Oleh :
Dr. M.J. Latuconsina., S.IP

SABUROmedia — Kali ini Fransisco Budi Hardiman, seorang penulis buku dengan tema-tema filsafat, hadir lagi dengan sebuah buku masih dengan tema yang sama, yang berjudul : “Humanisme dan Sesudahnya, Meninjau Ulang Gagasan Tentang Manusia.” Terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), pada Februari 2020 lalu. Secara global, seperti yang dipaparkan pada narasi singkat dalam cover belakang buku ini, yang hadir dengan pertanyaan : mengapa humanisme, suatu paham yang menitikberatkan pada manusia, kemampuan kodratinya, dan nilai-nilai kehidupan duniawi perlu dibicarakan kembali ? Sejak abad ke-14 gerakan humanis modern tumbuh memberikan penafsiran rasional yang mempersoalkan monopoli agama dan negara terhadap tafsir kebenaran.

Humanisme sekular memberi kita keyakinan bahwa kehidupan “dunia-atas-sana” tak lebih penting daripada kehidupan “dunia-bawah-sini”. Namun, humanisme tak luput dari kritik. Ketika humanisme menuntun pada suatu kemanusiaan tanpa Tuhan, yaitu keadaan ketika manusia bermain sebagai Tuhan, Hiroshima, Gulag, Killing Fields, Sebrenica, dan puluhan tempat pembunuhan massal lain pada abad ke-20 menjadi tak terhindarkan. Di negeri kita, tragedi kemanusiaan juga tak sepi. Lalu, apakah itu berarti humanisme sudah using ?

Ketika kini kebangkitan agama-agama sedang berlangsung mulus tak banyak hambatan dan nilai-nilai universal makin relatif, hikmat apakah yang masih dapat kita pelajari dari humanisme ? Bagaimanakah sosok dan peran humanisme dalam masyarakat yang menjadi majemuk juga karena agama-agama seperti masyarakat indonesia? Buku kecil ini mengurai dengan jernih pengertian humanisme, perkembangannya, dan berbagai kritik terhadap humanisme. Tidak berhenti di situ, penulis juga menawarkan tafsir baru atas paham tersebut, yang disebutnya sebagai “Humanisme Lentur”.
***
Terlepas dari itu, secara spesifik terdapat salah satu ulasan menarik dari konten buku ini yakni, “Kemanusiaan Tanpa Tuhan.” Pada preamble ulasan ini, ia mengatakan jika menilik apa yang berkembang di zaman Renaisans, kita bisa menyimpulkan, humanisme modern pada awalnya masih belum cukup berjarak dari Kekristenan Abad Pertengahan. Memusatkan diri pada kemampuan-kemampuan kodrati manusia, humanisme melihat agama sebagai penghalang. Apakah alasan-alasan rasional para pemikiranya ? Kontribusi manakah yang diberikan kepada peradaban oleh suatu humanisme yang tekah menghentikan keyakinan religius ?

Pertanyaan pertama membutuhkan jawaban yang cukup beragam mengenai alasan berbagai humanis ateistis. Jawaban atas pertanyaan kedua bukanlah suatu pembelaan terhadap ateisme, melainkan suatu upaya menemukan sisi-sisi kemanusiaan yang disumbangkan oleh ateisme untuk memahami manusia. Deskripsi pada ulasan ini menarik, tatkala kita sebagai khalayak pembaca dapat membacanya secara tuntas. Setelah lebih dulu kita membaca pada bahasan “Lahirnya Kemanusiaan”, lantas melompat pada ulasan tentang “Kemanusiaan Tanpa Manusia, “Matinya Manusia” dan “Membela Kembali Kemanusiaan”.

Buku karya pakar filsafat kelahiran Semarang, Jawa Tengah, yang pernah belajar filsafat di Munich Jerman guna meneliti Teori Diskursus, yang dirumuskan Habermas ini menarik untuk dibaca para khalayak yang ekspert pada filsafat, maupun bagi mereka yang gemar membaca filsafat. Sebab dengan membacanya secara komprehensif, para khalayak akan memahami tentang humanisme dalam perpektif ulasan Fransisco Budi Hardiman.

*** Penulis adalah Staf Dosen Fisipol Unpatti Ambon