Oleh :
Fidya Faraid Sabban
SABUROmedia — Hari Perempuan Internasional 2026 mengusung tema “Rights. Justice. Action. For All Women and Girls”—sebuah seruan global yang mengingatkan kita bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral untuk memastikan bahwa setiap perempuan dan anak perempuan memiliki hak, keadilan, serta kesempatan nyata untuk bertindak dan menentukan masa depannya.
Momentum ini selalu menghadirkan dua perasaan yang berjalan beriringan dalam diri saya: harapan dan kegelisahan.
Harapan muncul karena kita melihat semakin banyak perempuan yang tampil sebagai pemimpin, profesional, akademisi, aktivis, dan penggerak perubahan. Perempuan hari ini memiliki ruang yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun di balik kemajuan itu, saya juga merasakan kegelisahan yang cukup mendalam—terutama ketika melihat kondisi mental generasi anak-anak perempuan saat ini.
Kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Dunia berkembang dengan sangat cepat. Globalisasi, digitalisasi, dan perkembangan teknologi menciptakan ruang baru yang penuh peluang, tetapi juga menghadirkan tekanan yang tidak kecil. Anak-anak perempuan tumbuh dalam lingkungan yang sering kali menuntut mereka menjadi “sempurna”: pintar, sukses, cantik, aktif, dan selalu terlihat bahagia.
Media sosial memperkuat tekanan tersebut. Standar kehidupan sering kali dibentuk oleh gambar dan narasi yang tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak anak perempuan akhirnya terjebak dalam budaya perbandingan yang melelahkan—membandingkan penampilan, prestasi, bahkan kehidupan pribadi mereka dengan orang lain.
Akibatnya, tidak sedikit yang tumbuh dengan rasa tidak percaya diri, kecemasan berlebihan, bahkan kerentanan mental yang semakin meningkat.
Di sinilah kegelisahan saya sebagai seorang yang berkecimpung di bidang perempuan muncul. Apakah kita benar-benar telah mempersiapkan generasi perempuan untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks ini?
Tantangan global hari ini menuntut lebih dari sekadar pendidikan formal. Generasi perempuan masa depan harus memiliki ketahanan mental, kemampuan berpikir kritis, keberanian mengambil keputusan, serta daya adaptasi yang kuat terhadap perubahan. Mereka harus mampu berdiri tegak dalam kompetisi global tanpa kehilangan jati diri dan nilai kemanusiaannya.
Tema Hari Perempuan Internasional tahun ini menegaskan tiga kata penting: Rights, Justice, dan Action.
Pertama, Rights—hak. Anak-anak perempuan harus tumbuh dalam lingkungan yang menjamin hak mereka untuk belajar, berkembang, dan bermimpi tanpa batasan yang diskriminatif.
Kedua, Justice—keadilan. Kita perlu memastikan bahwa mereka tidak hanya mendapatkan kesempatan yang sama, tetapi juga perlindungan dari berbagai bentuk ketidakadilan, kekerasan, dan tekanan sosial yang dapat merusak masa depan mereka.
Ketiga, Action—aksi. Inilah bagian yang paling penting. Kita tidak boleh berhenti pada diskusi atau peringatan simbolik semata. Harus ada langkah nyata untuk memperkuat pendidikan karakter, kesehatan mental, kepemimpinan perempuan muda, serta ruang-ruang aman bagi anak perempuan untuk berkembang.
Peran keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi perempuan, hingga negara menjadi sangat penting dalam proses ini. Kita harus bersama-sama membangun ekosistem yang mendukung perempuan muda agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental dan emosional.
Saya percaya bahwa masa depan bangsa tidak dapat dipisahkan dari kualitas generasi perempuannya. Perempuan yang kuat akan melahirkan keluarga yang kuat, masyarakat yang sehat, dan bangsa yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, kegelisahan yang saya rasakan bukanlah bentuk pesimisme, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak lebih serius dalam menyiapkan generasi perempuan masa depan.
Hari Perempuan Internasional 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi sekaligus komitmen. Bahwa kita tidak hanya merayakan pencapaian perempuan hari ini, tetapi juga memastikan bahwa setiap anak perempuan memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks di masa depan.
Sebab pada akhirnya, memperjuangkan perempuan bukan hanya tentang keadilan hari ini, tetapi juga tentang memastikan masa depan yang lebih kuat bagi generasi yang akan datang.
*** Penulis adalah Ketua Bidang Perempuan PP AMPG dan Depinas SOKSI dalam momentum Hari Perempuan Internasional 2026