Oleh :
Fais Yahya Marasabessy., S.IP
SABUROmedia — Sejak di deklarasikan pada tanggal 17 April 1960 di sekolah mualimat NU Wonokromo Surabaya berkat desakan dari beberapa mahasiswa NU untuk membentuk sayap organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang kaderisasi, menjunjung tinggi intelektualitas & kualitas kepemimpinan kaum muda.
PMII lahir dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU sebagai kelanjutan kaderisasi di tingkat mahasiswa.
Lahirnya PMII memiliki hierarki history yang cukup panjang, berawal dari kegelisahan kader NU di tingkat mahasiswa sampai pada berdirinya departemen perguruan tinggi IPNU yang kemudian mengadakan forum untuk menindaklanjuti usulan pembentukan organisasi baru di tingkat mahasiswa.
Forum tersebut berlangsung pada tgl 17 April 1960 bertepatan dengan 21 Syawal 1379 H yang kemudian menghasilkan beberapa rekomendasi diantaranya menyepakati berdirinya organisasi mahasiswa NU dengan nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang di singkat PMII, susunan peraturan dasar organisasi dalam mukaddimahnya jelas di nyatakan bahwa PMII merupakan kelanjutan dari departemen perguruan tinggi IPNU, menetapkan 17 april sebagai hari lahir PMII.
Pada hari itu juga peraturan dasar PMII resmi di berlakukan, selanjutnya memutuskan pembentukan tiga formatur, mahbub djunaidi sebagai ketua umum, abdul chalil mawardi sebagai ketua satu & muhammad said budairi sebagai sekretaris umum PP PMII periode pertama.
Sejauh eksistensinya, PMII telah melewati tiga fase besar yang hal itu berpengaruh pada konstruksi cara berfikir.
Pertama, antara tahun 1960 – 1970 saat PMII mulai di dirikan dan harus menjawab tantangan zaman. sebagai organisasi kader ketika itu PMII di tuntut untuk mendukung penuh visi dan misi perjuangan partai NU.
Kedua, periode pencarian identitas organisasi antara tahun 1972 – 1990 setelah PMII menyatakan sikap independen dari NU.
Ketiga, periode memantapkan identitas politik, antara tahun 1991 – 2000 yakni pengembangan wacana kritis dengan lebih banyak menghidupkan kelompok diskusi, civil educations dan di barengi aksi di jalanan.
Di tengah dinamika sejarah dan pasang surut organisasi sejak di dirikan hingga kini, PMII tetap setia sebagai organisasi mahasiswa pelestari dan pelanjut ajaran ahlu sunnah wal jamaah, ajaran islam yang senantiasa melestarikan tradisi warisan para ulama, menghargai pluralitas sebagai sebuah kodrat kehidupan, menghormati nilai – nilai budaya dan tradisi lokal yang luhur dan memperjuangkan sebuah tatanan sosial, ekonomi, politik yang berkeadilan.
Setelah 66 tahun mengalami pergulatan, proses kaderisasi yang merupakan urat nadi organisasi tak boleh mengenal kata cuti.
penghayatan terhadap zikir, fikir dan amal saleh yang menjadi tri motto PMII harus senantiasa di galakkan, mengingat seringkali roda organisasi dan agenda perjuangan gerakan mengalami distorsi, stagnasi bahkan disorientasi karena ketidakfahaman terhadap landasan ideologis, filosofis historis dan semakin jauhnya agenda perjuangan dari nilai dasar yang menjadi flatform organisasi.
Melakukan reformulasi paradigma gerakan adalah sebuah kefardhuan, paradigma berbasis kajian multidisipliner dengan mempertimbangkan kenyataan kekinian mengingat khazanah keilmuaan yang menjadi wahana pengkajian di PMII sangatlah holistic serta universal, beragam dari ilmu keislaman berbasis tradisi pesantren, ide – ide dari aliran modernisme hingga postmodernisme gagasan – gagasan kritis progresif serta karya pemikiran sejumlah pemikir, intelektual, cendikiawan dari berbagai mazhab sejak era thales hingga gus dur.
Hal ini di harapkan dapat terkonsolidasi di semua level struktur dan segenap gerakan kultur agar paradigma sebagai alas pijak membaca zaman dapat bertransformasi menjadi praksis gerakan yang konstruktif di tengah berbagai problematika multidimensi yang sedang terjadi.
Oleh karena itu orientasi kaderisasi PMII kedepan harus fokus di arahkan pada pembentukan insan yang memiliki spritualitas yang kuat, kapasitas intelektual yang mumpuni dan profesionalitas.
Semua idealitas di maksud akan terwujud jika PMII konsisten menjadi organisasi kader yang giat melakukan kaderisasi dan bukan menjadi organisasi mahasiswa yang sibuk merekrut anggota untuk interest politik semata.
sekiranya itulah yang menjadi ikhtiar melawan fenomena senjakala gerakan mahasiswa, karena PMII adalah wadah konservatorium eksponen gerakan kaum muda menuju capaian insan ulul albab sesuai cita berdirinya PMII.
Sejak indonesia resmi menjadi negara pada tahun 1945, PMII menjadi salah satu bagian yang paling menentukan dalam membaca dinamika kebangsaan, PMII turut merumuskan konsepsi demokrasi, melakukan kritik intelektual dan menggerakan aksi massa untuk menggugat rezim yang tidak lagi berpihak kepada interest public.
Bagi PMII perjuangan hari ini secara strategis metologis tak harus sama dengan perjuangan di masa lalu, tetapi spirit dan nilai serta tujuan yang di adopsi harus tetap sama demi kemaslahatan umat ( al maslahatul ummah ).
Menjadi bagian dari PMII adalah menjadi generasi pemegang mandat perjuangan ajaran islam ASWAJA dan cita – cita perjuangan kemerdekaan indonesia, bagi PMII cinta terhadap agama harus senantiasa setali dengan cinta terhadap tanah air dan bangsa, perjuangan PMII adalah perjuangan untuk agama, bangsa serta kemanusiaan universal sebagai manifestasi dari ajaran islam rahmatan lil alamin.
Dengan persebaran cabang yang hampir merata di seluruh wilayah indonesia, PMII telah banyak berkontribusi aktif dalam berbagai agenda gerakan di berbagai lini bahkan telah banyak merasakan asam manis perjuangan dari era orla, orba hingga era reformasi.
sejak reformasi di gulirkan PMII seperti kehilangan orientasi gerakan, hal ini terjadi di hampir semua organisasi cipayung, gerakan mahasiswa seakan tidak lagi memiliki taji dan sikap yang jelas bahkan tidak sedikit mengalami disorientasi serta degradasi ide dan gagasan.
Lalu bagaimana dengan eksistensi PMII di maluku terlebih khusus di kota ambon? pertanyaan ini memang terkesan ” NGERI – NGERI SEDAP ” untuk di jawab, sejak di deklarasikan di ambon awal dekade 70 an PMII menjadi glue system bagi semua segmen mahasiswa apalagi maluku yang memiliki tradisi islam ahlusunnah wal jamaah seakan menjadi ikonik tumbuh kembangnya PMII dengan subur, Unpatti, Unidar, IAIN, STIA Alazka, STIKES Pasapua, STIKES Maluku Husada adalah lahan garapan bagi rekrutan kader potensial.
Pasca konflik sosial PMII adalah primadona bagi mahasiswa baru untuk menumbuhkan nalar kritis transformatifnya, sayangnya nalar seperti ini harus di barengi dengan medium kaderisasi yang strong, konsolidasi yang paten, tertib administrasi serta jualan ide dan gagasan ke ruang publik adalah sekelumit problem clasic yang harus di benahi di tambah lagi budaya primordial yang masih mendarah daging dalam setiap momentum gerakan keorganisasian PMII.
Semoga HARLAH PMII yang ke 66 tahun menjadi kilas balik arah kebangkitan PMII
*** Penulis adalah Ketua Majelis Pembina Cabang PMII Kota Ambon