SABUROmedia, Ambon – Bersamaaan dengan aksi provokasi Kementerian Luar Negeri RRC soal klaim perairan kepulauan Natuna Utara pada bulan Desember 2019 hingga Januari 2020, publik global juga menunjukan sikap Xenophobia (sinisme dan ketakutan) terhadap warga RRC.

Ketika Dunia Islam terus marah terhadap isu Islamophobia (kebencian anti Islam) di RRC terhadap etnis Uighur di Provinsi Xinjiang, publik global juga marah atas kelalaian dan pembiaran penanganan pasien virus Corona (nCov-2019), di Wuhan Provinsi Hubei. 

Akhirnya, banyak negara melarang warganya berkunjung ke RRC, dan membatasi kedatangan warga negara RRC. Terutama Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Turki, Saudi, Singapura, Malaysia dan Indonesia. 

Pemerintah RRC gusar dan memprotes keputusan global yang mengisolasi RRC. Alasannya, sikap tersebut bertentangan dengan prinsip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan darurat kesehatan global akibat wabah Corona, tidak boleh direspons dengan pembatasan ketat perjalanan dan perdagangan dengan RRC.

Publik global tambah bersikap Xenophobia, ketika berita update jumlah kematian akibat wabah virus Corona, sejak tanggal 9 Februari 2020, terus melonjak jadi 811 orang meninggal, 37.200 terinveksi, termasuk 265 kasus yang menyebar ke 26 negara.

Juru bicara Kemenlu RRC, Hua Chunying yang kerap bersikap sombong soal isu Natuna, kini mengemis kepada semua negara untuk membuat penilaian dan tanggapan yang masuk akal. Termasuk memohon bantuan global atas kekurangan perlengkapan medis.

Menilai sikap Xenophobia publik global dan nasioal terhadap warga negara RRC, sebagai bentuk sikap kewaspadaan nasional yang rasional terhadap bahaya nyata virus Corona, patut didukung penuh. Apalagi bersamaan dengan isu wabah virus Corona, publik nasional kaget, karena militer RRC tetap menujukan sikap kontradiksi dan konflik, dengan terus memprovokasi patroli TNI di perairan kepulauan Natuna Utara dengan kapal perang Fregat Jiangkai Class, sejak tanggal 29 Januari 2020 lalu.

Memonitor manuver pemerintah RRC yang memicu krisis global tersebut, kami pimpinan organisasi Bela Indonesia dengan ini menyampaikan sikap mendukung penuh langkah pemerintah RI menaikan level kewaspadaan nasional dengan memulangkan WNI yang berada di kota Wuhan RRC, menghentikan kunjungan, visa on arrival. Impor hewan hidup dari RRC, dan memulangkan WNI RRC dari Bali. Agar terjaminnya keselamatan, kesehatan dan perlindungan WNI dari epidemi wabah virus Corona.

Belain mendukung langkah aksi isolasi global terhadap warga negara RRC, demi terjaminnya perlindungan kesehatan, pencegahan ancaman nyata kohesi sosial, dukungan moral kepada warga negara RRC dan warga dunia yang terinveksi, pasca meningkatnya jumlah kematian warga negara RRC, akibat wabah virus Corona. 

Belain juga mendukung tindakan tim komunikasi resiko dan manajemen infodemik WHO yang aktif melacak informasi yang salah mengenai virus Corona untuk mengatasi rumor, hoax, informasi palsu dan mempromosikan informasi akurat kepada publik global. 

Belain menyerukan juga kepada semua generasi muda milenial, organisasi kepemudaan dan media untuk terus mewaspadai dampak kampanye propaganda pemerintah RRC soal isu wabah Corona dan aksi provokasi militer RRC di perairan kepulauan Natuna Utara. Demikian disampaikan Direktur Belain, Abdussalam Hehanussa dalam rilisnya yang juga dikirim ke redaksi Saburomedia.com Selasa (11/02/2020). (SM-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *