#Membangun 56.000.000 Mushalla baru

#Melahirkan 56.000.000 Imam baru

Penulis : Dr.H.Abidinsyah Siregar,DHSM,MKes

SABUROmedia, – Ramadhan datang… Ramadhan datang….

Doa tulus dan khusu’ telah dipertemukan dengan Ramadhan..

Rindu pada Ramadhan dikabulkan..

Nikmat ibadah terasa sudah…

Indahnya tilawah melembutkan hati..

Mengangkat harkat..

Saatnya Introspeksi diri dan berhenti menatap diri..

Lapar Dahaga membawa serasa dengan sesama..

Menjadi detoksifikasi diri dari ria dan kesombongan..

Melatih diri dalam pengawasan sendiri..

Dimana kualitas dipacu oleh diri sendiri..

Para ahli menemukan Puasa cara terbaik untuk hidup sehat dan berkualitas..

Ramadhan kali ini berbeda..

Dunia sedang dalam cengkraman virus corona..

Negara terkuat, terkaya, ternama…semua tunduk dalam ketakutan..

Worldometer perlihatkan angka yang terus bertambah tak terhentikan..

Virus Corona, sekalipun tidak terlihat, tetapi dunia dalam ketakutan masif..

Kekuatan dan tehnologi hanya terdiam tak berdaya..

Kecerdasan dan Kekayaan tak punya ruang berbuat..

Kerjasama antar negara dilumpuhkan oleh ketakutan masing-masing negara..

Kecepatan transmisi dan inkubasinya melampaui kesiapsiagaan..

Semua pengalaman kebencanaan bagai tak dapat digunakan..

Ramadhan kali ini berbeda..

Dunia punya tamu, rombongan virus dari Wuhan China..

Virus baru, baru dikenal diakhir tahun 2019..

WHO beri nama Covid-19..

Semula inangnya hewan, hidup tenang sejak alam terkembang…

Kerakusan manusia, membuat inangnya berpindah pada manusia..

Si Covid-19 menyerang manusia, menutup sumber pernafasannya..

Mobilitas manusia dan transportasi, membantu penyebarannya melintas benua..

Menginfeksi manusia dan antar manusia..

Melahirkan nomenklatur baru OTG, ODP, PDP, Suspect dan Penderita..

Jumlahnya jutaan diseluruh dunia..

Entah berapa juta lagi akan disasar sang virus corona..

Fatallitasnya mungkin paling rendah..

Tetapi Isolasi 14 sampai 30 hari membuat manusia kehilangan nyali..

Dan efek sosialnya mengancam negeri..

Ramadhan kali ini berbeda..

Menjadikan Rumah sebagai pusat aktifitas belajar, bekerja dan beribadah..

Ada 67 juta keluarga menjadikan Rumah sebagai Istana bersama..

Rumah yang sudah lama sepi kini hangat kembali..

Rumah menjadi tempat paling ramai suasana kekeluargaan yang ceria..

Menjadi tempat paling aman dan nyaman didunia…

Rumah menjadi tempat berlatih kerjasama, saling bantu dan peduli…

Rumah bercahaya kembali..

Ramadhan kali ini berbeda..

Adzan penanda awal Ramadhan terdengar berbeda..

Gemuruhnya sayup-sayup tak seperti tahun-tahun sebelumnya..

Masjid dan Mushalla ditutup demi kemashlahatan manusia..

Kemashlahatan adalah nilai tambah nikmatnya ibadah..

Aktivitas ibadah pindah dan sepenuhnya di rumah..

Mulai malam ini berdiri 56.000.000 surau/mushalla/mesjid baru, dirumah..

Terlahir 56.000.000 muazzin baru, dirumah…

Jamaah keluarga dipimpim 56.000.000 imam baru, dirumah..

Setiap malam ada ta’lim pengajian 1 ayat ditiap Rumah..

Akan 1.680.000.000 ayat berulang terdengar, terkaji, terhafal..

Menjadi doa untuk kesehatan dan kebangkitan Bangsa….

Ramadhan kali ini berbeda..

Membuat kita makin percaya…

Bahwa manusia itu rentan tapi juga sempurna…

Kerentanannya dimabuk asesori dunia…

Kesempurnaannya diatas semua asesori dunia..

Puasa membuka jiwa dan raga, memisahkan rentan dan sempurna..

Kewajiban berpuasa sebagaimana orang-orang sebelumnya..

Mengangkat lebih tinggi harkat manusia kepada ketaqwaan..

Sebagai Khalifah, pemimpin, untuk dirinya dan lingkungannya..

Mewujudkan kasih dalam bingkai Rahmatan lil’alamin..

Menghadapi kesempurnaan itu, Covid-19 segera kembali kepada kodratnya..

Kelak tercatat menjadi milestone, batu loncatan untuk peradaban manusia..

Kepada yang sakit tetaplah bersabar, semoga segera pulih seperti sediakala..

Berkumpul dan bersyukur dalam kegembiraan bersama keluarga..

Kepada yang telah wafat, semoga dalam erangan sakitnya taubat diterima…

Dan di alam janji Sang Pencipta, mendapat tempat yang sebaik-baiknya..

#Demi Waktu, sungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (QS.Al Ashr 1-3).

Selamat Berpuasa, Mohon maaf lahir dan bathin

Dr.Abidin dan Keluarga

(Ahli Utama BKKBN dpkKemenkes RI/ Mantan Deputi Bidang Adpin BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ MN Kahmi/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP DMI/ Ketua PP ICMI/ Waketum PB JBMI/ Dewan Pakar PB IDI/ Waketum PPKestraki/ Waketum DPP Asklin/ Ketua IKA FK USU Wil.Jakarta/ Ketua Orbinda IKAL Lemhannas).

Wasekjen PB HMI: Aktivis RMS tidak Memiliki Konstruksi Fakta & Logika Sejarah yang Runut

SABUROmedia, Ambon – Aktivis RMS kembali berulah, kali ini tiga tersangka sudah diamankan dan diinterogasi Kepolisian. Sejumlah informasi yang berhasil dihimpun bahwa ketiganya terindikasi  dibiayai, masing-masing berinisial SVT (57 Tahun), AL (44 Tahun), dan JP (52 Tahun).

Selain ada pengarahan masa di salah satu Desa yang selama ini diketahui banyak terdapat simpatisan RMS, video tiga orang di atas dan video pengarahan masa di Desa A yang berada di pulau Haruku itu kini beredar luas dan cepat di masyarakat via WA.

Terkait dengan rentet peristiwa tersebut, Wasekjen PB HMI, R.Ranjes Reubun mengatakan, Kapolda maluku dan pangdam patimura semestinya suda jau-jau hari sudah ada penjagaan khusus didalam kota sehingga gerakan RMS tidak akan terjadi maluku.

“ Saya kira ini adalah tanggung jawab kapolda maluku dan pangdam patimura.,saya harap presiden memanggil kapolda maluku dan pangdam untuk memberikan teguran, sebagai Anak Maluku saya mengutuk keras Otak dibalik peristiwa ini ditengah ancaman Pandemic Covid-19 yang semakin mengglobal”, tegas Reubun.

Kata Reubun harusnya para cendekiwan Maluku sudah memikirkan format bersama untuk menyudahi bias sejarah terhadap sejumlah fakta dan logika sejarah penting didudukan.

“Kalau kita lihat, Republik Maluku Selatan (RMS) hadir pasca dibubarnya Republik Indonesia Serikat (RIS). Kita tahu RIS ini ada karena Belanda belum rela Indonesia merdeka 100%, pasca sejumlah peristiwa heroisme Bung Karno di antaranya dekrit Presiden 5 Juli 1959, kembalinya dasar negara ke UUD 1945, dan keluarnya Indonesia dari PBB. Itu semua harus dikonstruksi dengan baik oleh generasi muda kita, logika sejarah kita harusnya sudah paham bahwa kembali ke UUD 1945 berarti bunyi model negara kita adalah Negara Kesatuan. Setelah itu kita masuk lagi ke PBB, yang diakui adalah NKRI”, terang Reubun yang juga diketahui memiliki sejumlah keluarga turut terlibt mengerjakan perumahan di Kota Masohi dulu sewaktu masih bergolaknya RMS di Pulau Seram.

Ditanyai mengenai peluang ke Mahkamah Internasional, R.Ranjes Reubun yang juga Alumnus FH Universitas Bung Karno  ini menjabarkan bahwa hari ini PBB mengakui konsep NKRI,

“Jadi kalau logika hukum dibawa ke tahun 1950 untuk jeda April dan Agustus, saya kira itu keliru. Sebab tahun 1959 muncul dekrit Presiden yang menandakan kita kembali ke konsep UUD 45, Pasal 1 Ayat 1 jelas nomenklatruanya Negara Indonesia berbentuk Kesatuan. Lalu hari ini Indonesia diakui di PBB, berarti logikanya RMS itu berurusan dengan RIS, sederhanya yang masih menggaungkan RMS berarti mereka senang dengan otak setengah hati model Penjajah Belanda waktu itu”, tutup Ranjes Reubun .” (SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *