SABUROmedia, – 1. Fatwa MUI th. 2000 yg intinya tdk membenarkan shalat jum’at 2 gelombang, bhw fatwa ini pada mulanya menjawab permintaan fatwa (استفتاء) dunia usaha/industri pabrik (agar proses industri tidak berhenti) bagaimana kl shalat jum’atnya 2 gelombang sehingga terjadi giliran. Fatwa itu menjawab dengan suasana pemikiran tidak darurat (ضرورة) dan jangan sampai menggampangkan (تسهيل) demi mengejar keuntungan dunia. suasana pemikiran itu hrs dipahami sebagai semacam asal mulanya fatwa itu (اسباب الورود), agar tdk dipahami apa adanya.

2.  Meskipun demikian, th. 2001 (tanpa kondisi darurat) MUI DKI mengeluarkan fatwa justru sebaliknya, walaupun di antara anggota pimpinan MUI DKI adalah juga anggota di MUI pusat. Apa terjadi تسهيل (menggampangkan)? Itu sangat tergantung bagaimana seseorang menimbang lalu menyebutkannya.

3. Kemarin MUI DKI kemarin (2 Juni 2020) mengeluarkan fatwa lbh khusus lg yaitu terkait pelaksanaan shalat Jum’at dalam masa pandemik Covid-19. Isinya bhw *shalat Jum’at 2 gelombang/shift itu diboleh dan cara itu sah menurut Fiqh Islam.

4. DMI lbh dahulu mengeluarkan Edaran ke-III yg pada intinya berisi panduan, bukan fatwa, yg sebelumnya juga didiskusikan mendalam dipimpin Pak JK langsung dengan bbrp kyai (di antaranya jg anggota MUI Pusat).

5. Untuk sekedar lebih menyakinkan:

A. Dengan merujuk juga pada EDARAN  DMI  I dan II bagi yang ingin tetap mengganti jum’atan dengan shalat zhuhr di rumah masung-masing dipersilakan;

B. Dalam masa the New Normal DMI, dengan EDARAN ke-III, memberi panduan bahwa karena darurat maka masjid yg jamaahnya melimpah di daerah merah terpapar Corona-19 yg padat penduduk bisa melajsanakan Jum’atan 2 gelombang dengan ketentuan sebagaimana telah disebutkan dalam EDARAN itu;

C EDARAN ke-III, mengandung dasar pemikiran:

● kondisi darurat yaitu duberkakukan the New Normal yaitu pola hidup normal baru dengan kebiasaannya baru yg berbeda dengan yg biasa pada masa sebelum Covid-19;

●karena tetap ada bahaya dan resikonya, maka termasuk pola berjamaah (kebersamaan) di masjid dan peribadatan pun memasuki pola baru yg sebelumnya tdk terjadi, misalnya Shalat Jum’at dengan 2 gelombang; ●mempedimani perintah syari’at (al-Qur’an, surah ke-63, al-Jumu’ah; 9 dan Sunnah Nabi), tujuan2 utama Syari’at (مقاصد الشريعة), menjaga keselamatan 5 kategori (الأحكام الخمسة) di antaranya: menjaga keselamatan jiwa (حفظ النفس), dan teori2 hukum dalam Islam (أصول الفقه)، cara mengaplikasikan teori/dalil (استدلال)، dan pandangan hukum praktis (الارآء الفقهية) oleh kalangan ulama, serta pertimbangan kondisi memaksa (الضرورة): melaksanakan kewajiban syar’i dan tetap dilanjutkan syi’ar Islam dalam masjid walaupun dalam bahaya, antusiasme jama’ah yang sudah ingin ke masjid,  maka ada pilihan bahwa bisa tetap shalat Jum’at di masjid tetapi dengan JAGA JARAK. Karena JAGA JARAK berimplikasi menurunnya daya tampung masjid, maka Jum’atan dapat dilaksanakan dalam 2 gelombang agar umat yang kepingin Jum’atan bisa melaksanakan dengan lbh aman ( حفظ النفس). Pandangan terakhir ini sepenuhnya adalah pandangan fiqh dan para ulama berpendapat dalam berbagai nuansa pemikirannya. Kalau Syari’at itu adalah perintah Alllah dan Rasulu’llah atau perintah  Allah saja atau Rasulu’llah saja, maka Fiqh adalah manual/petunjuk praktis yg isinya pemikiran ulama ttg bagaimana Syari’at itu dilaksanakan. Demikian penjelasan, diharapkan dapat mengurangi kegamangan. Salam/sekjen DMI: imam addaruqutni. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *