Oleh
Abdul Karim Tawaulu
SABUROmedia – Setelah selesai membaca mukaddimah, alfakir mengajak jamaah untuk bersyukur kepda Allah, bershalawat kepada Rasulullah صل الله عليه وسلم , dan meningkatkan takwa kepada-Nya dengan takwa yang haqqa tuqatihi; takwa dengan sebenar-benarnya takwa.
Selanjutnya alfakir sampaikan bahwa pada idul adha kali ini ada tiga pelajaran berharga yang mesti digarap oleh kita umat Islam; baik sebagai umat maupun sebagai bangsa.
Pertama, kita belajar dari pengorbanan zuriat Nabi Adam as, yakni Habil dan Qabil. Qur’an mengisahkan bahwa pengorbanan Habil-lah yang diijabah oleh Allah Swt. Indikator keberterimaan pengorbanan ini karena aspek keikhlasan, dan kesabaran Habil.
Sejarah kemudian mengabadikan kisah Habil dan Qabil sebagai sejarah pertumpahan darah pertama di muka bumi. Ketidaksukaan Qabil atas perjodohan saudari kembarnya, Iklima dengan Habil menggerakan tangannya merobek nafas kehidupan sang adik.
Allah menarasikan ini agar dijadikan i’tibar. Kerakusan, keegoisan, dan keserakahan menghadirkan jalan paling ampuh menuju kehancuran. Faktanya, kehancuran dan kemudaratan terjadi disebabkan oleh sifat-sifat ini.
Kedua, kita belajar dari loyalitas Ibrahim as dan anaknya Ismail as kepada Allah Swt. Loyalitas ini berasaskan aspek ta’abbudi (penghambaan). Sehingga dengan itulah, rasionalitas (ta’aqquli) Ibrahim as tunduk di bawah rasionalitas wahyu. Inilah puncak ketundukan sempurna dalam sejarah peradaban manusia. Bahwa sesuatu yang irasional dalam ukuran logika manusia belum tentu irasional dalam pandangan Allah Swt. Bukankah segala penciptaan Allah yang mengelilingi kita ini kadang-kadang jauh dari ukuran dan kadar rasionalitas akal kita sebagai manusia.
Loyalitas “abul anbiya” ini bukan loyalitas bersyarat apalagi bertendensi, sebagaimana manusia yang kadar loyalitasnya berlimit, periodik, bermusim, dan berdasar untung-untungan.
Di posisi inilah puncaknya kualitas berkurban. Sapi, kambing, untah, dan biri-biri hanyalah simboliasasi dari dimensi religiutas kita. Allah menegaskan bahwa yang sampai (ke Allah) itu bukan darah dan daging, tapi takwa. Mestinya level loyalitas kita naik; dari selama ini penuh dengan kepura-puraan, selepas ini harus pamuncak. Hanya kepada Allah kita loyal bukan kepada manusia yang punya jabatan, pangkat, dan kedudukan.
Dalam aspek kepemimpinan, Ibrahim as adalah landscape, uswah hasanah tentang cara memanage emosi, mengelola pemerintahan yang demokratis, dan menancapkan kemampuan membaca masa depan (visioner). Bagaimana perintah Allah lewat “arru’yatus shadiqah” masih didialogkan lagi dengan anaknya Ismail. Meminta pendapat sang anak. Padahal secara syariah wahyu Allah adalah mutlak dan konsekuensinya sami’na waatho’na. Tapi lihat. Ibrahim memberi contoh tentang baiknya asas musyawarah dan buruknya sikap totaliter, atau otoriterianistik.
Sementara dalam aspek rakyat, Ismail as menunjukan sikap dengar, taat, dan sabar. dengan kalimat indah Ismail berkata :
يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan untukmu. Insya Allah engkau mendapati aku termasuk orang yang sabar”.
Sabar memang pahit, tapi efeknya menyehatkan. Di tengah ketidakpastian ini memang kita dituntut untuk bersabar. Sabar menghadapi cobaan bencana nonfisik ini, sabar dalam menerima ketentuan Allah, serta sabar dalam menerima keputusan-keputusan negara. Pada sabar yang terakhir ini sungguh menyakitkan, tapi itulah kondisinya.
Ketiga, kita belajar dari keyakinan Hajar, ibunda Ismail as. Suatu bentuk keyakinan yang tinggi maqamnya. Tidak ada seorang perempuan lemah pun dengan anak yang masih dalam susuan membiarkan dirinya ditinggal di tengah gurun tandus, hutan belantara, atau samudera luas, kecuali yang di dalam jiwanya tertancap keyakinan tinggi kepada sang khalik.
Lagi-lagi sebuah perintah irasional yang mesti diterima oleh Ibrahim dan isterinya. Dengan keteguhan iman, Hajar berkata “Jika ini perintah Allah hai suamiku, Allah tidak akan membiarkan kami dalam kesusahan”.
Ini pelajaran penting bagi kita dalam mengarungi perjalanan rumah tangga. Ketaatan Hajar adalah kesempurnaan ketaatan seorang isteri. Dan ketakwaan Ibrahim adalah kesempurnaan ketakwaan seorang suami. Allah tunjukan keseimbangan takwa hamba-Nya dalam paket suami-isteri, Ibrahim dan Hajar.
Dari hanya berdua, tebentuk menjadi kabilah, dan dari kabilah itu berkembang menjadi bangsa besar yang hari ini turut mewarnai sejarah umat manusia. Dari tanah tandus Arabiah membesar dan membentang hingga ke samudera pasifik, melintasi laut Mediterania dan sampailah pada ujung benua Amerika.
Kita belajar bagaimana sebuah kelompok kecil akan menjadi kekuasaan besar manakala dimanage dengan baik, dikanvasi dengan sabar, etos kerja, takwa, dan keyakinan. Kekuatan-kekuatan kecil yang berserakan akan menjelma menjadi kekuatan besar yang heroik.
Dalam rentang waktu yang panjang, krisis datang silih berganti menghiasi kehidupan keluarga Ibrahim as. Namun dari krisis-krisis itu menjadi daya dorong yang kuat. Bagi kita hari ini, krisis pandemi Covid19 dapat kita olah menjadi driver untuk memacu lajunya perjalanan kita. Membuat kita lebih kreatif dan inovatif menghadapi tuntutan hidup. Dan insya Allah keyakinan itu akan menghantarkan kita melewati lorong gelap ini hingga sampai di ujungnya yang di sana ada nur, cahaya kehidupan.
Banyak orang-orang sukses yang lahir dari sebuah krisis. Insya Allah (SM)
*** Penulis adalah Sekretaris PDM Kota Ambon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *