Oleh :
Hasbollah Toisuta

SABUROmedia — Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk-Ku agar dengan makhluk-Ku Aku dikenal”.

Dalam kajian filsafat agama, pencarian terhadap yang “Ada” (Allah) di balik realitas semesta ini merupakan suatu pencarian sepanjang sejarah kemanusiaan. Naluri ber-Tuhan pada manusia memaksa manusia untuk mencari, merenung dan menyadari kehadiran akan “Dia” yang menjadi sumber penciptaan semesta.

Pencarian terhadap “Dia” melahirkan berbagai macam sistem kepercayaan, mulai dari kepercayaan purba seperti animisme dan dinamisme dengan aneka ragam ritual dan persembahan hingga kemudian datangnya agama-agama formal seperti yang kita kenal saat ini.

Yuval Noah Harari, dalam karya terkenalnya “Sapiens” (2017), menjelaskan bahwa agama-agama formal (baca: Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Sinto), baru hadir di dunia pada sekitar 3000 tahun yang lalu (1 abad SM), sementara umur Homo Sapiens (manusia) telah mencapai 300.000+ tahun.

Artinya, manusia dengan agama-agama formalnya hanya mengambil waktu 1 % dari sepanjang 300.000 tahun keberadaan manusia. Dengan begitu, sekitar 297.000 tahun, manusia hidup dengan agama purba, dari Animisme ke dinamisme terus ke politeisme dan mendapat bentuk finalnya dengan monoteisme (agama-agama formal). Di setiap peradaban besar dunia tidak terlepas dari peran agama dan spritualitas.

Kita mengenal jejak agama pada peradaban Mesir kuno dengan kepercayaan terhadap dewa Ra, Osiris dan Isis. Peradaban Sumeria, di wilayah Mesopotamia dengan kuil besar tempat sesembahan yang disebut Ziggirat. Peradaban Yunani kuno dengan ajaran dewa-dewi seperti Zeus, Athena, dan Apollo. Juga peradaban Romawi yang menganut kepercayaan politeistik sebelum mengadopsi Kristen menjadi agama resmi kerajaan pada abad ke 4 Masehi. Selanjutnya Peradaban Islam di semenanjung Arabia abad ke-7 Masehi yang mendasari kepercayaan kepada keesaan Tuhan (tauhid/monoteisme)(Budhi dan Gaus, 2025).

Gambaran tersebut di atas menjelaskan, manusia memiliki naluri untuk mencari Tuhan sebagai yang “Ada” walaupun ekspresi lahiriahnya berbeda sepanjang sejarah. Al-Gazali menggambarkan kecenderungan untuk mencari yang “Ada” ini adalah sebagai akibat dari perjanjian primordial antara Tuhan dengan manusia (Q.S. 7: 172) “alastu birabbikum, qaalu bala syahidna”.

Karena itu betapapun ateisme dikampanyekan segila apapun tidak akan pernah membunuh agama atau meredupkan cahaya ketuhanan. Pun demikian watak sekularisme sains seganas apapun tidak bisa memalingkan manusia dari semangatnya mencari dan mendekati Tuhan, Allah.

Kembali kepada hadis qudsi di atas, bahwa Allah menegaskan diri-Nya sebagai perbendaharaan yang tersembunyi (kanzun makhfieyun), yang menciptakan makhluk-Nya agar Dia didekati dan dikenal. Maka naluri untuk mengenal-Nya pada hakikatnya merupakan fithrah ilahiyah yang ada pada setiap manusia.

Allah adalah Dia yang Maha Misteri, di dalam kemisterian-Nya, Di maha senyap tak berjejak, tak teridentifikasi, tak terumuskan dengan logika matematik, tak terbatasi dalam dimensi ruang dan waktu. Dia yang Awal Dia pula yang Akhir, Dia yang Zhahir Dia pula yang Batin (Q.S. 57:3). Dia yang tidak dapat disetarakan dengan apapun. Al-Quran menunjuk-Nya dengan walam yakun lahu kufuwan ahad (Q.S. 112: 4) atau laisa kamitslihi syai’un (Q.S. 42: 11).

Kristiani, mengandaikan-Nya: Deus Absconditus (“Yang Maha Terselubung”). Dialah perbendaharaan yang tersembunyi itu – kanzun makfieyun

Kendati demikian, Dia adalah Maha Cinta: Dia melimpah-ruahkan manifestasi-Nya di seantero tata jagad dan di setiap diri manusia. Sanuriihim ayaatina fil aafaaq wa fie anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu al-haq (Q.S. 41: 53).

Pada konteks inilah, jalan menuju kapada-Nya, membentang luas sebanyak nafas-nafas para perindu dan pencinta-Nya, terlepas dari aneka syari’ah dan manhaj (keberagaman agama). Tergantung kesungguhan perindu-Nya. Wallazina jaahadu fi na lanahdiyannahum subulana (mareka yang bersungguh-sungguh menuju Kami akan Kami hamparkan kepada mereka jalan-jalan menuju Kami [Q.S. 29: 69]).

Puasa Ramadhan sungguh merupakan sebuah riyadhah akan inkhtiar manusia menuju dan mendekati Dia yang Maha Hadir (omnipresense). Hanya karena kesibukan duniawi, kita kerap menjauh dan signal kita tidak dapat terkoneksi dengan-Nya.

*** Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Masjid Raya Alfatah Ambon, Ketua Yayasan Sombar Negeri Maluku dan juga Penerima Riyanto Award 2025 PP GP Ansor.