SABUROmedia, Ambon – Didasari provokasi ganda ASG-ISIS yang terus berulang, Menlu RI, Malaysia dan Philipina, terus berupaya meningkatkan mutu TMP (Trilateral Mari time Patrol) dan Trilateral Air Patrol (TAP) melibatkan Angkatan Tentara Malaysia, ESSCOM (Eastern Sabah Security Command), PGM-PDARIM (Pasukan Gerakan Marin Polisi Diraja Malaysia), dan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM).

Kesepakatan TCA Indomalphi (Trilat eral Cooperation Agreement) akan mendirikan MCC (Maritime Command Center) di Tarakan (Indonesia), Tawau (Malaysia) dan Bongao (Philipina) untuk memperkuat keamanan kawasan maritim di Laut Sulu (Philipina) dan Pantai Timur Sabah (Malaysia).

Kelompok Darul Islam Malaysia (DIM), pimpinan Abu Kaminer Paliyak dan Remy Group telah dilatih oleh militan ISIS, mantan milisi Ansar Al Din, Murabitoon AQIM, asal Maroko dan Saudi sejak 2013-2016. Pelatihan dilakukan di Pulau Kantong Kalungan, Kunak, Tanjung Labian, Kuala Meruap, Tambisan, Lahad Datu, Mabul, Tawau, Kinabalu dan Sandakan.                                           

Menghadapi kondisi ini, Kemendagri Malaysia telah merekrut 500 anggota korp relawan rakyat (RELA) dari rencana total 6.148 personil. Tim RELA akan terjun aktif memonitoring 10 distrik rawan penculikan ASG-ISIS di ESS Zone. Sebelumnya pasukan elit angkatan laut Malaysia (PASCAL), juga melakukan latihan gabungan Operation Tiger Strike 2017 dengan pasukan elit Amerika Serikat, USM Green Barets, US Marine Corp (USMC) di Sabah untuk memerangi aksi terorisme maritim.

Kenyataan ini diungkapkan oleh Menhan Malaysia, Mohamad Sabu dalam kunjungan kerja kepada Menhan RI Prabowo Subianto. Malaysia akui masih mengalami kesulitan mengamankan perairan yang rawan pembajakan dan memerlukan kapal dan peralatan le bih canggih untuk mendeteksi kapal-kapal cepat milik ASG-ISIS.

Masalah yang sama juga dihadapi oleh Menhan Amerika, yang sejak tahun 2002- 2018, telah menugaskan unit-unit militer gabugan Special Operation Group (SOG) dari divisi terbaik SAC (Special Activities Center) milik Badan Intelijen CIA, dalam program gabungan kelompok bantuan militer AS-Philipina (JUSMAG-P). Walaupun unit2 khusus perang psikologi (CAPOC-PSYOP) dan perang politik PAG (Political Action Group), telah melakukan operasi psikologi dan pengacauan ekonomi di daerah-daerah basis ASG-ISIS yang dilatih oleh militan ISIS asal Maroko dan Saudi, aksi penculikan WNI terus terjadi.

Mengamati metode ASG-ISIS yang menggunakan jaringan afiliasi, taktik canggih untuk mendapatkan keuntungan finansial, propaganda, dan rekrutmen dari operasi penyanderaan WNI, direktur Bela Indonesia Gerakan Pilar Bangsa (Belain), Abdussalam Hehanussa mengusulkan kepada Presiden Jokowi untuk mengeluarkan arahan respon yang memungkinkan implementasi konsisten untuk mema stikan semua cara yang tepat dalam memajukan kepentingan keamanan nasional, kebijakan luar negeri yang memperkuat perlindungan WNI di luar negeri.                          

Presiden Jokowi harus melawan dan mengurangi ancaman global penyaderaan dengan mengambil langkah-langkah mendukung keterlibatan entitas swasta untuk meningkatkan kesadaran resiko penyanderaan. Termasuk praktek terbaik dalam mencegah penyanderaan, menghindari penangkapan WNI diluar negeri, dengan menawarkan pelatihan khusus dalam manajemen respon.

Mengusulkan kepada Presiden Jokowi untuk membuat program penjangkauan diplomatik, pengembangan opsi strategis untuk mengamankan pelepasan sandera WNI secara aman. Dan bertindak secara cepat dalam mengembangkan strategi klandestin, militer, polisi dan keterlibatan aktor eksternal yang tepat untuk menghalangi penyanderaan WNI di masa depan. 

Demikian usulan yang disampaikan direktur Belain lewat rilisnya yang juga diterima redaksi Saburomedia.com Minggu (02/02/2020). (SM-1)