SABUROmedia, Ambon — Jemaat GPM Amahusu bersama Tim Cegah Satgaswil dan FKUB/MUI Provinsi Maluku menggelar Sosialisasi dengan materi “Mencegah Radikalisasi dan Kekerasan Anak ” yang melibatkan Angkatan Muda Cabang Elim I, Remaja dan Pengasuh SMTPI Jenjang Remaja pada Hari Kamis, (11/06/2026) yang bertempat di Gedung Gereja Imanuel.
Kegiatan Sosialisasi ini di hadiri oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Amahusu Pdt. Nn. Linda Sahetapy, Pendeta Jemaat Pdt. Ny. Yanni Soplanit, Ketua FKUB/ MUI Provinsi Maluku Prof. Dr. Hi. Abdullah Latuapo., M.Ag dan Personil SGW Maluku, AKP Irawan Rumasoreng, Brigpol Zaldy Yunus Hayoto, Briptu Boby Calvin Alyona.
Dalam Sambutannya Pdt. Ny. Yanni Soplanit Menyampaikan apresiasi kepada Tim Densus 88 AT Polri dan Ketua FKUB/MUI Provinsi Maluku atas pelaksanaan edukasi mengenai bahaya paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) kepada Angkatan Muda dan Remaja Jemaat GPM Amahusu di Gereja Imanuel Negeri Amahusu sebagai upaya penguatan wawasan kebangsaan dan ketahanan generasi muda.Materi yang disampaikan diharapkan menjadi penguatan dan benteng bagi generasi muda dalam mencegah masuknya paham IRET, serta dapat diteruskan dan disebarluaskan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

AKP Irawan Rumasoreng (Katim Cegah SGW Maluku) dalam materinya menjelaskan bahwa Densus 88 AT Polri tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum (hard approach), tetapi juga aktif melaksanakan program pencegahan dan deradikalisasi melalui pendekatan lunak (soft approach). Bahwa ancaman radikalisme dan ekstremisme terus berkembang dengan berbagai modus baru yang menyasar anak-anak dan remaja.
Sebagai contoh, pada tahun lalu Densus 88 AT menangani seorang pelajar SMP di Kota Ambon yang terpapar paham IRET melalui platform digital dan selanjutnya dilakukan pembinaan bersama para pemangku kepentingan terkait.
Pencegahan radikalisasi dan kekerasan terhadap anak, meliputi tindak pidana terorisme di Indonesia, pengertian IRET, klaster ekstremisme berbasis kekerasan, proses radikalisasi, tren modus baru terorisme, serta faktor yang menyebabkan anak menjadi kelompok rentan dan sasaran utama.
Dalam materinya juga menjelaskan konsep segitiga ekosistem perlindungan anak, studi kasus IRET dan True Crime Community (TCC), analisis kasus pelaku bom di SMAN 72 Jakarta Utara, pentingnya pencegahan perundungan (bullying), serta pemanfaatan media sosial secara sehat dan bijak.
Beliau juga ikut menghimbau seluruh peserta untuk menjauhi paham IRET serta mendorong Majelis Jemaat GPM Amahusu agar berperan aktif dalam upaya pencegahan dan deteksi dini penyebaran paham tersebut di lingkungan jemaat.
Ketua FKUB Provinsi Maluku, Prof. Dr. Hi. Abdullah Latuapo., M.Ag. dalam penyampaian materinya, menjelaskan sinergi yang telah terjalin antara FKUB Provinsi Maluku dan Densus 88 AT Polri dalam melaksanakan berbagai program pencegahan IRET di lingkungan masyarakat, sekolah, Perguruan Tinggi, instansi pemerintah, rumah ibadah, BUMN, maupun sektor swasta, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal melalui media digital yang menyasar anak-anak dan remaja, jelasnya.
Beliau juga menegaskan bahwa seluruh agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan, toleransi, dan kedamaian, sehingga perbedaan agama, suku, ras, maupun budaya harus dipandang sebagai kekayaan keberagaman yang memperkuat persatuan, bukan menjadi sumber perpecahan, sambungnya.
” Bahwa setiap agama hadir dengan misi perdamaian dan kemanusiaan, sehingga nilai-nilai kemanusiaan perlu dikedepankan dalam kehidupan bermasyarakat dan interaksi sosial sehari-hari, ” Lanjutnya.

Beliau juga mengimbau peserta agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi hoaks maupun provokasi yang beredar di media, khususnya yang berpotensi merusak kerukunan antar umat beragama dan stabilitas kehidupan masyarakat di Maluku.
Menutup Sosialisasi yang disampaikan, beliau mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam menjaga diri, keluarga, dan lingkungan sekitar dari pengaruh paham IRET, serta turut memberikan edukasi maupun penguatan nilai-nilai toleransi, kebangsaan, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari, tutup Ustadz Latuapo, yang juga Ketua MUI Maluku ini (SM)