SABUROmedia, Ambon — Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., menegaskan tidak boleh ada kekerasan maupun praktik perundungan dalam pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026. Dimana sebanyak 5.846 mahasiswa baru akan mengikuti PKKMB Unpatti yang dijadwalkan berlangsung mulai 27 Agustus hingga 7 September 2026.

Hal ini disampaikan Rektor Unpatti melalui konferensi pers PKKMB 2026 di Kampus Unpatti Ambon, Kamis (27/08/2026).

Beliau mengatakan, sejak awal pihak Universitas telah memberikan penekanan kepada seluruh panitia, baik di tingkat rektorat maupun fakultas, agar tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap mahasiswa baru.

“Tidak boleh ada kekerasan dalam proses PKKMB ini, apakah di rektorat ataupun di fakultas. Kemudian harus edukatif,” tegasnya.

Menurutnya, mahasiswa perlu diperkenalkan dengan sistem akademik, tata tertib kampus, serta berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan sebagai mahasiswa.

“ Harus menjelaskan lebih banyak soal akademik, persiapan-persiapan mereka untuk masuk dalam proses, dan mereka tidak boleh istilahnya seperti dulu kita bilang plonco,” tuturnya.

Besarnya jumlah peserta membuat Unpatti menerapkan pola pelaksanaan yang dibagi ke tingkat fakultas. Kebijakan ini dinilai lebih efektif karena mahasiswa dapat mengikuti kegiatan dalam kelompok yang lebih kecil sehingga pengawasan terhadap peserta juga dapat dilakukan secara maksimal.

Selain kegiatan secara langsung, sebagian peserta juga akan mengikuti rangkaian PKKMB melalui sistem daring. Universitas telah menyiapkan dukungan pusat data dan infrastruktur komunikasi untuk menunjang pelaksanaan kegiatan tersebut.

Fredy menjelaskan, pembagian peserta ke masing-masing fakultas juga mempertimbangkan keterbatasan daya tampung fasilitas universitas. Kapasitas tempat duduk yang tersedia mencapai sekitar 7.109, sementara jumlah mahasiswa baru tahun ini sebanyak 5.846 orang.

“Pada hari kedua kita sudah bagi ke fakultas, sehingga jumlah mahasiswa di masing-masing fakultas itu lebih sedikit,” ujarnya.

Untuk memastikan mahasiswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara serius, Unpatti juga menerapkan evaluasi. Sistem tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi salah satu indikator untuk melihat kepatuhan mahasiswa terhadap ketentuan PKKMB.

Menurut dia, orientasi mahasiswa baru tidak boleh lagi menggunakan pola lama yang identik dengan perpeloncoan. Sebaliknya, mahasiswa baru harus mendapatkan pemahaman mengenai kehidupan akademik, tata tertib, serta berbagai persiapan sebelum menjalani proses perkuliahan.

Fredy berharap mahasiswa baru dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun karakter, mengenal lingkungan akademik, serta mempersiapkan diri menghadapi tuntutan pendidikan tinggi.

Ia juga memastikan pelaksanaan PKKMB tidak mengganggu agenda perkuliahan karena kegiatan akademik telah memiliki jadwal tersendiri.

“ PKKMB ini harus menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan kampus dan mempersiapkan diri mengikuti proses akademik,” pungkasnya. (SM)