SELAT SPEELMAN

Apr 25, 2024

Oleh :

La Yusrie

 

 

SABUROmedia — SAYA duduk di Pantai Labobo Maawasangka berlatar landscape Selat Speelman yang menyela Pulau Kabaena, Pulau Talaga dan Maawasangka.

 

Di selat ini dalam mitos Wakambangura, terdapat yang dinamai Weta sebuah sesar patahan dari tebing cadas batu dasar laut yang terbelah, menjalur panjang dari Wakambangura hingga ke Pulau Kabaena.

 

Konon itulah jalur berjalan bagi jin yang memanggul Wakambangura gadis jelita yang diculiknya. Weta dianggap keramat sampai kini, terlarang mengambil hasil laut di sana, biota laut—dalam beragam jenisnya tumbuh melimpah dan hidup dengan aman di sana.

 

Wakambangura adalah “Kembang Muda” serupa kuncup bunga merekah yang sewangi kesturi, ia memang perempuan berupa seindah bulan di purnama, kecantikannya memincut semua lelaki, tak hanya manusia, bangsa Jin sekalipun dipikat juga olehnya.

 

Suatu sore dengan langit cerah, matahari turun mendekati ujung tepi laut, berwarna kesumba sinarnya, Wakambangura sedang mandi, rambutnya basah oleh keramas mengilau licin oleh santan dari Kulou daging kelapa yang dikeringkan yang dimamahnya dikunyah untuk dikeluarkan santannya, dari mulutnya sendiri.

 

Gemuruh gunung Sabampolulu di Kabaena bergolak meletup letup bukan main, rupanya penguasa Jin yang menghuninya sedang dalam birahi yang memuncak, melihat lihat Wakambangura yang setengah berkain sedang mandi berkeramas itu.

 

Tak bisa ditahannya birahinya itu, bergegas ia datangi Wakambangura, diculiknya perempuan itu, digendong dengan kuatnya, dibawanya ke Sabampolulu, melintasi laut, jejak tapak kaki jalannya yang membelah dasar laut itu oleh orang-orang Wakambangura dinamailah “Weta”

 

***

Ini laut adalah juga selat tempat perlintasan dan bahkan berlabuh sebelum mencapai Pelabuhan Buton bagi armada Speelman, komandan VOC paling nyentrik, bersama raja Bugis Arung Palakka—Sapati Bhaaluwu—Kapitan Jonker dari Manipa Maluku.

 

Ceceran catatan harian raja Bugis Arung Palakka dalam “The Bugis Diary” yang tersimpan di British Library, mengisah bagaimana selat ini begitu teduh di musim timur dengan laut biru dan karangnya yang indah, menjadi tempat persinggahan yang aman dan nyaman begi mereka sebelum memasuki atau meninggalkan bandar utama kerajaan Buton.

 

Selat ini juga menjadi tempat “mengamankan” diri bagi Frans Frans, seorang residivis Belanda pada masa La Karambau Oputa Yi Koo Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi penenggelaman Rust en Werk yang memantik kemarahan Belanda bahkan dilakukan tak jauh dari selat ini.

 

Tetapi jauh sebelum Periode mereka, teluk dan laut di sepanjang barat Pangesana ini adalah kepunyaan seorang paling berpengaruh dengan wibawa yang besar, penguasa Kabaena dan pulau-pulau lepas pantai di sepanjang tenggara sampai selatan Sulawesi di Selayar.

 

Dia penguasa tempat ini adalah Mandawari atau lebih tersohor sebagai Sapati Manjawari. Ia membangun sebuah kota—Benteng kecil, dinamainya La Saide Ewa.

 

La Saide Ewa adalah benteng kecil saja yang dibangun Sapati Manjawari sebagai tempatnya memantau laut dan kapal di pesisir barat Pancana (Pulau Muna) yang memasuki pusat kerajaan Buton.

 

Karena luas bangunan benteng yang kecil itu dinamailah La Saide Ewa yang kira-kira berarti “Yang Tidak Luas”.

 

Sapati Manjawari atau orang di sana menyebutnya Mandawari adalah tokoh berpengaruh di abad ke-16. Ia adalah Sapati kerajaan Buton dimasa La Kilaponto memerintah 1541–1584.

 

Dalam manuskrip Buton, ia disebut sebagai Raja Selayar, tetapi dalam memori kolektif orang Gumanano dan Wakambangura, ia adalah tokoh penguasa Pantai Barat Pancana, Kabaena, Selayar, dan Pulau – Pulau Kecil di lepas Pantai Selatan sampai Tenggara Pulau Sulawesi.

 

Salah seorang puteri Manjawari dinikahi La Kilaponto Raja Buton Ke-6, pertautan kuasa terbawa ke relasi marital yang kuat. Dengan itulah kekuasaan dibangun dan dipertahankan.

 

Dalam selama Lakilaponto memerintah, ia mendapat sokongan dukungan yang kuat dari seorang Manjawari yang adalah mertuanya.

 

Dari puteri Manjawari itu, La Kilaponto mempunyai anak bernama La Tumparasi, seorang yang kemudian menjadi suksesornya.

 

Sesudah La Kilaponto mangkat, La Tumparasi bergelar Sangia Yi Boleka naik menggantikannya sebagai Sultan Buton Ke-2, dengan gelar kesultanan Sultan Qaimuddin Khalifatul Khamis, memerintah 1584–1591.

 

*** Budayawan Buton | Pendiri The La Saila Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *