YTH Gubernur Maluku Utara
Ibu Sherly Tjoanda Laos
SABUROmedia — Saya apresiasi kepeloporan Anda memimpin Pemerintahan di Maluku Utara dengan segala terobosan, keunggulan dan tentu kekurangannya.
Surat terbuka ini saya tuliskan dengan penuh harapan agar anda membacanya dengan baik.
Konflik sosial dimasyarakat kadang terjadi oleh pemicu-pemicu yang tidak masuk akal, hal-hal sepela seringkali jadi penyebab pertikaian antar warga. Tawuran antar kampung, dan sebagainya, Tetapi konflik sosial dibanyak tempat dan pengalaman banyak yang bersumber dari isu dan provokasi, agitasi dan propaganda sara, etnik, dan lain – lain, karena isu isu itu relatif lebih mudah picu emosi warga dan berbuah konflik.
Sehingga tidaklah tepat bila pertanyaan tentang siapa yang salah dan siapa yang memulai mengemuka dari ucapan anda dihadapan warga yang berkonflik.
Ada hal yang maha penting yang patut kita jaga, yaitu tercapai kesepakatan berdamai, pelukan mesra antara mereka yang berkonflik DENGAN AIRMATA penyesalan sudah meruntuhkan sekat sekteisme dan kecurigaan antar sesama, kalimat-kalimat yang anda lontarkan itu ibu Gubernur tentang siapa yang memulai dan siapa yang salah, bagi mereka itu bukan lagi bagian penting dari konflik yang mereka tuntut.
Damai telah membalut kesedihan mereka dan menyurut kemarahan mereka menjadi pelukan kasih sayang yang itu adalah warisan leluhur mereka. Sebab pertanyaan tentang siapa yang salah dan siapa yang memulai yang anda lontarkan itu hanya akan menggores indahnya perdamaian itu.
Ibu Gubernur harus banyak belajar tentang sejarah berhalmahera, sebagai orang yang lahir dibesarkan dibumi halmahera dan Maluku Utara, Saya sangat memahami betapa saling hormat sesama warga walau beda agama, beda suku, etnik.
Ikatan persaudaraan bagi mereka yang asli domisili di Halmahera itu erat hanya dengan teriakan olou, dan dijawab dengan teriakan balasan olou ditengah hutan, menjadi penanda bahwa mereka bersaudara, maka ketika ada nyawa yang hilang dengan cara tidak wajar tentu menggores luka, entah siapa pelakunya yang bersembunyi dan tidak bertanggungjawab, itu yang harus diungkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku, bukan menyela dan bertanya secara langsung dengan melontarkan pertanyaan yang membuat mereka kikuk menjawabnya.
Ibu Gubernur Yth. Pertanyaan tentang siapa yang memulai dan siapa yang lihat, siapa yang salah tidak tepat diekstrasikan diruang umum apalagi media sosial, karena akan menyinggung pihak tertentu dan bisa membuat ketenangan
Berubah seketika menjadi kecemasan. Catatan penting saya atas hal yang harus ibu Gubernur kerjakan adalah memberi rasa kenyamanan pada dua pihak, mengkompensasi keluarga korban sewajarnya pada dua pihak, membangun kembali pemukiman atau rumah ibadah yang rusak akibat luapan konflik itu.
Saya yakin ibu Gubernur tentu lebih memahami itu. Maka baiknya adalah ibu Gubernur tidak menciptakan diskursus baru tentang motif dan siapa pelaku, siapa salah siapa benar, sebab itu bisa jadi alasan orang menebak nebak motif dibalik pertanyaan anda itu, sebab siapa pelaku, motif adalah menjadi tugas anda dan penegak hukum menyelesaikan.
Mari kita sama – sama mengikat erat persaudaraan kita sesama warga Halmahera dan Malut, kita punya tradisi dan budaya yang hanya kita sendiri yang pahami, karena itu tidak ada alasan kita berkonflik.
Atas dasar apapun, maka tidak tepat sekali lagi ibu Gubernur melontarkan pertanyaan pertanyaan kritis di ruang terbuka apalagi dihadapan warga yang bertikai dan baru saja menjalani suasana rekonsiliasi damai dengan penuh haru dan suka cita.
Mari torang sama – sama jaga kedamaian
Konflik apapun tidak membawa keuntungan bagi siapapun.
Jauhi dan hindari itu.
Salam hormat buat Ibu Gubernur.