SABUROmedia, SBB — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Maluku menggelar program pemberdayaan ekonomi jemaat di Desa Waisarisa, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, pada Sabtu (12/09/2026).
Kegiatan ini mengusung tema : “ Aktualisasi Teologi Altar di Pasar pada Kelompok Usaha Masyarakat Imanuel melalui Pendampingan Teologi Kewirausahaan dan Rencana Strategi Appreciative Inquiry di Desa Waisarisa ”.
Melalui rilis medianya, Program pengabdian yang didanai penuh melalui skema hibah PkM Pemberdayaan Masyarakat UKIM Tahun Anggaran 2026 ini dipimpin oleh Dr. Yohanes Parihala., M.Th., MA., yang beranggotakan Prof. A. M. L. Batlajery., Ph.D., serta melibatkan dua mahasiswa pascasarjana, Landa I. M. W. Samangun dan Wilson Kosaplawan.
Sebanyak 10 anggota Kelompok Usaha Masyarakat Imanuel hadir dan berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian pendampingan.
Ketua Tim PkM, Dr. Yohanes Parihala, memaparkan materi bertajuk “Ada Mimbar di Pasar” untuk membongkar sekat dikotomi antara iman dan kerja ekonomi sehari-hari.
Berakar pada teologi reformasi yang memandang dunia sebagai theatrum gloria Dei atau panggung pemuliaan Allah, Parihala menegaskan bahwa kewirausahaan bukan sekadar urusan materi, melainkan bentuk panggilan pelayanan yang nyata. Menurutnya, keuntungan yang diraih secara etis untuk menopang keluarga, memberdayakan sesama, dan memelihara lingkungan merupakan bagian integral dari altar pemberitaan iman.
Sosialisasi ini memicu diskusi kritis dan reflektif dari para peserta seputar pandangan teologis tradisional yang kerap mempertentangkan hal rohani dengan jasmani, atau ibadah dengan bisnis, keselamatan atau dosa.
Salah seorang anggota kelompok usaha, Ibu Nina Selano, mengaku mendapatkan perspektif baru yang memperkuat tekadnya untuk berkerja.
“ Selama ini, kita bekerja, kalau su lonceng Ibadah, pekerjaan belum selesai, katong su musti lari pulang pergi ibadah, karna katong takut dosa tapi juga orang pung pertanyaan, managapa seng pi ibadah? “, ceritanya.
Salah satu rekan kerjanya, Ibu Nel Walunaman, menuturkan, bahwa ketika Ibu Nina bertanya soal seperti itu, saya selalu bilang kita sudah punya banyak tabungan di surga, karena sudah melayani Tuhan sejak dalam kandungan, sekarang kita harus selesaikan pekerjaan ini, kalau masih ada waktu kita beribadah, kalau tidak, yah kita harus istirahat, karena kerja ini yang memberikan sedikit penghasilan bagi keluarga juga adalah ibadah kita, jelasnya
Di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit ini, kegiatan berwirausaha perlu digalang untuk memberikan dampak ekonomi bagi anggota masyarakat. Bagi warga jemaat, prinsip penatalayanan (stewardship) menekankan pentingnya pemberdayaan umat untuk meningkatkan kesejahteraan jemaat. Jika jemaat sejahtera, maka sudah pasti pelayan dan pelayanan gereja akan ditopang oleh umat.
Di penghujung sesi ini, seorang anggota kelompok usaha Imanuel menyatakan bahwa : ” materi ini sangat mencerahkan bagi kami. Sekarang kami tidak ragu-ragu lagi dalam bekerja dan berusaha, karena kami menyadari bahwa kerja nyata kami ini juga adalah bagian dari ibadah,” ujar Ibu Nona Sangili.
Selain penguatan paradigma dan kapasitas teologi kewirausahaan, Tim PkM UKIM juga menyalurkan bantuan investasi modal usaha riil kepada Kelompok Usaha Masyarakat Imanuel. Bantuan yang diserahkan mencakup bahan baku pembuatan batako, drum minyak operasional untuk unit pom bensin mini, hingga stok pasokan sembako untuk pengembangan unit kios kelontong warga.
Ketua Kelompok Usaha Masyarakat Imanuel, Anita Tuarissa, mengapresiasi kehadiran dan kontribusi nyata dari tim akademisi UKIM. Bantuan fasilitas usaha dan pendampingan yang diberikan menjadi suntikan semangat baru untuk mendorong produktivitas dan kemandirian ekonomi kelompok usaha di Desa Waisarisa ke depan. (SM)