Oleh:
Drs. Muz Latuconsina MF.

SABUROmedia — Pada Ambon, 30 Juli 2025 — Malam itu, di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku, suasana terasa hening namun penuh makna. Wakil Gubernur Maluku, Dr. Abdullah Vanath, duduk tenang di hadapan para ulama dan tokoh agama. Tak ada kemarahan, tak ada pembelaan berlebihan. Yang hadir malam itu adalah seorang pemimpin yang menunjukkan kebesaran jiwa—dengan rendah hati meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan oleh pernyataannya beberapa waktu lalu di Maluku Barat Daya (MBD).

Bukan karena ia merasa bersalah menistakan agama. Tidak. Ia hadir bukan untuk membela diri, melainkan untuk menjernihkan kesalahpahaman. Di tengah riuh sorotan publik dan laporan ke aparat hukum, Vanath memilih jalan sepi: menghadapi semuanya dengan kepala tegak dan hati yang lapang.

“ Jika ada yang merasa tersakiti atau keliru menafsirkan maksud saya, maka saya mohon maaf. Tapi saya pastikan, niat saya tidak pernah menista agama,” ujar Vanath dengan suara tenang, namun menggugah hati.

Pernyataan Vanath di MBD yang menyentuh wacana legalisasi sopi dalam bingkai adat, sosial, dan ekonomi, telah digiring oleh sebagian pihak ke ranah yang lebih sensitif: penistaan agama.

Abdullah Vanath dituding menistakan agama atas beberapa ucapannya. Padahal, substansi ucapannya jauh dari niat untuk mencederai ajaran suci. Ini bukan semata soal legalisasi sopi, tapi bagaimana wacana itu ditarik secara politis dan emosional ke arah tuduhan berat yang bisa mengoyak tenun kebersamaan.

Lebih dari itu, kebesaran jiwa Vanath ditunjukkan saat ia menyatakan kesiapan proaktif memenuhi panggilan dari Polda Maluku, terkait laporan-laporan yang dialamatkan kepadanya.

“ Saya tunduk pada hukum, dan saya siap memberikan klarifikasi di Polda, ” katanya di hadapan MUI.

Dalam dunia politik yang sering kali dipenuhi kegaduhan dan pelarian tanggung jawab, langkah Abdullah Vanath adalah oase keteladanan. Ia tidak memilih diam. Ia tidak bersembunyi di balik jabatan. Ia datang, duduk bersama para ulama.

Inilah pemimpin yang tidak terjebak dalam ego, yang tidak membalas serangan dengan amarah, tapi dengan penjelasan yang jernih dan kerendahan hati. Kebesaran jiwa seperti ini adalah cermin dari kedewasaan berpolitik dan kedalaman spiritual.

Abdullah Vanath telah menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal mengambil keputusan, tapi juga bersedia memikul resiko dari keputusan itu—meski harus menghadapi badai, bahkan penghakiman yang belum tentu adil.

Dan malam itu, di kantor MUI Maluku, sejarah mencatat: seorang wakil gubernur tidak hanya datang sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia beriman.

*** Penulis adalah Jurnalis Maluku