SABUROmedia, Sulsel – Tiga gempa kuat terjadi dalam sehari pada 15 Agustus kemarin. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa tidak ada korelasi langsung soal tiga gempa tersebut.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa tiga gempa kuat terjadi di NTT, Simalungun hingga Parigi. Namun, berdasarkan analisisnya, ketiganya tiga berkorelasi langsung.
“Tidak ada korelasi langsung. Ketiga gempa yaitu NTT M 7,7 akibat Sesar Back Arc Thrust Flores, Simalungun M 6,4 akibat Subduksi Lempeng Indo-Australia, dan Parigi Moutong M 5,9 akibat Deformasi Dalam Lempeng Laut Sulawesi terjadi di 3 sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. Secara mekanis tidak saling memicu,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (16/08/2026).
Bencana gempa yang melanda NTT ini, juga menjadi perhatian serius dalam Rapat Kerja Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Timur Indonesia (KPTN-KTI) yang digelar di UNHAS Hotel dan Convention, Makassar, pada Rabu (19/08/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi perguruan tinggi negeri di kawasan Indonesia Timur untuk memperkuat koordinasi sekaligus membangun solidaritas akademik dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul di kawasan, termasuk dampak bencana alam.
Rektor Universitas Pattimura (Unpatti), Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., yang juga menjabat Ketua Konsorsium KPTN-KTI, mengambil peran penting dalam mengonsolidasikan kekuatan perguruan tinggi negeri di kawasan Indonesia Timur.
Konsorsium KPTN-KTI menaungi 46 perguruan tinggi yang tersebar di kawasan Indonesia Timur. Karena itu, rapat kerja tersebut tidak sekadar menjadi agenda organisasi atau pertemuan rutin antarpimpinan perguruan tinggi.
Lebih jauh, forum ini menjadi ruang untuk membicarakan arah masa depan pendidikan di kawasan yang memiliki karakter geografis, sosial, ekonomi, serta tingkat kerawanan bencana yang beragam.
Salah satu pembahasan penting menyangkut sinergi dan peluang pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung hilirisasi industri mineral. Perguruan tinggi juga didorong untuk membaca kebutuhan dunia industri sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan menuju Indonesia 2045.
Namun, di antara berbagai agenda strategis tersebut, dampak gempa bumi di NTT terhadap dunia pendidikan mendapat perhatian khusus.
Bencana tidak hanya meninggalkan persoalan pada bangunan dan fasilitas pendidikan. Lebih dari itu, bencana dapat mengganggu proses pembelajaran, memengaruhi kondisi mahasiswa dan tenaga pendidik, hingga membatasi akses masyarakat terhadap pendidikan.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan kepedulian dan respons bersama dari perguruan tinggi di kawasan Indonesia Timur.
Menurutnya, keberadaan 46 perguruan tinggi dalam KPTN-KTI harus menjadi kekuatan bersama untuk membangun sistem pendidikan yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menegaskan, konsorsium tersebut tidak boleh berhenti pada forum pertemuan antarrektor. Kekuatan yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi harus dapat disatukan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi kawasan.
“Konsorsium ini bukan sekadar forum pertemuan antar-rektor. Ini adalah ruang untuk menyatukan kekuatan, pengetahuan, dan sumber daya. Kita ingin perguruan tinggi di Indonesia Timur menjadi kekuatan bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ucapnya.
Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan pembangunan kawasan Indonesia Timur yang terus berkembang.
Kebutuhan tersebut semakin penting di tengah perubahan ekonomi, perkembangan industri, tuntutan hilirisasi sumber daya alam, serta berbagai persoalan sosial dan kebencanaan yang dihadapi masyarakat.
Rapat kerja KPTN-KTI di Makassar akhirnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat “satu kawasan, satu gerakan, dan satu komitmen” dalam membangun pendidikan di Indonesia Timur.
Di tengah tantangan kebencanaan, ketimpangan akses pendidikan, serta tuntutan hilirisasi dan transformasi ekonomi, perguruan tinggi di kawasan timur dituntut untuk tidak berjalan sendiri-sendiri.
Masa depan kawasan juga ditentukan oleh seberapa kuat pendidikan dibangun, seberapa tangguh sumber daya manusianya disiapkan, dan seberapa jauh perguruan tinggi mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Pesan itulah yang mengemuka dari pertemuan tersebut: ketika bencana datang dan tantangan semakin besar, pendidikan tidak boleh ikut berhenti (SM)