunis, terkadang dengan delegasi FLN duduk hanya dua baris jauhnya, menempatkan FLN dalam posisi yang tidak nyaman dengan mitra sosialisnya dari blok Timur. Hadjeres masuk kembali sepenuhnya ke dalam kerangka hukum pada tahun 1989 dengan dimulainya sistem multi-partai di Aljazair. Masuknya kembali ke panggung politik Aljazair terjadi pada saat Tembok Berlin runtuh dan keyakinan komunisnya terguncang oleh lahirnya era baru. Partai komunisnya, PAGS, dalam konteks ini kalah telak pada pemilu 1990 dan 1991 oleh Front Keselamatan Islam(FIS) dan Hadjeres memutuskan untuk menarik diri dari politik pada tahun 1991.

Pada tahun yang sama kelompok Islamis memulai konfrontasi dengan kekerasan dengan komunis karena doktrin mereka ditentang total, dimana kelompok Islamis dan tetap yakin bahwa Hadjeres dan komunisnya adalah ateis dan harus dibunuh. Tahun berikutnya pada tahun 1992 beberapa komunis dibunuh oleh kelompok Islamis Aljazair dan ini berlanjut sampai tahun 1994. Ketika pemerintah dan tentara membatalkan Pemilu pada tahun 1992, mereka meminta dukungan Hadjeres tetapi dia menolak untuk memberikannya, bahkan dia dijatuhi hukuman mati. Partai PAGS menghentikan semua aktivitasnya pada tahun 1992 dan Hadjeres meninggalkan Aljazair, lantas menetap di Prancis dimana dia bekerja sebagai dosen dan peneliti di bidang geopolitik dengan pusat CRAG di Universitas Paris.

Meskipun Hadjeres sempat hengkang di Prancis, tapi tak selamanya ia menetap di sana. Pasalnya pada Pemilu Aljazair yang digelar pada 17 Mesi 2007 partai yang dirikannya PAGS pada tahun 1966 lampau kembali ke panggung politik negara di Afrika Utara itu dengan berganti nama menjadi Partai Demokrasi dan Gerakan Sosial (MDS), dan ia pun ke mencoba peruntungan politik sebagai calon anggota parlemen Aljazair. Kendati Partainya MDS secara nasional tidak memenangkan Pemilu Aljazair tersebut, dimana hanya menempati urutan 23 perolehan suara dan 24 kontestan Pemilu, tapi Hadjeres sukses menempati satu kursi Parlemen Aljazair.

Mengakhirinya meminjam ungkapan kontemplatif François Rabelais (1494-1553) salah seorang penulis berkebangsaan Prancis, yang populer melalui karyanya “Gargantua dan Pantagruel” bahwa, “ada lebih banyak pemabuk tua daripada dokter tua”. Kata-kata itu selaras dengan figur Hadjeres, ia sedikit dari seorang dokter yang berkecimpung didalam dunia politik. Walaupun di usia senja Hadjeres menunjukan dirinya sebagai “Dokter Marix dari Alazair, yang sangat berpengaruh bagi komunitas kiri Aljazair dan anggota MDS meskipun dia tidak mengambil bagian secara resmi dalam kegiatan politik lagi pada usia 79 tahun. (Tirto.id, 2017, Wikipedia, 2021).

*** Penulis adalah Staf Dosen Fisipol Unpatti