Oleh: Nardi Maruapey*

 

SABUROmedia, Ambon – Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan kecepatan informasi yang sepaket ini sebagai suatu fenomena empirik-rasional mesti direspon dengan baik dan benar. Baik untuk tidak tertinggal dan benar untuk tidak tergusur dari zaman.

Pergeseran zaman dari waktu ke waktu merupakan awal berkembangnya ilmu pengetahuan manusia dari hasil kontemplasi dan perenungan yang mendalam melalui logika yang kuat (strong logic), pikiran yang universal (universal mind) serta moral etik yang baik (good ethical moral).

Dari situ kita mengenal para filsuf, ilmuwan, sekaligus pemikir pada setiap masanya baik dari Barat maupun Timur. Ada Thales, Socrates, Aristoteles, Plato (masa klasik) — ada Thamos Aquinas, Galileo, Copernicus (abad pertengahan) — ada Immanuel Kant, Marx, Comte, John Locke, Betrand Russel, Thomas Kuhn, Sartre (zaman modern-kontemporer) yang mewakili Barat. Sedangkan dari Timur, ada Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Ghazali, dan yang lainnya. Mereka semua adalah manusia-manusia yang sangat intens berpikir, membaca, saling bertukar pikir ide dan semuanya yang menyangkut dengan berliterasi.

Dari mereka pula, kita akan belajar dan memahami betul bagaimana cara merespon zaman serta menaklukannya hanya dengan menggunakan kebebasan kita sebagai manusia yang fitrahnya adalah makhluk yang berpikir (a thinking being) serta mampu berupaya beradaptasi untuk memyesuaikan diri dengan berbagai macam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Gerakan Literasi

Literasi pada hakikatnya adalah upaya untuk mengaktifkan pikiran lewat kemampuan membaca dan bernalar secara kritis dan mendalam. Dalam fungsinya, literasi mampu memengaruhi pemikiran seseorang, menumbuhkan budaya kritis hingga melahirkan masyarakat yang cerdas dan memiliki daya saing.

Awalnya, literasi dimaknai hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Seperti dapat dilihat dari defenisi yang dikemukakan Harvey J. Graff (2006) bahwa literasi ialah suatu kemampuan dalam diri seseorang untuk menulis dan membaca.

Namun, pemaknaan itu mengalami perkembangan menjadi lebih universal. Sehingga pada hakikatnya ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis.

Seperti National Institute for Literacy yang mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Defenisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual.

Memaknai literasi secara serius akan menjadi awal untuk mengilhami gerakan dalam menumbuh kembangkan literasi itu sendiri agar dapat menjadi sebuah budaya baru sebagai respon terhadap dinamika perkembangan zaman. Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berpikir yang diikuti proses membaca menulis, yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam proses kegiatan tersebut menciptakan karya dan manusia bisa lebih kreatif lewat gerakan literasi.

Gerakan literasi merupakan upaya manusia  untuk bergerak mencapai kesadaran–dan menuju ke tingkatan akhir kesadaran kita yakni kesadaran kritis dari tiga kesadaran manusia menurut Paulo Freire yaitu kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis. Gerakan literasi akan menghendaki manusia untuk sampai ke sana. Dalam The Literacy and Numeracy Secretariat (2009) menyatakan bahwa literasi pada akhirnya mampu membentuk masyarakat yang kritis dan mambantu memersiapkan seseorang hidup dalam masyarakat berpengetahuan.

Pola Pikir

Pola pikir/paradigma manusia senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi yang sedang berkembang. Sebab, pikiran manusia pada dasarnya tidak terbatas baik oleh ruang dan waktu. Tetapi, ada juga yang masih mengalami stagnansi yakni sebuah kondisi dimana tidak ada sedikitpun pergeseran menuju perkembangan dari pemikiran seseorang.

Hal di atas menunjukan bahwa masih adanya keterlambatan dalam merespon perkembangan zaman dengan menggunakan akal pikir. Sehingga dalam merespon zaman yang penuh dengan kecanggihan ini membutuhkan pola pikir aktif dan dinamis. Bahwa pola pikir/paradigma kita harus ditingkatkan tarafnya.

Dengan peningkatan itulah kita akan senantiasa mengalami kemajuan untuk merespon perkembangan zaman yang tidak pernah berhenti ini. Perubahan pola pikir juga akan berdampak pada tingkah laku ataupun tindakan yang diambil.

Kecerdasan Manusia

Kecerdasan manusia pada prinsipnya tidak terlahir secara alamiah atau tidak secara turun temurun (geneologis), ayahnya cerdas lalu anaknya juga akan cerdas. Tidak seperti itu. Tetapi kecerdasan manusia terbentuk dari sebuah proses, bahwa seberapa banyak dan giat dia belajar untuk mengasah kecerdasannya itu.

Dengan semangat membaca yang kuat dan keinginan belajar yang massif serta secara intens melakukan gerakan-gerakan literasi dapat diharapkan itu menjadi proses yang baik dalam membentuk kecerdasan kita sebagai manusia seutuhnya.

Kecerdasan manusia adalah kombinasi dari berbagai kemampuan umum dan spesifik. Sehingga dengan berbekal kecerdasan ini pula manusia mampu memahami segala fenomena kehidupan secara mendalam. Termasuk untuk memahami perkembangan zaman yang bersandar pada nilai (values) ilmu-pengetahuan.

Menuju Peradaban

Perkembangan peradaban tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan. Dan munculnya konsep dan gerakan literasi merupakan upaya nyata dalam memaknai secara mendalam ilmu pengetahuan itu. Dengan kata lain, literasi merupakan media untuk menuju sebuah peradaban.

Literasi adalah pembuka jendela dunia. Melalui literasi kita mampu melihat luasnya Dunia dengan segala isi dan warna-warninya. Lewat literasi pula siapa pun mampu melihat, membaca, dan mendengar, bahkan merasakan dunia ini secara terang dan nyata.

Tak salah kiranya apabila literasi harus digalakkan dan dimasyarakatkan sehingga kita mampu membangun peradaban bangsa yang madani. Secara substansi, dengan literasi bisa membuat kita harus tiba sebagai manusia baik secara individu maupun kelompok ke puncak peradaban yang paling hakiki yakni berusaha menuju kebenaran yang paling mutlak.

*Penulis adalah Wasekum PA HMI Badko Mal-Malut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *