SABUROmedia, SBB — Bentrokan antara warga Negeri Lisabata dan Negeri Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), yang terjadi pada Jumat (11/09/2026) menyisakan luka mendalam bagi kedua komunitas.

Selain kerugian material berupa puluhan rumah yang terbakar, insiden tersebut juga memunculkan perdebatan publik terkait temuan benda yang diduga selongsong peluru di sekitar lokasi konflik.

Temuan yang pertama kali diberitakan dan beredar di media sosial itu memunculkan berbagai spekulasi, termasuk dugaan keterlibatan warga Lisabata dalam penggunaan senjata api. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum yang menyimpulkan asal-usul maupun kepemilikan benda yang ditemukan tersebut.

Di tengah berkembangnya opini publik, fakta lain yang muncul justru menunjukkan bahwa korban luka akibat tembakan berasal dari pihak Lisabata. Informasi itu disampaikan Abubakar Pullu, warga Lisabata, yang mengungkapkan bahwa sedikitnya empat warga mengalami luka tembak dalam bentrokan tersebut.

Mereka adalah Kamil Pulu yang sempat menjalani perawatan di RSUD Piru, Mochlis Pattilouw yang dirujuk ke RSUP Leimena Ambon untuk menjalani operasi, serta Samsul Pulu dan Julfikar Ohorela yang menjalani perawatan di kampung halaman.

“ Kalau ada yang menuduh selongsong peluru itu milik warga Lisabata, itu harus dibuktikan. Faktanya justru ada empat warga Lisabata yang menjadi korban tembakan dan satu harus dirujuk ke Ambon untuk operasi,” kata Abubakar.

Menurutnya, hingga saat ini tidak ada informasi maupun temuan yang menunjukkan keberadaan senjata api di kalangan warga Lisabata. Karena itu, ia meminta publik tidak terburu-buru mengaitkan temuan benda yang diduga selongsong peluru dengan masyarakat Lisabata sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan aparat.

Abubakar menjelaskan, konflik bermula dari kebakaran lahan kebun milik warga Lisabata di kawasan Dusun Sisiulu. Sebelum bentrokan pecah, warga Lisabata disebut sempat melakukan konfirmasi kepada warga Patahuwe terkait kebakaran tersebut. Dia bilang, kejadian pengrusakan seperti ini bukan baru sekali terjadi. Sudah berkali kali. Bahkan pernah dilaporan pengrusakan lahan dan tanaman warga ke Polsek Taniwel tapi tidak ada kejelasan proses.

Lanjut dijelaskan soal konfirmasi, dalam komunikasi yang berlangsung pada sore hari menjelang insiden itu, warga Patahuwe disebut menyampaikan tidak mengetahui penyebab kebakaran lahan cengkeh dan tanaman milik warga Lisabata. Namun situasi kembali memanas setelah muncul titik asap baru di lokasi berbeda yang masih berada di kawasan kebun.

Kemunculan asap tersebut memicu kecurigaan sebagian warga Lisabata bahwa kebakaran terjadi secara sengaja. Kecurigaan itu kemudian berkembang menjadi kemarahan yang berujung pada bentrokan antarkelompok warga.

“ Katong biasa pi siram tanaman pagi pagi sampe siang. Karena kemarin hari Jumat jadi harus pulang untuk ibadah Jumat. Semua normal saat itu. Tidak ada tanda tanda. Tapi abis jumatan ada kebakaran. kan aneh,” akuinya.

Abubakar juga mengatakan upaya mediasi dan perdamaian yang dilakukan Kapolda Maluku, Pangdam XV/Pattimura, serta unsur Pemerintah Kabupaten SBB pada Jumat malam belum sepenuhnya meredakan ketegangan di lapangan.

Menurut dia, pada Sabtu (12/09/2026), sehari setelah bentrokan, masih terjadi dugaan perusakan terhadap lahan milik warga Lisabata. Sejumlah tanaman produktif, termasuk pohon cengkeh dan tanaman perkebunan lainnya, disebut ditebang oleh oknum yang belum diketahui identitasnya.

“ Kami menghargai langkah mediasi yang dilakukan Kapolda, Pangdam dan pemerintah daerah. Tetapi menurut kami, upaya itu belum sepenuhnya berdampak di lapangan karena pada Sabtu masih terjadi perusakan di lahan warga Lisabata. Sejumlah tanaman cengkeh dan tanaman lainnya ditebang,” ujar Abubakar.

Ia berharap aparat tidak hanya memastikan keamanan pascabentrokan, tetapi juga mengusut berbagai peristiwa yang terjadi sebelum maupun sesudah bentrokan. Menurutnya, penanganan yang menyeluruh diperlukan agar tidak ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil dan agar konflik tidak kembali meluas.

Di sisi lain, dampak konflik juga dirasakan masyarakat Patahuwe. Berdasarkan data yang disampaikan aparat kepolisian, sedikitnya 27 rumah warga dan satu unit sepeda motor terbakar dalam peristiwa tersebut. Sejumlah fasilitas masyarakat juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Kapolda Maluku Irjen Pol Dadang Hartanto sebelumnya menjelaskan bahwa bentrokan bermula dari kebakaran lahan yang kemudian berkembang menjadi kesalahpahaman dan ketegangan antara warga kedua negeri.

“ Dalam bentrok itu, sebanyak 27 rumah warga dan satu motor terbakar. Peristiwa tersebut juga menyebabkan empat warga dari salah satu desa mengalami luka akibat terkena tembakan senjata angin,” ujar Kapolda dalam keterangan resminya.

Keterangan kepolisian juga menyebutkan bahwa luka tembak yang dialami para korban berasal dari senapan angin atau senapan tabung. Informasi resmi tersebut menjadi penting karena berbeda dengan spekulasi yang berkembang terkait dugaan penggunaan senjata api yang meninggalkan selongsong peluru konvensional.

Hingga kini, polisi masih melakukan pendalaman terhadap berbagai temuan di lokasi konflik, termasuk benda yang diduga selongsong peluru. Aparat diminta mengungkap secara transparan hasil pemeriksaan terhadap temuan tersebut agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.

Sementara itu, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto bersama Kapolda Maluku telah turun langsung ke lokasi konflik untuk memastikan kondisi keamanan tetap terkendali. TNI dan Polri juga terus melakukan langkah-langkah pengamanan serta mendorong rekonsiliasi guna mencegah munculnya konflik lanjutan.

Saat ini situasi di Kecamatan Taniwel dilaporkan berangsur kondusif. Namun berbagai pertanyaan mengenai penyebab pasti bentrokan, sumber tembakan yang melukai warga, dugaan perusakan lahan pascabentrokan, serta asal-usul benda yang diduga selongsong peluru masih menjadi pekerjaan rumah yang menunggu jawaban resmi dari aparat penegak hukum. (SM)