SABUROmedia, Namrole,- Akibat penabangan kayu Log/Bulat oleh PT Nusa Fatma Corporation yang beroperasi selama Tiga tahun ini dan tidak melakukan reboisasi, maka Desa Waehotong Baru, Kecamatan Kapala Madan, Kabupaten Buru Selatan (Bursel) mengalami hantaman luapan banjir bandang.

Kepada SABUROmedia.com, Kepala Desa Waehotong Baru Idris Buton mengatakan, PT Nusa Fatma Corporation diduga telah merusak hutan dan pencemaran lingkungan, sehinggq mengakibatkan kesensaraan bagi masyarakat akibat luapan banjir bandang merembet ke Desa Waehotong Baru setinggi 1,5 Meter. Senin, 27/9/2021.

Lanjut Idris, bukan hanya itu saja, akan tetapi sisa limbah hasil olahan kayu oleh PT Nusa Fatma juga menutupi areal pesisir pantai yang dibawa derasnya Air hujan mulai dari Desa Waehotong Baru hingga pesisir pantai Desa Balpetu.

Kata Idris, dengan demikian masyarakat di Dua desa tersebut meminta Kepada Bupati dan Wakil Bupati Hj. Safitri Malik Soulissa – Gerson Eliaser Selsily bersama Dinas Kehutanan Provinsi Maluku secara tegas mencabut izin operasional PT Nusa Fatma yang kini beroperasi di Desa Fogi, Kecamatan Kapala Madan, Kabupaten Buru Selatan.

Tambahnya, menurut Idris, bila permasalahan ini tidak menjadi perhatian pemerintah daerah, maka Desa Waehotong Baru dalam kurung waktu 2-3 tahun kedepan akan terancam di gusur oleh luapan banjir bandang.

Kemudian Idris Buton (Kepala Desa Setempat) juga berharap kepada pihak Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dan Dinas Kehutanan Provinsi berserta jajaran UPTD Kehutanan yang ada di kabupaten ini, untuk dapat mencabut izin operasional penabangan kayu Log/Bulat oleh PT Nusa Fatma yang kini beroperasi di Desa Fogi.

“Permintaan masyarakat kami melalui saya sebagai pemerintah Desa, karena Perusahaan tersebut saat beroperasi dalam mengambil kayu Log/Bulat tidak memperhatikan dampak lingkungan, lagi pula tidak melakukan reboisasi kembali, “kata Kades, ini tegas masyarakat sesuai fakta dilapangan.

Kami juga menilai dalam operasi penabangan kayu Log/Bulat oleh PT Nusa Fatma di Areal hutan di Kabupaten Bursel ini tidak mengedepankan kesejahteraan masyarakat terkait dengan dampak pencemaran lingkungan yakni, limbahnya, “ungkapnya.

Lanjutnya, dengan demikian Kami sangat berharap kepada Pemda setempat melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menutup kegiatan operasi PT Nusa Fatma.

Musibah yang melanda Desa Kami ini, kesemunya ini sudah melaporkan secara administrasi kepada pihak Pemda setempat baik itu Kadis Lingkungan Hidup maupun BPBD untuk selanjutnya mengambil langkah tegas dan memanggil Sang Manager perusahan PT Nusa Fatma Corporation tersebut. (SM/AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *