SABUROmedia, Ambon,- Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon, Burhanudin Rumbouw mengaku cukup kesal dengan kinerja tim gugus Covid-19 Provinsi Maluku maupun Kota Ambon dalam melihat persoalan covid-19 di wilayah bertajuk “Negeri Para Raja-Raja” ini.

Betapa tidak, eksistensi tim covid-19 untuk memperhatikan protokol kesehatan (protkes) dinilai hanya sebatas wacana dan tidak lebih.

Sebab, pada pelabuhan Yos Sudarso Ambon, kerap terjadi keramaian penumpang yang tak terbendung.

“Ini fakta yang terjadi saat ini, bukan hoax. Di pelabuhan Yos Sudarso Ambon, kerap terjadi keramaian. Anjuran taat Protkes tidak berjalan dengan baik,” kata Rumbouw kepada awak media di Ambon, Rabu (14/4/2021).

Kata Rumbouw, keramaian di pasar maupun pelabuhan bukan lagi pemandangan baru. Tapi anehnya, kewajiban menggunakan surat rapid tes maupun tes antigen saat akan bepergian dari daerah satu ke daerah lainnya masih saja berlaku.

“Jangan bodohkan masyarakat dengan isu-isu hoax, stop dengan surat rapid tes yang hanya memberatkan dan mempersulit masyarakat. Jangan tuan-tuan jadikan surat rapid tes sebagai bisnis besar untuk memeras rakyatmu sendiri,” tegas Rumbouw

Menurutnya, pandemi covid-19 membuat masyarakat menjadi cukup sulit mendapatkan uang. Jika pun ada, itu tidak seperti sebelum corona muncul.

“Lalu sudah susah, pemerintah menambah menyusahkan dengan pemberlakuan surat rapid tes dan tes antigen. Padahal, anjuran protkes juga tidak diperhatikan dengan baik. Khan aneh,”sesal dia

Untuk itu, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Unpatti Ambon itu meminta pemangku kebijakan di daerah ini baik Gubernur Murad Ismail dan Walikota Ambon Richard Louhenapessy untuk menghilangkan pemberlakuan surat rapid tes dan tes antigen bagi masyarakat.

“Kami desak pak Murad dan Pak Richard untuk menghilangkan pemberlakukan ini. Sebab masyarakat sudah sulit, malah tambah dipersulit dengan adanya pengurusan surat-surat ini,” pungkasnya. (*SM-Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *