Oleh: Pendeta Dr John Ruhulessin (Mantan Ketua Sinode GPM)

SABUROmedia, Ambon – Pada kesempatan ini saya hendak berefleksi tentang sebuah ungkapan yang kadang salah dimengerti oleh banyak orang. Ungkapan itu adalah “cerdik seperti ular tulus seperti merpati”. Saya hendak merefleksikan ungkapan tersebut dalam kaitannya dengan tugas kemanusiaan kita yakni menghadirkan kemaslahatan bagi semua orang dan semua ciptaan. Hal ini penting agar kita tidak terjebak dalam fanatisme sempit melainkan selalu terbuka untuk dialog dan saling kerjasama lintas agama, suku bahkan lintas bangsa dan benua.

Kita tahu dalil yang sangat terkenal.: ” Lihat, Aku mengutua kamu seperti domba ke tengah tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

Apa artinya dan maknanya? Pertama,  Tuhan mau supaya kita kudus dalam seluruh hidup kita. IA mau supaya kita sempurna. 100 persen sempurna, tidak ada karting. Kedua, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah tengah serigala. Itulah situasi kita yang riil. Situasi yang sulit dan rumit : termasuk pandemic kovid 19, dan seterusnya . Karenanya harus tetap jadi domba. Tidak boleh menarik diri dari dunia yang sulit itu. Dalam situasi yg sulit itu jangan berubah jadi serigala. Tetap hidup hidup kudus, beriman.dan jangan jadi buas seperti serigala.

Yang berikut Tuhan mau agar kita jangan menjadi sasaran atau korban serigala. Tuhan tidak ingin kita  laksanakan misi bunuh diri. kita diutus utk melaksanakan misi karnanya kita harus Kisa bertahan dan jangan jadi bulan bulanan. Karnanya Yesus bilang; hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kedua duanya harus kita ambil. Tidak boleh cuma cerdik seperti ular. Kalau ini saja yang kita ambil kita tidak beda dengan serigala.Tetapi kita juga tidak boleh cuma tulus seperti merpati. Kalau ini saja yang kita ambil kita akan dimakan oleh serigala.

Jadi cerdik tapi tulus, tulus tapi cerdik. Ini yang akan buat kita bertahan di tengah serigala.

Cerdik itu apa? Bukan pintar: tapi ulet, tidak gampang menyerah tidak gampang putus asa. Ingat cerita Abunawas atau cerita Kancil yang lemah sering berada dalam situasi sulit tapi selalu cerdik dan tidak gampang menyerah, tahu waktu (timing) yang tepat. Hal berikut dari cerdik adalah putar otak, cari akal bagaimana caranya supaya bisa lolos dari situasi sulit. Jangan menantang arus, badai dan ombak. Cerdik dua duanya: tidak mau menyerah dan cari akal, jangan nekad saja. Tapi putar otak.

Jadi ini soal integritas dan komitmen. Soal keseriusan. Kita harus serius dengan iman kita. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati artinya dalam batas tertentu mungkin kita ikut arus, menampilkan keteladanan sebaik baiknya tetapi sampai pada titik tertentu, juga mesti tegar berani mengatakan TIDAK demi keyakinan iman kita. Seperti domba ke tengah serigala, jangan sok jagoan,  kita HARUS REALISTIK. Kalau karena keterbatasan kita belum mampu kalahkan dunia, bertahanlah agar dunia tidak mengalahkan kita. Kalau pun serigala itu tidak tidak dapat kita ubah jadi domba, berjuanglah agar paling sedikit kita tidak berubah jadi serigala.

Di tengah badai pandemic kovid 19 saat ini sebagai orang beriman kita mesti tetap optimis. Kita tidak boleh mudah menyerah dan pasrah kepada keadaan. Kita harus terus disiplin dan mencari cara-cara kreatif dan baru untuk menyesuaikan diri dengan realitas baru saat ini. Selain protokol medis seperti cuci tangan, pake masker dan jaga jarak, maka kita juga perlu memperhatika protokoler iman yakni berdoa dan saling peduli. Doakankah kesejahteraan bangsa dan dunia ini, seperti kata nabi Yeremia. Demikian pula hiduplah saling peduli dan berbagi lintas batas agama, suku, ras dan lainnya. Ingatlah kata-kata Yesus “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Tuhan memberkati kita semua. Amin (RR)