Oleh :

Elifas Tomix Maspaitella (Eltom)
Pastori Ketua Klasis GPM Kairatu

 

SABUROmedia — “Jaga-jaga” (=berjaga-jaga). Ini ungkapan sederhana yang bertujuan supaya “jang talat” (=jangan terlambat), “jang tatinggal” (=jangan ditinggalkan), “jang sampe iko sandiri” (=jangan sampai akhirnya ikut seorang diri/tidak bersama-sama), “jang dong datang se sondor ada” (=jangan sampai mereka datang anda tidak ada).

Tiap-tiap orang harus “jaga-jaga” supaya “apa mau jadi tetap ada” (=apa pun yang terjadi kita selalu ada). Nasehat ini berdasar pada semacam harapan agar “jang ada yang tatinggal/seng sama-sama” (=jangan ada yang tidak turut serta). Artinya dalam kondisi tertentu “seng boleh ada yang seng ada ka seng dapa” (=tidak boleh ada yang tidak hadir/tidak memperoleh apa pun).

Jadi penting “jaga-jaga” sebab itu harus “lia waktu babae” (=perhatikan waktu), “mangarti tanda deng nanaku” (=mengerti dan menandai isyarat), “jang sono” (=jangan tertidur), “mata deng talingang musti tabuka” (=mata dan telinga harus tetap terbuka/sadar). Karena itu “jang pawela, jang maeng-maeng” (=jangan bercanda atau main-main), tetapi juga “jang bahela” (=jangan lamban).

“Jaga-jaga” juga berarti “ubah kalakuang” (=mengubah perilaku), “jang tinggal deng ton lama” (=jangan tinggal dengan kebiasaan lama), “jang dudu tanding biking diri parsis maner tombong” (=jangan duduk laksana tuan padahal tidak punya kuasa).

“Musti jaga-jaga”. Jadi “kasih siap diri” (=persiapkan dirimu). “Jang pas acara baru mau basaleng” (=jangan sampai acara sudah mulai baru kita berdandan). “Jang acara mulai, tar siap apapa satu lai” (=jangan sampai mulai acara, tidak ada apa pun yang dipersiapkan). “Jang sampe aer su di batang leher baru mulai bagara” (=jangan sampai air su di leher baru mulai berusaha/bergerak). “Musti jaga-jaga”, “ator tempo” (=diatur lebih awal).

“Awas, jang talat” (=hati-hati jangan terlambat).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *