SABUROmedia, Ambon – Festival Mamancang atau Silat tradisional menjadi tradisi bagi Negeri Wakasihu Maluku Tengah (Malteng) yang terus dilestarikan.

Mamancang merupakan kegiatan yang setiap tahun di lakukan di negeri Wakasihu, biasanya digelar pada satu Syawal atau sore hari di Hari Raya Idul Fitri, Kegiatan ini merupakan warisan Budaya leluhur yang telah dilakukan turun temurun di Negeri itu.

Panitia penyelenggara festival, Al Ikram Latuliu mengatakan Mamanca digelar dalam rangka memeriahkan 7 Syawal di Negeri Wakasihu sekaligus untuk membangkitkan semangat Generasi Muda dalam menjaga dan melestarikan Budaya Wakasihu.

” Tradisi Mamancang terus kita pelihara, agar tidak punah di Negri sendiri, maka Remaja Masjid Cakmarussalam melakukan kegiatan (Pencak Silat tradisional MamancangWakasihu) untuk menjaga Budaya yang sudah di wariskan kepada ana cucu,” ujarnya kepada Saburomedia.com, Sabtu (22/05/2021).

Hal yang sama juga disampaikan Sekretaris Panitia, Zulfirkam Tolakoly, ia menyebut kegiatan Mamancang ini merupakan kegiatan yang wajib di lakukan oleh anak muda di negeri, sebagai bentuk rasa peduli terhadap budaya negeri.

” Sebagai generasi muda kita harus menjadi agen perubahan di dalam negeri, kita boleh berada pada era modernisasi tapi jangan sampai kita lupa akan budaya negeri yang sudah dititipkan kepada kita, maka kita harus terus menjaga dan mengembangkan budaya negeri yang menjadi kebanggaan kita semua, ” ungkapnya.

Dirinya optimis dan berharap ada semangat dalam melestarikan budaya Mamancang atau pencak silat tradisional Wakasihu, sehingga kedepannya mamancang akan menjadi Ikon Budaya di Negeri Wakasihu.

Dalam kegiatan ini turut hadir ketua Ikatan Keluarga Besar Wakasihu Kota Ambon dan Ketua PSI Maluku Tengah.

Dalam kegiatan mamancang ini juga di meriahkan oleh beberapa Perguruan silat_yaitu Perguruan IPS Ranting Elimanirihu, Persinas ASAD Kota Ambon dan Tapak Suci Kota Ambon. (SM)