Oleh :
Rusdi Abidin
SABUROmedia — Wanita cantik berkalung bunga mawar. Indah sekali ungkapan itu. Itu nama sebuah benteng Portugis yang dibangun di kota Ternate 1522, yg bertuliskan “Nostra Senhora Del Rosario”. Rosario; Mawar adalah mahkota semua bunga.

Dengan menggalungkan mawar “Rosario” dianggap sebagai doa yang sempurna karena di dalamnya terkandung warta keselamatan yang mengagumkan. Itu tradisi teologis. Seiring dengan hubungan dagang, kolonialisdanimperium, nama itu menemukan kecocokan makna lain, ” bunga harum semerbak mewangi “. Tidak lain makna yang merujuk pada “bunga cengkeh dan fully pala di kepulauan Maluku”.

Lima puluh tiga tahun kemudian 1575 saudaranya berdiri kokoh di pulau Ambon dataran Honipopu – Kota Laha (Pelabuhan / labuhan) yakni sebuah benteng yang diberi nama “Nossa Senhora de Anunciada” ; Wanita yang diberi kabar gembira. Ungkapan nama yang bermakna teologis, “pesan dari Malaikat Jibril kepada Maryam As akan lahir Nabi Isa As putra Maryam.

Secara sosio-ekonomi, nama benteng tersebut bermakna sama dengan saudaranya di Ternate. “Kabar gembira atas temuan bunga yang harum semerbak mewangi”. Pembangunan benteng tersebut dikemudian hari menjadi penanda lahirnya Kota Ambon, Kota Embun.

Oleh Belanda, nama benteng dirubah menjadi Victoria yang berarti Kemenangan. Lalu Nieuw Victoria, Kemenangan Baru. Iya menemukan Ambon, seperti sebuah kebanggaan atas kemenangan gemilang. Sama bangganya dengan menukar Manhattan – New York yang dikuasainya dengan pulau Rum di Kepulauan Banda demi mendapatkan tanaman pala. Tanaman buah dan bunga yang harum.

1817 Pattimura mengakhiri perjuangan pahitnya di benteng Wanita penerima Kabar Gembira dan Kemenangan itu. Sama dengan Wanita juang Maluku yang dibenamkan di laut banda. Peristiwa yang membawa kenangan pahit bagi Ambon – Maluku. Tetapi manis bagi Belanda.

Pahit dan Manis menjadi cerita berulang. Pahit konflik sosial 1999, tetapi tidak melenyapkan manis yang melekat padanya. Konflik yang menyisakan Manis kota di malam hari, pahit di siang hari. Pahit ceritanya, tapi manis music dan lagunya. Persis seperti kita menikmati kopi di santero Kota embun, di sela rasa pahit ada manisnya. Cerita warung kopi yang terasa manis, tapi ada pahitnya.

Tak salah, kalau Kota Ambon berupaya menaikan level dunianya sebagai “kota musik” mungkin supaya julukan manis itu menemukan makna lebih dan lebih populer sebagaimana makna bunga pohon yang hidup di bumi Maluku walau tidak lagi sepopuler eranya. Cengkeh dan Pala, buahdanbunga harum semerbak mewangi sepanjang hari.

Mungkinkah Kota Embun ini harum semerbak mewangi sepanjang hari, sepanjang masa ?. Kita tidak tahu. Hanya doa dan keikhlasan hidup berdampingan menerima perbedaan yang dapat meyakinkan kita semua bahwa kota ini bisa harum semerbak mewangi sepanjang hari. Sebagaimana keinginan lantunan musik berbeda tapi bisa menemukan keharmonisannya.

Selamat Hari Jadi Kotaku… Kota Ambon, semoga engkau manis, harum mewangi sepanjang masa.

 

*** Penulis adalah Penggiat Demokrasi LSM PAMOR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *