(Tinjauan Kritis Terahadap Halal Bi Halal Virtual Ketum PB HMI DIPO-MPO Lintas Generasi)

 SABUROmedia, Ambon – Bersamaan dengan ini, perkenankan kami, yang tidur di atas “emas, nikel, uranium, bermandikan minyak bumi, berenang di atas Lumbung Ikan Nasional (LIN) dan berparfumkan Gas Abadi (Blok Masela)”, meyakinkan Indoneisa bahwa kami, masi terus menyanyikan lagu Indonesia raya dan Hymne HmI. Meski kemiskinan dan mininya kwalitas Sumber Daya Manusia (SDM) terus menganga, tetap sajah perebutan kekuasaan di barat nusantara sering menjadikan daerah kami sebagai akibat daripada itu, tapi yakinlah bahwa kami masi terus mengibarkan merah putih meski dengan kaki telanjang.

Tulisan ini disampaikan dalam surat terbuka yang ditanda tangani Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Maluku-Maluku Utara, Ketua Umum M. Tahir Wailissa Dan Sekertaris Umum, Amirudin pada tanggal 01 Juni  2020 M bertepatan hari peringatan kesaktian Pancasila.

Sebagai Pengantar perkenankan kami mengutip “Moehammad Hatta (Demokrasi Kita)”. Bahwa dasar-dasar demokrasi yang terdapat dalam perggaulan hidup asli di Indonesia kita pakai sebagai sendi politik kita. Akan tetapi insaf bahwa dasar-dasar yang ada dahulu tidak mencukupi sekarang untuk menyusun Indonesia merdeka yang berdasarkan demokrasi. Apa yang terjadi sekarang ini ialah KRISIS demokrasi, atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaan akan menjadi anarkhi, dan lambat laun akan digantikan oleh dictator. Ini adalah hukum besi sejarah dunia!

Kanda/Yunda Yang dan Kader HmI SE-Indonesia yang kami Banggakan.

Izinkan kami mengutip pandangan Kanda Chumaidi Syarief Romas dalam sambutannya, “Kemampuan yang terpenting dari setiap kader HmI adalah daya kritisnya yang membuat organisasi ini begitu dinamis. Dan bahwa Kritik itu Sebagai Satu Kewajiban Ilmiah. Oleh karenanya izinkan kami yang awam ini memotret pikiran-pikiran para pemegang pucuk pimpinan saat ini, agar kami juga dapat mengintropeksi diri dan yakin, bahwa mereka pantas mewakili kami.

Potret Pemikiran.

Mencermati Sambutan Pejabat ketua umum PB HmI Arya Kharisma Hardi, bahwasanya inventarisir dalam hal perkaderan harus di inovasi sesuai dengan kondisi di era millenial, yang memiliki gaya kehidupannya tersendiri, terlebih di era milenial ini sangat dipengaruhi oleh teknologi dan media sosial. Jika dilihat dari grafiknya, aktifitas perkaderan tentu ada yang naik ataupun turun pada setiap HmI Cabang di seluruh indonesia. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kegiatan secara Internal maupun Eksternal. Salah satu kegiatan yang berdampak pada perkaderan HmI adalah nilai guna HmI terhadap masyarakat sekitar. bahwasanya kita sangat perlu untuk mencari format baru dalam mengelola perkaderan HmI di tengah tantangan arus perubahan zaman yang serba teknologi, sehingga HmI dapat mengimbangi kebutuhan SDM. Salah satu cara dengan mendorong Bakornas-Bakonas yang ada pada selingkup tubuh HMI untuk mengasah kualitas SDM kader HmI sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sambutan inipun diakhiri dengan meminta saran dan kritik dari senior kepada kader HmI yang masih aktif untuk dapat melalui tantangan saat ini serta infiltrasi terhadap negara dan Himpunan.

selanjutnya Formature Ketua Umum PB HmI – Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) Affandi Ismail, dalam sambutannya mengingatkan bahwa HmI dalam catatan sejarah memiliki catatan yang konstruktif positif bagi kemerdekaan RI dekade per dekade hingga sekarang, serta yang tak kalah penting sebagai faktor diferensia HmI adalah Islam. maka HmI harus berkontribusi bagi tegaknya Izzatul Islam baik di Indonesia maupun dunia. Hal ini beranjak dari kepahaman dan kesadaran kita sebagai kader HmI bahwasanya Islam tidak sedikit yang terjajah di dunia. Secara defacto NKRI berpenduduk mayoritas Islam, namun berbanding terbalik dengan realita yang kita lihat. Bahwasanya kemiskinan dan ketidak-adilan masih terjadi di NKRI. NKRI masih perlu kita pertanyakan komitmennya terhadap bagaimana memperjuangkan kaum mustad’afin, pada saat NKRI telah menjadikan Pancasila sebagai Nilai luhur (Ideologi Bangsa), maka tentu manifestasi dari nilai Pancasila harus kita pertanyakan saat ini. Termasuk kepada para elit NKRI saat ini juga perlu dipertanyakan. Dengan kondisi seperti ini diperlukannya sinergitas Kader HmI baik HmI MPO maupun HmI DIPO untuk benar-benar menjadikan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Menjadikan Islam sebagai sistem nilai, tentu didalamnya kita menghargai kemajemukan dan perbedaan serta menghargai pluralitas. Contohnya inisiasi menggerakkan Ekonomi Syariah oleh beberapa OKP yang di inisiasi oleh kanda Arif Rosyid. Dalam gerakan ini tidak hanya mempengaruhi secara ekonomi saja namun juga aspek pendidikan (pendidikan Islam). Kegiatan seperti inilah yang harus di mulai oleh Kader HmI. Kontribusi besar yang bisa dilakukan oleh HmI kedepannya adalah bagaimana merawat perkaderan secara masif serta bagaimana mengoptimalkan lembaga kekaryaan. Sebagai penutup sambutan, Affandi Ismail menawarkan secara tegas kepada HmI Dipo agar selalu bersinergi dengan HMI MPO untuk melakukan kegiatan positif, tidak hanya taktis (jangka pendek) tapi mampu merumuskan apa yang sebenarnya bisa dilakukan HMI untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang di ridhoi Allah SWT.

Kanda Chumaidi Syarief Romas dalam kesempaan itu memberikan pandangan. tentang “Siapa sebenarnya HmI yang kita lihat hari ini?” sebagai orang yang hidup di tiga generasi, yakni Orde Lama, Orde, Baru dan Reformasi. Indonesia ini, harus dikenal berdasarkan rezim dan ciri-cirinya, serta bagimana demokrasi yang melahirkan dictator baik dari sikaf hingga cara berfikirnya. Tentu ada perbedaan antara semangat kedirian HmI di tahun 1947 yang membawa misi melawan Westernisasi. Dan yang Harus diketahui, Indonesia ini adalah negara pasca koloni yang secara sosialogis masi mewarisi warisan hidup masa lalu yang tetap melekat hingga sekarang ini.

Kesempatan yang sama, Kanda Abdullah Hehamua : “Di usia 75 tahun merdeka begini, suda seharusnya disore hari kita suda duduk minum kopi, bermain dengan cucu sambil makan pisang goreng atau singkong. Tapi hari ini, ternyata kondisi jauh dari harapan”. Kegagalan System Pendidikan Nasional mengakibatkan negara ini mengalami Krisis Korupsi, Krisis Narkoba, Krisis Keluarga dan Krisis Law Enforcemennt (penegakan hukum). olehnya itu, butuh insan-insan ulil albab untuk dapat berjuang merubahnya. Dengan memperbaiki pendidikan HmI (perkaderan) berlandaskan Aqidah, tetap menjaga inndependensi HmI dicapai dengan optimalisasi lembaga kekaryaan. Dua HmI ini (DIPO & MPO) melakukan langkah penyatuan dengan melakukan sinergisitas kegiatan 2-4 tahun hingga kongres bersama bisa dilakukan dengan terlebih dahulu menyatukan Iman dan Taqwa kita.

Kanda Akbar Tanjung juga turut menyampaikan pandangannya. bahwa HMI dapat menyongsong masa depan Indonesia dengan bersatu, berdaulat, adil dan makmur akan mencapai kesejahteraan. Untuk Konferensi HMI DIPO dan HMI MPO bisa kita capai dengan semangat bersama.

Selanjutnya, kanda Zacky Siradj, kanda Harry Azhar Aziz, kanda Eggi Sudjana. kanda M. Saleh khalid, kanda Tamsil Linrung, kanda Yusup Hidayat, Kanda Syafinuddin Al-Mandari, Cahyo Pamungkas, Mudzakir Djabir, Fazar Zulkarnain, dan kanda Zuhad Aji sebagai penutup. semuanya dengan pandangan serta harapan yang sama terkait perbaikan internal organisasi, kontribusi konsistensinya bagi ummat dan bangsa.

Kanda/Yunda serta kader HMI se Indonesia yang kami banggakan,

Menyelami Sambutan Pj. Ketua Umum

Sebagai kader HmI di pelosok nusantara, dengan segala ke-awam-an ini, begitu antusias mengikuti acara dimaksud. Berharap ada gagasan besar yang ditemukan dalam percakapan akbar itu. Jika hanya perkaderan yang difokuskan, maka ingin kami tegaskan, bahwa, Perkaderan itu telah menjadi keharusan, sebab organisasi ini adalah organisasi perkaderan yang berasaskan Islam. Maka selalu menjadi skala prioritas disetiap masa periodisasi kepengurusan dari PB sampai ke lapisan paling bawah (Komisasariat) untuk melaksanakannya. Dan bagi kami yang awam ini pula, bahwa sambutan itu tidak sesuai konteksapalagi konten. Harapan kontennya adalah Grand Design Pj. Ketua Umum yang akan dikonversikan oleh kami di Badko dan Bakornas, cabang hingga komisariat itulah yang dinanti. Sebab Allah SWT dalam grand design-Nya “Fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah”. Tapi Rasul Saw menerjemahkan itu secara detail “Man aroda dun yaa fa”alaihi bil ‘ilmi waman arodal akhirati fa’alaihi bil ilmi, bahkan, wa man aroda huma fa’alaihi bil ‘ilmi”. Intinya ilmu pengetahuanlah yang dapat menerjemahkan bait-bait Illahi untuk menyuburkan dan mendamaikan bumi.

FENOMENA GLOBAL

Laju perubahan zaman dari Feodalisme ke Nation State, Industrialisasi hingga ke High Tekhnologi telah menghantarkan kita pada kenyataan-kenyataan baru, yang apabila kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menangkap pesan-pesan itu, tentu kita akan semua akan tergerus oleh zaman. Teka-teki Fenomena global sekarang ini harus mampu ditakar pada level pimpinan nasional. Sebab kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang akan di konvers ke bangsa ini akan terkendala pada aspek idiologi, Politik, ekonomi, social-budaya, hukum dan pertahanan keamanan. Sekiranya kita tidak lagi kecolongan misalnya pada kasus covid-19.

Berbeda tentu, dengan tantangan nasional dan internasional yang di hadapi para senior di tahun 1947. dimana indonesia baru saja menemukan momentum sejarah, hal ini membuat Indonesia mendapatkan kembali tantangan secara eksternal. Dimana dunia sedang menghadapi konflik idiologi antara sosialisme dan kapitalisme kedua negara yang masing-masing diprakarsai oleh Union of Soviet Socialist Republics (USSR) dengan sosialisme/komunisme sebagai idiologinya, serta pakta warsa sebagai aliansi keamanan dan pertahanannya. Amerika dengan sekutu serta NATO memilih liberalism/kapitalism sebagai idiologi yang diperjuangkannya. Kedua negara tersebut pada era perang dingin dikenal sebagai negara adidaya. Masing-masing Kedua negara tersebut mengembangkan idiologi yang dianut negaranya untuk mendapatkan dukungan negara lain dalam perang idiologi dimaksud.

Bagaimana kontestasi Global hari ini? Cermatilah tentang perang dagang, senjata nuklir dan skenario Perang Dunia III antara AS, NATO dan Zionis vs yang dianggap Negara Liar (Iran, Surya, Korea Utara, Rusia, Cina dll) dalam kaitan dengan perebutan sumber-sumber migas di berbagai belahan dunia. Jangan juga lupa wahai Pengurus Besar bahwa didepan ada konflik laut Cina Selatan yang memungkinkan untuk dimulainya Perang Dunia III. Sebagai orang awam kami menanti ucapan “apa sebenarnya yang terjadi, mengapa ini terjadi dan bagimana seharusnya bangsa ini memposisikan diri”. Bukankah ini menjadi PR bagi Pengurus Besar untuk menganalisis secara komprehensif tentang Geopolitik dan Geostrategis Internasional untuk memberikan warning kepada segenap bangsa ini untuk terus melakukan penyesuaian sesuai dengan laju perubahan zaman. Demikian halnya bagi kami segenap pengurus BADKO se-Indonesia untuk bisa menyesuaikan setting agenda local.

Untuk diingat,Presiden RI, Ir Soekarno, dalam pidato Peresmian Lemhannas RI tahun 1965, menegaskan “bahwa pertahanan nasional hanya dapat dilaksanakan secara sempurna, bila suatu bangsa mendasarkan pertahanan nasional atas pegetahuan geopolitik”.

Jenderal Soedirman mungkin mengingatkan kita, bahwa HMI bukan sajah Himpunan Mahasiswa Islam, melainkan Harapan Masyarakat Indonesia. Ini bukan sekedar pesan historia, melainkan pesan strategis, yang mungkin sajah membuat himpunan ini gagal dibubarkan oleh Ir. Soekarno atas dukungan sebagian orang dekat serta dari Angkatan Darat, Muhammadiyah, NU dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Jika TNI menjaga batas teritori NKRI dengan segenap kekuatannya, maka tugas kita adalah menjaga menajaga akal sehat manusia Indonesia dengan Idiologi Pancasila itu, agar setiap ucapan, dan tidak kita benar-benar mengaktualisasikan nilai-nilai di Pancasila itu. Dengan sendirinya ancaman disintegrasi bangsa dapat diminimalisisir. Mungkin demikian hemat kami atas pesan Jend. Soedirman.

Menanti Janji Formature Ketua Umum MPO

Saudara Affandi yang kami hormati, Bahwa fakta telah menanti suatu kejelasan historis atas peran tokok-tokoh Islam dalam lintasan sejarah perjalanan bangsa. Dengan penuh harapan kelak ada tokoh-tokoh Muslim seperti, K.H. Agus Salim yang dengan intelektual sekaligus ke-Aliman-nya mampu memimpin dunia diplomasi Indonesia bertahun-tahun lamanya. Kejelasan akan pandangan social politik seacam ini, telah sekian purnama dinanti. Hal itu berkaitan dengan buah reformasi dengan fakta demokrasi electoral ini telah memudahkan jalan kapitalisme dan menghancurkan harapan aktualisasi demokrasi pancasila. Kita juga tau, bahwa masi banyak penumpang gelap Oligarki lama yang di carryover masuk dalam alam reformasi melalui system multi partai. Yang sasarnnya adalah Sumber Daya Alam (SDA) dan kapitalisasi pasar melalui demokrasi electoral itulah negara ini telah diarahkan menjadi negara pasar (welfare state). Semoga ungkapan-ungkapan ketum Affandi bukanlah sekedar statemen of intent, kami menanti karya nyata untuk bumi Indonesia.

 Kanda/Yunda Yang dan Kader HmI se-Indonesia yang kami Banggakan.

Ada dua pernyataan mantan ketum PB HMI yang membuat kami tergesit untuk mengumpulkan kepingan-kepingan referensi serta menghubungi beberpa senior untuk menelaahnya. Pernyataan itu ialah: Pertama kanda Chumaidi, tetang “siapa sebenarnya HmI yang kita lihat hari ini?”. Yang kedua kanda Hehamahua, “dengan usia 75 tahun merdeka yang begini, suda seharusnya di sore hari duduk minum kopi, bermain bersama cucu sambil makan pisang goreng atau singkong. Tapi hari ini ternyata kondisinya jauh dari harapan.

Dengan segala kedangkalan ini, kami memaknainya sebagai suatu kecemasan batiniah yang tak ikhlas melihat kondisi objektif HmI, bangsa hari ini, menuntun setiap prekuensi batiniah yang setara untuk kembali merenung, mengkaji dan merumuskan jalan keluar atas apa yang di pesankan ini sebagai bagian dari tanggung etik provetik. dengan kedangkalan ini pula, kami menggunakan etik itu, seperti banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan tafsir-tafsirnya, adalah amanah Allah kepada hamba-hambanya selaku khalifa-Nya di bumi. Dalam mengemban missi ke-dunia-an. yang antara Hak dan Kewajiban masing-masing insan adalah sama, dan pengejawantahannya jelas menuntun terbentuknya satu tatanan dunia yang benar-benar demokratis.

Krisis Kepemimpinan Nasional; Pasar Uang vs Pasar Pemikiran

Masi dengan ke-awam-an ini harus kami sadari, bahwa Himpunan ini tengah mengalami krisis kepemimpinan nasional. Para pemimpin kita, tidak cukup memiliki baseline historis dan konsepsi strategis yang mumpuni agar dapat memposisikan HmI sebagai mitra strategis menjembatani kepentingan starategis nasional dan internasional. Jika ditelisik lebih jauh, fakta-fakta tentang momentum kontestasi HmI, katakanlah Kongres. tidak pernah menyuguhkan syarat kualifikasi pemikiran untuk menemukan calon pemimpin nasional yang memiliki legitimasi politik dan legitimasi idiologi yang dibutuhkan zaman, Agar HmI dianggap setara dalam pergaulan politik nasional hingga international. sekiranya Kongres hanya menyuguhkan produk-produk liberal sesuai kebutuhan pasar uang bukan pasar pemikiran. “Hentikan” cara-cara yang demikian itu. Sebab tanpa sadar kita telah menyuburkan agenda kapitalisme. Jika hal ini terus membudaya, tentu kita akan sulit membedakan apa yang disebut Hatta “Islam Ginju dan Islam Garam” Jika proses HmI sedemikian naifnya, harus pula kita akui bersama bahwa kita telah gagal menakar masa depan Indonesia. Mari berbenah diri, zaman telah berubah, sekiranya belajarlah dari sejarah. Jangan berlebihan memposisikan HMI sebagai mitra taktis yang sibuk dengan relawan sembako. Itu bukan sejatinya HMI. Sebab HMI bertanggung jawab atas nutrisi pikiran manusia indonesia, mari bersama meng-Zoom kwalitas pemimpin sekaligus meng-Zoom isi kepala masing. sebab disitulah sumber segala Pandemic.

 —–HMI BUKAN MITRA TAKTIS****TAPI MITRA STRATEGIS—-

Kembalikan Khittah HmI, Jagalah Dengan Baik Gerbang Demokrasi Pancasila Itu agar kita semua benar-benar menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila

Demikian apa yang dapat kami sampaikan. Sekali lagi, kritik sebagai kewajiban ilmiah, sebagai kader yang awam ini, sebelumya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan. Tolong gunakan hak guna jawab yang sama. Semoga Allah SWT meridhoi segala ikhtiar juang kita. Amin.

Billahitaufik Wal Hidayah

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Ambon, 09 Syawal 1441 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *